GUD, Sosok Muda-Progresif yang Terpanggil untuk Membangun Ngada dari Desa | Advertorial

Bajawa, medikastar.com

Sosok Gregorius Upi yang maju dalam kontestasi pemilihan kepala daerah kabupaten Ngada mendampingi Paulus Soliwoa merupakan sosok muda yang progresif dan professional. Ia terpanggil untuk terus melanjutkan pembangunan di Ngada dari desa.

Terlahir dari keluarga petani yang sederhana pada tanggal 27 Oktober 1977, Gregorius Upi yang biasa dipanggil GUD sejak kecil telah dibentuk untuk peduli terhadap sesama yang terpinggirkan dan yang tidak mendapatkan keadilan. Hidupnya telah diisi dengan perjuangan, mengingat sejak sekolah dasar Ia telah berangkat ke Timor-Timur untuk mengikuti kakaknya yang adalah seorang pastor.

Usai menamatkan pendidikan di Timor-Timur yang saat ini telah menjadi Negara Timor Leste, Putra dari Paulus Dheo dan Yuliana ini kemudian menyelesaikan studinya S1 nya di Fakulatas Hukum Universitas Atmajaya, Jakarta pada tahun 2001.

Perjalanan karir pria yang dikarunia 3 anak ini pun cukup gemilang. Ia pernah bekerja di Nidya Associates pada tahun 2001 hingga 2004. Kemudian lanjut bekerja di PT. Lippo Bank,Tbk Tanggerang pada tahun 2004 hingga 2008. Di tahun 2008 Gud bekerja di PT. Bank Cimb Niaga,Tbk Jakarta hingga tahun 2011.

Sejak tahun 2011 hingga saat ini Gud bekerja di Kantor Pengacara SKC Law sebagai pengacara Spesial Perlindungan Hak Milik Kelayakan Intelektual (HAKI). Pada tahun 2018 lalu ia kemudian mendirikan kantor Advocat “G & I Associate” (advocat/pengacara perdata & pidana) di Jakarta Timur.

Selain berprofesi sebagai pengacara, suami dari Hieronima Emiliana Ota ini juga merupakan seorang pengusaha muda yang memiliki beberapa usaha, baik di wilayah kabupaten Ngada maupun di wilayah Nagekeo.

Lebih jauh, Gud juga merupakan sosok yang aktif dalam berbagai organisasi bahkan pernah menjadi aktivis pada tahun 1998 silam.

“Dulu saya adalah seorang aktivis tahun 1997/1998. Saat itu saya ikut demostrasi juga karena memang saya kuliah di Atma Jaya. Di sana saya secara alamiah terlatih untuk bagaimana memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak dan terlatih untuk mulai berpihak pada orang kecil,” jelas Gud.

Strategi Membangun Ngada dari Desa

Rasa kepedulian terhadap sesama yang tumbuh subur di dalam dirinya sejak kecil hingga saat ini membuat Gud terpanggil untuk ikut mengambil bagian dalam proses pembangunan Ngada dari desa.

Ia mengaku bahwa dirinya lebih banyak mendengar mengenai beberapa hal yang harus lanjut diperhatikan sebelum akhirnya memutuskan untuk terlibat aktif dalam proses untuk mengurus dan mengatur pembangunan di Ngada.

“Ini masalah keterpanggilan,” tegas Gud.

Dikatakan bahwa sejauh pengamatannya, Kabupaten Ngada sudah berjalan ke arah trend yang positif. Untuk itu, menurutnya apa yang sudah ada harus dilanjutkan dan apa yang masih kurang harus dilengkapi.

“Dan itu butuh energi baru, butuh anak muda, karena Ngada dengan topografinya ada daerah di lembah, gunung, pantai, dan sebagainya. Tentunya ini membutuhkan anak muda yang siap kapan saja untuk datang ke masyarakat dan memastikan bahwa program pembagunan berjalan dengan baik,” tegas Gud.

Dijelaskan olehnya bahwa pembangunan di kabupaten Ngada telah didesain melalui RPJMD yang sudah ditentukan, maka tentu saja pembangunan yang ada harus terus berkelanjutan, berkesinambungan dan tidak boleh terpotong-potong.

