pelatihan mtbs.jpeg

Gandeng Unicef, IBI NTT Gelar Pelatihan bagi Fasilitator MTBS

Kota Kupang, Medikastar.com

Ikatan Bidang Indonesia (IBI) Provinsi NTT bersama Unicef menyelenggarakan kegiatan pelatihan bagi para fasilitator Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan anggota IBI NTT. Kegiatan dilangsungkan secara offline dan online pada 26-27 Agustus 2022 di Hotel T-More Kupang.

Sebanyak 87 peserta dari seluruh kabupaten/kota di NTT terlibat dalam kegiatan yang dibawakan oleh para narasumber lokal dan nasional tersebut. Para peserta juga berasal dari institusi pendidikan, yakni Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang, Stikes Maranatha, Universitas Citra Bangsa, dan Stikes Nusantara.

Kegiatan itu sangat penting dan mendesak karena problem kesehatan balita masih cukup tinggi di NTT. Menurut data Dinas Kesehatan Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi NTT, sepanjang tahun 2021 ada 955 kasus kematian bayi di NTT, 694 merupakan kematian neonatal. Adapun penyebab kasus kematian balita tersebut adalah karena asfiksia (46 persen), pneumonia (64 persen), dan campak (51 persen).

 MTBS merupakan pendekatan terpadu dalam melayani anak yang diamanatkan dalam Permenkes No. 25 Tahun 2014. Namun sayang, MTBS belum banyak diterapkan di Puskesmas-Puskesmas di NTT karena kurangnya pemahaman para tenaga kesehatan dan menggunakan pendekatan ini.

Karena itu, kegiatan ini merupakan bentuk dukungan nyata IBI dan Unicef dalam pelayanan kesehatan bayi dan anak yang lebih baik sesuai standar nasional. Sehingga bayi dan anak NTT bisa mendapatkan haknya untuk dilayani dengan pelayanan kesehatan yang komprehensif, terpadu dan berkualitas.

 Kegiatan itu dibuka oleh Kepala  Dinkes Dukcapil NTT yang diwakili Kabid Kesmas, Iwan Pelokila S.Sos. Hadir juga dalam kegiatan itu Kepala Kantor Unicef Perwakilan NTT- NTB, Yudisthira Yewangoe,BEcs (Hons),MCom) dan Ketua IBI NTT, Damita Palalangan,AMd.Keb,SKM.,M.Hum, serta Program Manager kemitraan IBI NTT bersama UNICEF yakni Tirza V.I Tabelak,SST.,M.Kes. (*)

Baca juga: Mengenal Arti Kata “Sehat” Menurut WHO dan Kemenkes RI