Dampak Covid-19, Ekonomi NTT 2020 Diperkirakan Hanya di Kisaran 2,95-3,35 Persen

Kota Kupang, MedikaStar.com

Pandemi Covid-19 tidak hanya menimbulkan dampak kesehatan tetapi juga memukul sektor ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada tahun 2020 ini, menurut proyeksi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, hanya berada di kisaran 2,95 sampai 3,35%. Angka ini menurun dari tahun 2019 yang sebesar 5,20%.

Kepala Perwakilan BI NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja, dalam rapat online dengan para stakeholder dan media, Selasa (19/5), menjelaskan, penurunan pertumbuhan ekonomi ini dapat dinilai dari dua aspek, yakni pengeluaran dan kinerja lapangan usaha.

Dari sisi pengeluaran, terdapat empat faktor yang menjadi berpengaruh terhadap menurunnya pertumbuhan ekonomi. Pertama, menurunnya pendapatan dan daya beli masyarakat  akibat kebijakan physical distancing. Kedua, menurunnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Transfer Keuangan Dana Desa (TKDD) yang sebesar 10, 21%.

Ketiga, posisi sektor swasta yang masih menunggu dan melihat (wait and see), didukung kapasitas produksi mencukupi serta pelemahan ekonomi investor asing. Dan keempat, turunnya wisatawan mancanegara dan ekspor-impor barang akibat pembatasan akses untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Sementara itu, dari sisi lapangan usaha, hampir semua sektor mengalami penurunan, kecuali jasa kesehatan dan kegiatan sosial serta informasi dan komunikasi.

Penurunan kinerja sektor pertanian disebabkan oleh virus flu babi Afrika (ASF) dan rendahnya curah hujan. Penurunan sektor perdagangan disebabkan karena penerapan physical distancing, penutupan PLBN, penurunan jumlah wisatawan, penundaan Pilkada serentak, penundaan proyek pemerintah tahun anggaran 2020, serta risiko tertundanya realisasi investasi bangunan swasta baik dalam maupun luar negeri.

Sektor transportasi juga mengalami penurunan karena pembatasan moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara. Sementara sektor akomodasi dan makan minum mengalami penurunan karena pembatasan kunjungan wisatawan dan penutupan objek wisata, serta pelarangan restoran/rumah makan melayani makan di tempat.

Penurunan pengeluaran dan kinerja lapangan usaha ini sudah terbaca melalui angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun 2020 yang hanya sebesar 2,84%.

“Perlambatan  ini diprakirakan berlanjut pada triwulan II 2020 dan membaik pada triwulan III dan triwulan IV 2020, dengan asumsi pelonggaran kebijakan physical distancing telah dimulai pada triwulan III 2020,” kata Nyoman.

Secara nasional, menurut Kepala Kantor Keuangan Provinsi NTT, Lydia Kurniawati Christyana, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga mengalami koreksi. Sebelum adanya pandemi Covid-19 atau sesuai APBN 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sebesar 5,3%. Namun, pasca pandemi, ada dua skenario yang diprakirakan, yakni -0,4% (sangat berat) dan 2,3% (berat).

Dua skenario itu berpotensi meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran. Jika sangat berat, jumlah orang miskin bertambah 3,78 juta, sedangkan jumlah penganggur bertambah 5,23 juta orang. Sementara jika berat, ada penambahan sekitar 1,16 juta orang miskin dan 2,92 juta penganggur.

Untuk memitigasi dampak eskalasi Covid-19 dan perlambatan ekonomi pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, kesinambungan dunia usaha, serta stabilitas sektor keuangan, pemerintah telah mengeluarkan Perppu No 1 Tahun 2020.

“Perppu No 1 Tahun 2020 ini merupakan payung hukum untuk mengambil langkah-langkah cepat dan luar biasa serta terkoordinasi untuk menanggapi pandemi Covid-19 agar menjaga pertumbuhan tidak menuju skenario sangat berat,” kata Lydia.

Salah satu langkah cepat dan luar biasa yang diambil pemerintah adalah penambahan belanja APBN 2020 untuk penanganan pandemi sebesar 405,1 triliun. Jumlah itu didistribusikan ke dalam tiga skop pembelanjaan, yakni kesehatan sebesar 75T, jaring pengaman sosial (social safety net) sebesar 110T, dan dukungan untuk dunia usaha sebesar 220,1T.

Ia berharap, realisasi belanja untuk tiga bidang tersebut, terutama jaring pengaman sosial, dilakukan secara cepat, tepat, dan transparan sehingga bisa meminimalisir dampak ekonomi yang besar. (har)

Baca juga: Mengenal Donor Plasma Darah oleh Pasien Covid-19 yang Sembuh