“MULUS jilid I dan II sudah sukses dengan tagline mereka membangun dari desa dengan hal-hal besar yang mereka lakukan, misalnya infrastruktur, pendidikan dan kesehatan yang mengalami peningkatan. Ini harus kita lanjutkan dan saya punya niat besar untuk membawa Ngada ini berlari lebih cepat, meloncat lebih tinggi untuk mengejar ketertinggalan hingga menjadi model pembangunan yang berkarakter,” papar Gud.

Lantas apa strategi pembangunan Ngada dari desa yang ditawarkan oleh sosok muda ini?

Gud membawa sebuah visi besar bagi kabupaten Ngada, yakni transformasi digital, perhatian terhadap generasi muda Ngada dan juga pemberdayaan kelompok-kelompok Industri dan UMKM.

Bersama Paulus Soliwoa yang telah membangun Ngada dari desa dalam bidang infrastruktur, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya, kedua sosok yang bersatu dalam paket PAS-GUD ini bertekad untuk menghadirkan internet gratis di semua desa di kabupaten Ngada.

“Revolusi industri 4.0, suka tidak suka kita akan masuk dalam bidang itu. Ini merupakan sebuah keharusan sebenarnya, sebab teknologi merupakan sebuah hal yang tidak bisa kita tolak,” jelas Gud.

Berkaitan dengan itu, pihaknya akan menggalakan di setiap desa wajib ada internet yang dapat dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat.

“Pemerintah wajib memasang internet gratis di semua desa agar bisa diakses oleh semua masyarakat. Kita buka ruang ini agar semua hal baru bisa masuk ke Ngada,” lanjutnya.

Konsepnya ialah bahwa akan ada akses internet gratis bagi masyarakat di semua desa di wilayah Ngada. Akan tetapi masyarakat yang menggunakan internet tersebut wajib mempromosikan berbagai potensi yang ada di wilayah tersebut di berbagai media sosial mereka sehingga dapat diketahui dunia luas. Ini berkaitan dengan perhatian PAS-GUD pada pengembangan potensi parwisata Ngada.

Selain internet gratis di semua desa, roda pemerintahan Ngada yang selama ini dilaksanakan dengan system E-Planning, E-Budgeting menuju E-Governance akan terus didorong sehingga semua pelayanan publik di wilayah Ngada beralih ke transformasi digital atau pelayanan berbasis internet.

Konsep transformasi digital, membangun tanah Ngada yang berdayasaing di era digital telah didesain oleh Gud dalam beberapa program yang akan segera dipublikasikan.

Selain transformasi digital, Gud yang berjiwa muda juga memiliki perhatian dan keterpanggilan khusus untuk membangun anak-anak muda Ngada.

“Saya melihat bahwa anak-anak muda Ngada memiliki bakat yang luar biasa dari sisi ekonomi, olahraga, seni, dan sebagainya. Saya sendiri selalu melihat bahwa anak muda itu memiliki 2 hal, yang pertama ialah mereka ingin didengarkan dan yang kedua mereka ingin difasilitasi,” terangnya.

Baginya, ekonomi kreatif lahir dari ide dan gagasan yang tak akan mati dan yang biasanya memiliki banyak ide adalah anak muda. Untuk itulah anak-anak muda Ngada perlu diberi ruang.

“Kalau bicara UMKM khususnya bagi anak-anak muda Ngada, maka kita akan berikan pelatihan yang mumpuni bagi mereka, kemudian setelah diberikan pelatihan akan kita berikan modal sehingga mereka bisa menjadi wirausahawan yang sukses di Ngada,” tutur Gud.

“Untuk anak-anak muda Ngada jangan takut! Saya mau agar anak-anak muda Ngada bangga menjadi bos dari usaha-usaha mereka sendiri. Itu akan saya galakan berdasarkan pengalaman saya juga. Saya juga punya usaha di sini dan pengalaman saya itu akan saya transfer ke anak-anak muda yang berkeinginan maju,” tutup Gud. (*/Red)