Hari Perfilman Nasional, Ini Aturan Sehat Menonton Film

MedikaStar.com – Hari Perfilman Nasional 2020 diperingati pada tanggal 30 Maret. Asalan tanggal 30 Maret ditetapkan untuk peringatan hari perfilman nasional karena pada tanggal inilah untuk pertama kalinya ada orang Indonesia yang menyutradai sebuah film, yakni Umar Ismail. Film tersebut berjudul Darah dan Doa yang dibuat pada tahun 1950. Sejak saat itu hingga sekarang, dunia perfilman di Indonesia berkembang sangat pesat.

Banyak orang sangat menyukai kegiatan menonton film. Dalam masa pandemi Covid-19 saat ini, menonton film dapat menjadi aktivitas yang dilakukan untuk mengusir rasa bosan di rumah. Akan tetapi, kegiatan ini perlu diatur secara baik agar bisa mendatangkan manfaat dan bukan kerugian bagi kesehatan.

Manfaat Menonton Film

Terdapat beberapa manfaat yang bisa dirasakan jika kegiatan menonton film dilakukan secara baik. Manfaat-manfaat tersebut berhubungan dengan terapi film atau Cinema Therapy. Terapi film dicetuskan oleh pengembang psikoterapi yang bekerja sama dengan para pelatih dan pakar film untuk mengembangkan terapi dengan media film.

Menonton film bisa menjadi terapi untuk menyegarkan pikiran. Hal ini dikarenakan saat melakukan aktivitas ini, seseorang sedang memutuskan untuk bersantai dan bersenang-senang. Terapi film juga bisa membantu seseorang mengatasi rasa takut dan khawatir. Dengan menonton film, orang tersebut dapat memahami atau menjadi sadar akan ketakutannya dan berusaha untuk mengatasinya.

Menonton film juga dapat meningkatkan rasa empati. Hal ini berguna untuk membuat seseorang fokus pada masalah yang sedang dihadapi dan memiliki kemampuan identifikasi yang baik. Selanjutnya, film memiliki efek katarsis. Efek katarsis membuat seseorang akan merasakan gairah atau passion terhadap sesuatu. Dengan adanya gairah, orang tersebut bisa menjadi lebih termotivasi dan semangat.

Gangguan kecemasan juga dapat diatasi dengan menyaksikan film. Alasannya karena saat melakukan aktivitas ini, seseorang bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa cemas pada film yang sedang ditonton. Film yang ditonton juga bisa membantu seseorang untuk mengeluarkan emosinya. Ada kalanya ia akan tertawa dan mungkin juga menangis karena film yang ditonton. Hal tersebut sangat berguna untuk menjaga kesehatan mental dan fisik.

Kegiatan ini juga bisa mengembangkan kreativitas. Berbagai perspektif yang di lihat di film dapat mengubah skema mental penonton dan mendorong otak untuk lebih kreatif, fleksibel, dan inovatif. Selain itu, menonton film dan mengomentarinya bersama keluarga atau kerabat bisa membuat hubungan sosial menjadi lebih dekat.

Terapi film bisa menjadi katalisator yang kuat untuk penyembuhan dan pertumbuhan bagi siapa saja yang terbuka untuk memperlajari bagaimana film mempengaruhi kita. Terapi film memungkinkan kita untuk menggunakan efek pencitraan, plot, musik, dan lain-lain untuk menambah wawasan, inspirasi, pelepasan atau pertolongan emosional untuk sebuah perubahan yang baik.” kata Birgit Wolz, PhD, MFT, seorang fasilitator Cinema Therapy Groups.

Aturan Menonton Film agar Tidak Memberi Dampak Negatif

Agar dapat membawa manfaat bagi kesehatan tubuh dan mental, kegiatan menonton film perlu dilakukan dengan baik dan tidak berlebihan. Untuk itu, saat menonton film, perhatikanlah hal-hal berikut.

Yang pertama adalah durasi atau lama waktu dalam menonton film. American Opometric Association merekomendasikan aturan 20-20-20 saat menonton film. Aturan ini bertujuan agar penonton tidak menatap monitor televisi atau komputer secara terus-menerus. Arti dari aturan tersebut adalah setelah memandang monitor selama 20 menit, lihatlah pada suatu objek lain yang berjarak 20 kaki atau 6m selama 20 detik.

Yang kedua adalah jarak mata dari monitor. Dilansir dari Canadian Center for Occupational Safety, jarak mata dari monitor komputer sebaiknya 40cm hingga 74cm atau 2 kaki. Kurangi juga silau dari monitor. Aturan ini bisa disesuaikan dengan kenyamanan setiap orang. Tujuannya adalah agar mata tidak terlalu dekat dengan monitor. Jarak yang terlalu dekat dengan monitor dapat membuat mata menjadi cepat lelah dan rusak.

Yang ketiga adalah jangan acuhkan kegiatan yang lain. Aktivitas menonton film bertujuan untuk memberi hiburan bagi diri, bukan sebagai aktivitas utama. Oleh karena itu, imbangilah dengan aktivitas fisik yang cukup dan mengonsumsi makanan bergizi. Jika tidak, penonton akan mendapatkan dampak negatif dan tidak produktif.

Dampak Negatif Berlebihan dalam Menonton Film

Dampak negatif tersebut bisa berpengaruh pada fisik, mental, sosial. Bagi fisik, aktivitas yang kurang dapat mengakibatkan postur tubuh yang buruk, bahkan obesitas. Pola tidur juga akan terganggu. Selain itu, penglihatan akan memburuk.

Menonton film terlalu lama juga dapat memicu computer vision syndrome (CVS). Gangguan ini ditandai dengan rasa pegal dan nyeri pada bahu, mata dan kepala, pandangan kabur, dan mata kering.

Dampak negatif bagi mental akibat menonton film secara berlebihan antara lain turunnya motivasi, timbulnya depresi, hingga penurunan daya fokus. Sedangkan, aspek sosial juga akan menjadi terganggu karena kurangnya interaksi bersama orang lain.

Kegiatan menonton film bisa menjadi salah satu alternatif mengusir kebosanan selama masa physical distancing atau work from home. Akan tetapi, kegiatan ini juga perlu diimbangi dengan kegiatan menyehatkan yang lain agar tidak dilakukan secara berlebihan. Dengan begitu, kegiatan ini dapat mendatangkan manfaat bagi fisik, mental, dan sosial. Selamat Hari Perfilman Nasional 2020, Healthies! (har)

Baca juga: Minggu (29/03) Malam, NTT Masih Negatif Covid-19 Namun ODP Tembus Angka 495