68 Tenaga Kesehatan Meninggal Karena Covid-19

MedikaStar.com

Sampai dengan 23 Juni 2020, jumlah tenagan kesehatan di Indonesia yang meninggal karena Covid-19 sebanyak 68 orang. Tenaga kesehatan itu terdiri dari 38 dokter dan 30 perawat.

Kematian para tenaga kesehatan Indonesia menjadi perhatian serius Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk melakukan langkah investigasi dan mitigasi.

Wakil Ketua Umum PB IDI, dr Adib Khumaidi, menyebutkan beberapa hal yang perlu menjadi catatan bagi tenaga kesehatan dalam konteks penularan Covid-19. Salah satunya adalah mengingatkan tenaga kesehatan bagaimana cara mengenakan dan melepaskan APD dengan benar.

“Ada tahapannya, mana yang harus dilepas terlebih dahulu, sampai sesudahnya nakes tidak boleh memegang apa-apa lagi sampai setelah cuci tangan, karena sumber virusnya ada di tangan kita,” jelasnya seperti dilansir Tempo.co.

Dr Adib menambahkan, pihak rumah sakit juga perlu menyediakan ruang ganti khusus APD, karena berpotensi menjadi sumber penularan di rumah sakit.

Sementara menurut Asep Gunawan dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), kelengkapan APD bagi para perawat di poliklinik atau ruang praktik biasa masih sering diabaikan.

Padahal, menurut Asep, banyak kasus penularan yang dilaporkan justru terjadi di poliklinik, bukan di ruangan khusus perawatan Covid-19 yang APD-nya relatif lebih lengkap.

“Menurut data hasil investigasi kami di beberapa daerah, mereka yang meninggal rata-data bertugas di poli, ada yang di poli bedah, poli penyakit dalam.”

“Saat masyarakat datang, kami tidak tahu mereka ODP, PDP, atau positif corona. Perawat yang melayani, ya tanpa APD. Mungkin inilah titik awal penularannya,” jelas Asep.

Terkait hal itu, Bryany Titi Santi, Dosen Kesehatan Masyarakat, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dalam tulisannya di The Conversation Indonesia mengatakan bahwa sesuai panduan WHO, dokter yang menangani pasien non Covid-19 seperti pasien yang rutin kontrol dan poli umum, disarankan memakai masker bedah, kacamata, gaun anti air, dan sarung tangan.

Bryany juga menyarankan agar pemerintah harus memastikan ketersediaan dan distribusi APD di dalam negeri berjalan lancar dan mencukupi, mengontrol harga di pasaran, dan menindak tegas orang atau perusahaan yang mencari keuntungan sendiri dengan menimbun, mengekspor, dan menjual APD dengan harga terlalu tinggi.

Di luar soal APD, dr Adib Khumaidi mengingatkan para nakes yang memiliki penyakit bawaan sebelumnya untuk lebih berhati-hati karena memiliki risiko yang lebih tinggi.

Sejumlah tenaga kesehatan yang meninggal memang diketahui memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, pneumonia, dan jantung. (red)

Baca juga: Hati-hati Peningkatan Kasus DBD di Masa Pandemi