Gangguan Bipolar

Oleh: dr. Theresia Elisabeth Lintang Suminar 

Perubahan suasana hati atau mood yang tidak menentu pasti pernah dialami oleh semua orang. Namun hal ini akan menjadi berbeda pada penderita gangguan bipolar (GB) atau  Bipolar Disorder. Istilah bipolar mengacu pada adanya dua kutub yang melanda mood penderita secara bergantian, yaitu kutub manik dan kutub depresif. Secara medis dijelaskan bahwa gangguan bipolar merupakan gangguan mental yang menyebabkan terjadinya perubahan mood yang drastis, yang mana penderita dapat merasakan episode mood yang sangat bahagia (manik) dan episode mood yang sangat sedih (depresi). Seringkali di antara perubahan mood, pasien tetap mengalami kondisi mood yang normal (eutimia).  Perubahan mood ini berlangsung secara cepat dan ekstrem tanpa pola waktu yang pasti.

Sampai saat ini  penyebab terjadinya gangguan bipolar belum diketahui secara pasti. Beberapa pendapat mengatakan bahwa kondisi ini disebabkan oleh ketidakseimbangan neurotransmitter atau zat pengontrol fungsi otak. Dan ada juga yang berpendapat bahwa gangguan ini berkaitan dengan faktor genetik (keturunan). Faktor lain yang diduga bisa meningkatkan risiko seseorang menderita gangguan bipolar antara lain tingkat stress yang tinggi, pengalaman traumatik, kecanduan alkohol atau obat-obat terlarang, dan riwayat keluarga yang menderita gangguan bipolar atau gangguan mental lain. Bipolar rentan dialami pada usia 15-24 tahun, namun  bisa juga ada terjadi pada usia lanjut yang biasanya disebabkan oleh gangguan fisik.

Saat seseorang terkena gangguan bipolar, ia akan mengalami perasaan emosional yang hebat dan terjadi pada suatu periode tertentu atau dikenal dengan “episode mood”, dimana tiap episode mood menunjukan perubahan drastis dari mood dan perilaku normal orang tersebut. Ada lima jenis episode mood yang dapat dialami  penderita bipolar, yaitu episode mania, hipomania, depresi, campuran, dan eutimia. Penderita bipolar dapat berada dalam keadaan eutimia dalam jangka yang lama tetapi eutimia bukan berarti terjadinya kesembuhan karena kekambuhan dapat terjadi setiap saat tanpa adanya warning sign.

Ada empat jenis bipolar yang mungkin terjadi, antara lain gangguan bipolar I, gangguan bipolar II, gangguan siklotimia, dan gangguan bipolar lain.

  1. Gangguan bipolar I (GB-1) : Penderita GB-1 mengalami paling sedikit satu episode mania atau episode campuran (mania disertai depresi yang berlangsung secara simultan). Pada episode mania, penderita GB akan berada pada puncak mood, sangat bersemangat, tidak bisa tidur, banyak bicara dibanding biasanya, berbicara sangat cepat, gampang teralihkan, rasa percaya diri tinggi, boros, seksualitas yang meningkat, ketidakmampuan mengontrol diri, daya nilai berkurang dan persepsi terhadap diri tidak akurat, bisa juga disertai dengan waham dan halusinasi. Pada episode mania terjadi gangguan fungsi yang nyata dan berlangsung paling sedikit satu minggu.
  2. Gangguan bipolar II : Penderita GB-2 mengalami paling sedikit satu episode depresi berat dan satu episode hipomania, namun tidak pernah mengalami episode mania. Episode depresi paling sedikit berlangsung sekitar dua minggu, ditandai dengan kesedihan, murung, anhedonia (ketidakmampuan untuk merasakan rasa senang), hilangnya minat terhadap aktivitas yang biasanya menyenangkan serta hilangnya tenaga, tidur terganggu, ragu-ragu dan berkurangnya kemampuan berpikir dan konsentrasi. Dalam keadaan berat, berpikir untuk bunuh diri dan kadang melakukan tindakan bunuh diri. Sedangkan episode hipomania memiliki gejala yang sama dengan mania namun dalam taraf yang lebih ringan, gejala tersebut terlihat tidak begitu ekstrem, durasi lebih pendek, dan gangguan fungsi tidak mencolok.
  3. Gangguan siklotimia: merupakan bentuk ringan dari bipolar, dimana terjadi episode hipomania dalam jangka waktu lama diikuti dengan episode depresi ringan. Gejalanya tidak cukup berat untuk memenuhi kriteria episode mania atau depresi mayor.
  4. Gangguan bipolar lain : orang dengan gangguan bipolar yang tak dapat di klasifikasikan, tidak memenuhi criteria diagnostic untuk GB-1, GB-2, maupun siklotimia.

