Begini Cara Kerja Tes Massal Corona

MedikaStar.com – Saat ini tes massal Corona sedang berlangsung di beberapa wilayah di Indonesia. Alat untuk tes tersebut juga akan didistribusikan ke wilayah lainnya. Nama dari tes massal yang digunakan ini adalah Rapid Test.

Seperti namanya, tes ini digadang-gadang membutuhkan waktu yang lebih singkat dibanding tes Polymerase Chain Reaction (PCR) yang diterapkan selama ini. Sebelum mengikuti tes tersebut, alangkah baiknya masyarakat mengenal rapid test yang dilakukan secara massal ini.

Dalam masa pandemi seperti sekarang, upaya deteksi dini adalah langkah terbaik yang perlu dilakukan secepatnya. Dikutip dari The Guardian, Dr. Gaetan Burgio dari John Curtin of Medical Research, Univeritas Nasional Australia, mengatakan bahwa deteksi cepat berguna untuk mengurangi jumlah pasien yang tidak perlu ditindaklanjuti. Ia menambahkan di tengah waktu pandemi, ribuan pasien yang dites dalam sehari sangat penting untuk dilakukan.

Rapid test merupakan tes sederhana yang digunakan untuk melakukan screening. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah masyarakat positif terinfeksi virus atau tidak. Bahkan hasilnya bisa keluar dalam waktu 30 menit.

Ahmad Utomo, Principal Investigator SCCRI Jakarta yang diwawancarai oleh CNN Indonesia mengatakan bahwa rapid test berbeda dengan PCR. Rapid test yang dilakukan tidak berfungsi untuk mencari virus partikel atau materi genetik virus seperti yang dilakukan pada PCR.

Yang dicari dari tes ini adalah antibodi terbentuk yang mengenal virus Corona. Antibody dalam tubuh umumnya akan terbentuk dalam waktu satu hingga dua minggu setelah seseorang terinfeksi virus.

Jika tes PCR menggunakan swab atau droplet untuk langsung mengindentifikasi virus dalam tubuh, rapid test menggunakan darah. Ahmad menjelaskan bahwa ada dua macam rapid test, yakni secara kualitatif dan kuantitatif.

Artikel terkait: Tes Massal Covid-19; Belajar dari Korea Selatan

Secara kualitatif, tes tersebut dilakukan secara sederhana seperti tes kehamilan yang bisa langsung dilihat dengan mata telanjang. Lain halnya dengan cara kuantitatif, tes perlu dilakukan di laboratorium.

Indikator seseorang yang bisa mengikuti tes ini adalah orang dalam pemantauan (ODP). ODP adalah orang yang mungkin saja telah memiliki kontak dekat bersama orang yang terinfeksi atau berasal dari daerah infeksi Corona, namun belum menunjukkan gejala. Sedangkan, pasien dalam pengawasan (PDP) yang telah menunjukkan gejala perlu dites dengan metode PCR.

Banyak ahli yang menilai bahwa tes ini bisa saja kurang akurat. Hal ini dikarenakan butuh waktu antara satu sampai dua minggu agar antibody yang mengenal virus bisa terbentuk. Jadi, saat melalui rapid test, bisa saja seseorang dinyatakan negatif. Namun, hal tersebut tidak menjamin bahwa ia terbebas dari virus Corona karena antibodinya belum terbentuk.

Ahmad Yurianto, Jubir Pemerintah untuk Urusan Penanganan Corona menyampaikan bahwa rapid test bersifat screening. Jadi ada follow upnya. Jika seseorang yang dites dinyatakan negatif, ia tetap harus melakukan social distancing.

Alasannya adalah tes cepat ini berfungsi untuk melihat serologi dari Covid-19.  Serologi adalah tes untuk mencari antibody di dalam darah. Jika sekali dites virus belum terdeteksi, maka tujuh hari berikutnya ia perlu dites ulang untuk memastikan apakah virus tersebut benar-benar ada atau tidak. Kalaupun ia dinyatakan negatif, hal ini tidak menjamin di masa depan ia akan terbebas dari virus Corona.

Bagi orang yang dideteksi positif terinfeksi Corona, ia perlu mendapatkan tes PCR lagi. Tujuannya adalah memastikan infeksi virus Corona melalui metode molekuler dengan tingkat sensitivitas yang lebih tinggi dibanding rapid test.

Seperti tujuannya, rapid test berguna untuk mengetahui orang yang positif dan negatif terinfeksi Corona. Tes ini juga harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang khusus ditugaskan. Jadi, jika ada orang yang melakukan jual beli alat tersebut, hal itu telah menyalahi aturan.

Upaya yang tak kalah pentingnya dibanding tes massal adalah pencegahan. Masyarakat yang belum atau telah dites alangkah baiknya tetap menjalankan kebijakan dan rekomendasi yang telah diberikan. Rekomendasi seperti social distancing, serta perilaku hidup bersih dan sehat perlu ditaati secara serius. Dengan begitu, tes yang dilakukan dapat berjalan efektif untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Tes massal dengan metode rapid test adalah salah satu cara untuk menangani pandemi Corona. Dengan mengetahui cara kerjanya, masyarakat dapat mengikuti tes massal ini dengan baik. Selanjutnya, masyarakat juga menyadari bahwa upaya pencegahan sangat penting untuk terus dijalankan. (har)

Baca juga: Mengenal Klorokuin dan Avigan, Obat yang Dipesan Untuk Menangani Covid-19