Body Dysmorphic Disorder

Oleh: dr. Theresia Elisabeth Lintang Suminar

Setiap manusia pasti memiliki kekurangan pada bagian tubuh, seperti bentuk alis yang tidak simetris, bekas jerawat, dan berbagai kekurangn tubuh lainnya, namun biasanya kekurangan pada tubuh ini tidak dijadikan sebagai suatu permasalahan besar dikarenakan hal ini adalah wajar dan merupakan bagian dari ketidaksempurnaan sebagai manusia.

Namun, hal ini akan menjadi berbeda pada penderita Body Dysmorphic Disorder (BDD). Penderita BDD akan merasakan ketidakpuasan terhadap penampilan fisik mereka dan berpikir bahwa tubuhnya memiliki “kecacatan/kekurangan” baik secara nyata maupun imajinasi belaka. Penting bagi mereka untuk berusaha keras agar dapat di terima di masyarakat karena mereka takut apabila “kekurangan” pada tubuh mereka di sadari oleh banyak orang.penderita BDD  BDD merupakan gangguan mental yang ditandai dengan preokupasi terhadap citra tubuh (body image) negatif.

BDD paling sering timbul pada saat remaja dan dewasa. Gejala BDD muncul pada saat remaja atau dewasa muda dan dapat bertahan seumur hidup. Prevalensi timbulnya BDD pada laki-laki maupun perempuan sama besarnya. Bila terjadi pada wanita maka yang cenderung menjadi fokus kekurangan tubuh terletak pada pinggang, berat badan, dan warna kulit sedangkan pada pria berfokus pada otot (muscle dysmorphia), alat kelamin, dan kebotakan rambut.

Penyebab spesifik dari BDD belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa hal yang dapat menyebabkan timbulnya BDD seperti keabnormalan struktur otak atau neurokimia pada penderita, genetik, lingkungan dimana lingkungan bisa menjadi pengaruh yang besar terutama jika lingkungan memberikan penilaian negatif terhadap tubuh atau penampilan seseorang, dan kekerasan atau trauma pada masa lalu.

Ingin Belajar Langsung di Rumah? Klik untuk Terhubung dengan Branded Home Private

Tanda dan gejala seseorang menderita BDD antara lain:

  • Tidak dapat berhenti berpikir/preokupasi mengenai bagian tubuhnya dan percaya bahwa ada yang salah pada bagian tubuhnya, walaupun sebenarnya tubuh mereka normal sempurna. Beberapa bagian tubuh yang sering dipikir berlebihan yaitu bagian wajah, kulit, bentuk tubuh, rambut, organ reproduksi (payudara dan genital). Preokupasi berlangsung minimal 1 jam atau dapat berlangsung sepanjang hari.
  • Adanya prilaku berulang dan kompulsif sebagai respon terhadap ketidaksempurnaan  fisik dan prilaku tersebut tidak bisa di kendalikan oleh penderita. Contohnya rajin berkaca dan mengecek bagian tubuhnya secara konstan, sering mencubit kulit, selalu memastikan bahwa tidak ada yang kurang dalam penampilannya, dan membandingkan penampilan dirinya dengan orang lain.
  • Melakukan berbagai cara dan upaya serta kamuflase untuk mendapatkan penampilan fisik yang diinginkan seperti makeup berlebih, menggunakan baju yang longgar,  hingga melakukan operasi plastik. Penderita selalu mencari namun tidak puas dengan prosedur kosmetik yang dijalankan.
  • Hal tersebut akan mengakibatkan timbulnya gangguan yang bermakna pada kehidupan sosial, pekerjaan, sekolah, dan area lain dalam kehidupan penderita BDD.
  • Tidak ada penyakit lain yang dapat ditemukan pada penderita yang dapat menyebabkan kelainan ini.

Penanganan BDD dilakukan oleh psikiater. Penanganannya dengan psikoterapi, obat-obatan maupun kombinasi keduanya. Psikoterapi dilakukan dengan melakukan konseling dan terapi suportif untuk menggali permasalahan yang mendasari gangguan yang dialami, mencarai jalan keluar dari permasalahan dan menolong penderita untuk dapat meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang salah dengan bagian tubuhnya. Keluarga juga sering kali dilibatkan dalam pengobatan.

Pemberian obat-obatan menggunakan obat anti depresan yang akan menhambat penyerapan senyawa serotonin atau selective serotonin reuptake inhibitor /SSRIs. Obat ini berfungsi mengnedalikan prilaku yang berulang dan obsesif penderita BDD. Efek samping yang umumnya muncul adalah sakit kepala dan mual.

Jika tidak di tangani dengan baik, BDD cenderung akan memburuk dan dapat berujung pada kecemasan bahkan depresi, serta bisa menimbulkan gangguan lain seperti gangguan makan, gangguan obsesi kompulsif, penyalahgunaan zat terlarang, hingga pemikiran atau prilaku bunuh diri.

Berbagai jenis modifikasi gaya hidup bisa dilakukan oleh penderita agar tidak menambah derajat keparahan dan mengontrol gejala yang timbul seperti :

  • Menerima dan meyakini bahwa tubuhnya sehat, dan sempurna serta selalu berbpikir positif terhadap bentuk tubuh dan kesehatan
  • Menghindari narkoba dan alcohol karena bisa mempeburuk gejala maupun interaksi obat
  • Rutin melakukan aktivitas fisik dan latihan, baik untuk mengontrol gejala yang timbul pada BDD. Namunsebaiknya  hindari aktivitas fisik atau latihan yang ditujukan untuk memperbaiki kekurangn fisik yang dirasa mengganggu.
  • Konsisten dalam menjalani terapi dan minum obat secara rutin dan teratur sesuai petunjuk dokter untuk mengurangi kekambuhan yang mungkin terjadi.  

Kesadaran akan BDD masih sangat minim di masyarakat. Tak banyak yang berani mengakui lantaran pada umumnya gangguan mental masih memiliki stigma buruk di masyarakat. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, BDD cenderung memburuk bahkan sampai menimbulkan pemikiran bahkan tindakan bunuh diri. Bagaimanapun juga, gangguan mental termasuk BDD tak jauh berbeda dengan penyakit biasa yang membutuhkan pengobatan. Janganlah ragu untuk memeriksakan kesehatan mental ke psikiater untuk kesehatan mental yang lebih baik, karena kesehatan mental merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Keduanya harus sama-sama dijaga karena tidak ada kesehatan yang paripurna tanpa kesehatan mental. No Health Without Mental Health, salam sehat jiwa.  (*)

Baca Juga: Hipertensi, Penyebab Kematian Nomor 1 di Dunia Setiap Tahunnya

Video:

57 Mahasiswa Stikes Maranatha Kupang Peroleh Sertifikat Pelatihan PPGDON

Advertisement