Penanganan penderita dengan gangguan bipolar bertujuan untuk meredakan gejala yang  muncul, dan penanganan tersebut membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu diperlukan kepatuhan pasien, dan pengawasan  dari keluarga serta dokter. Pengobatan terbaik untuk gangguan bipolar adalah kombinasi dari obat-obatan dan psikoterapi. Pemilihan terapi disesuaikan secara individu dan yang diharapkan dari pengobatan ini adalah peningkatan kualitas hidup agar  dapat hidup secara normal dan membaur dengan lingkungan.

Pemberian  obat-obatan untuk menstabilkan mood akan membantu mengurangi gejala yang dialami. Obat mungkin harus dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Dapat di gunakan kombinasi dua jenis obat atau lebih, terutama jika perubahan gejala yang dialami terjadi sangat cepat. Penggunaan dan peghentian obat harus sesuai anjuran dokter. Penggunaan yang tidak sesuai berpotensi menimbulkan efek samping obat dan bisa membahayakan pasien.

Psikoterapi adalah upaya perawatan terhadap pasien yang memiliki gangguan mental dengan cara membantu pasien memahami penyakitnya. Dengan begitu, pasien akan mampu mengidentifikasi penyebab munculnya gejala, menghindarinya, dan mampu mengelola ketika gejala gangguan bipolar muncul. Psikoterapi juga mencakup edukasi dan dukungan dari keluarga dan orang terdekat.

Terapi elektrokonvulsive (ECT) adalah terapi dengan menyalurkan arus listrik ke otak, terbukti efektif pada ganggun bipolar. Terapi ini digunakan bila pemberian obat tidak memberikan efek postif.

Perubahan gaya hidup seperti tidur cukup, melakukan aktivitas fisik secara rutin, meninggalkan hubungan yang tidak membahagiakan, dan menghentikan kebiasaan konsumsi alkohol dan zat terlarang, serta segera melapor kepada dokter atau orang yang dipercaya saat memulai memikirkan bunuh diri, dapat membantu penderita menghadapi gangguan bipolar.

Kesadaran akan gangguan bipolar masih sangat minim. Tak banyak yang berani mengakui lantaran gangguan ini mental masih memiliki stigma buruk di masyarakat. Tanggal 30 Maret di peringati sebagai hari Bipolar Sedunia, diharapkan masyarakat akan teredukasi dan meningkatkan kepedulian terhadap gangguan mental khusunya bipolar. Bagaimanapun juga, gangguan mental tak jauh berbeda dengan penyakit biasa yang membutuhkan pengobatan. Pengidap gangguan mental tetap memerlukan perawatan, bukan dikucilkan bahkan disembunyikan dari mata masyarakat lain. Oleh karena itu, janganlah ragu untuk selalu rutin memeriksakan kesehatan mental ke psikiater demi kesehatan mental yang lebih baik, karena kesehatan mental merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Keduanya harus sama-sama dijaga karena tidak ada kesehatan yang paripurna tanpa kesehatan mental. No Health Without Mental Health, salam sehat jiwa.  (*)

Advertisement