Gubernur NTT: Perang Lawan Sampah adalah Tanggung Jawab Pemerintah & Gereja!

Kota Kupang, MedikaStar.com

Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat menegaskan bahwa perang terhadap sampah merupakan pekerjaan dan tanggung jawab bersama, antara pemerintah dan Gereja.

Hal tersebut dikatakan olehnya dalam acara Thabisan Diakon di Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang, (Jumat, 31/05/19). Dalam acara tersebut, 18 frater yang berasal dari tiga keuskupan, yakni Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, dan Keuskupan Weetebula dithabiskan menjadi Diakon oleh Uskup Penthabis, Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku.

“Selalu saya katakan di mana-mana, pemerintah provinsi NTT tidak akan mampu membawa visi dan mimpi besarnya selama gereja tidak berperan aktif secara luar biasa. Gereja harus mulai mendorong umatnya untuk mengelola sampah dengan baik. Saya katakan, perang terhadap sampah. Kalau boleh, lihat siapa saja yang membuang sampah, (harus) ditegur khususnya sampah plastik karena daya rusaknya luar biasa,” tutur Viktor.

Ia mengakui bahwa secara pribadi dirinya sangat terganggu dengan stigma kota terkotor yang disematkan pada kota Kupang. Sebagai gubernur yang lahir dan besar di Kota Kupang serta sekarang memerintah dan berkantor di kota ini, Ia merasa tertantang untuk menunjukan kepada kepada semua orang bahwa stigma itu tidak tepat.

“Kita sedang berperang karena ini memberikan stigma buruk kepada kita, sebagai orang-orang kotor. Ini perang kita. Kita harus merefleksi diri untuk menjadi manusia-manusia yang bisa merubah yang tidak mungkin jadi mungkin,” ujar Viktor.

Terkait hal ini, kepada para Diakon yang baru dithabiskan, Viktor berkata, “Saya minta para diakon yang sudah ditahbis harus mampu menunjukan jati dirimu sebagai orang bersih. Bukan hanya bersih secara spiritual tapi juga aktif untuk melihat lingkungan bersih. Kalau lihat umat buang sampah, tegur. Makan permen, buang sembarang, tegur. Isap rokok, buang sembarang, tegur. Minum aqua, buang sembarang, tegur. Jangan pernah berhenti untuk ingatkan umat agar hidup bersih.”

Sementara itu, Mgr. Dominikus Saku, Uskup Atambua selaku Uskup Pentahbis para Diakon, dalam sambutannya mengatakan bahwa makna dari tahbisan diakon adalah pelayanan, menghadirkan kegembiraan dalam pelayanan supaya semakin banyak orang dibawa keluar dari keterkungkungan.

“Apa yang dikatakan Bapak Gubernur merupakan tantangan bagi gereja khususnya para pelayan umat. Banyak yang hanya bergerak seputar altar. Kita ditantang untuk memperluas altar Tuhan agar menjangkau pelayanan yang lebih luas dan sampai orang terjauh. Bukan hanya pada orang tetapi juga bidang-bidang. Gereja kalau hanya terpaku pada bidangnya sendiri lama-lama akan jadi kerdil. Kita harus bekerja secara baru, kreatif dan inovatif,” ujar Mgr. Domi Saku.

Untuk diketahui, dalam acara itu, 18 frater yang dithabiskan menjadi diakon, di antaranya Fr. Petrus Seto Dai, Fr. Alfredo Saddam Husein Pareto, Fr. Yohanes S. Keraf, Fr. Xaverius Alupan, Fr. Paulus Ito Bari, Fr. Martinus Sonda, Fr. Sirilus A. Kobesi, Fr. Quido Naikefi, Fr. Yudelfianus F. Neno, Fr. Yustus Nipu, Fr. Gregorius Roby Kiik, Fr. Dalmasius Saunoah, Fr. Ludovikus Sonny Akoit, Fr. Desiderius Saba, Fr. Yosef P. Fallo, dan Fr. Jefritson Ndun. Dua frater lainnya dari Keuskupang Weetebula, yakni Fr. Frederikus M.J Ghoba dan Fr. Gregorius Judha.

Pantauan media ini, Perayaan Ekaristi penthabisan Diakon ini dihadiri oleh para orang tua dan sanak keluarga para Diakon serta ratusan umat Khatolik. (*/red)

Advertisement