Hidup Pram yang Pahit

MedikaStar.com

Hari ini, 95 tahun silam, Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia, lahir. Di balik kegemilangan karya-karyanya, hidup Pram adalah kisah tentang kepahitan.

Pramoedya lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah, sebagai anak sulung dari 8 bersaudara. Ayahnya, Mastoer, adalah guru Institut Budi Oetomo. Ibunya, Oemi Saidah, seorang penjual nasi.

Pram kecil bukanlah anak yang tergolong pandai. Tiga kali tidak naik kelas ketika duduk di bangku SD membuat ayahnya yang punya reputasi intelektual yang bagus menganggap ia anak yang bodoh.

Karena itu ia tumbuh menjadi anak yang minder (mental inferior). Lingkungan pergaulannya adalah anak-anak buruh dan tani kecil di sekitar rumahnya. “Karena di situ saya baru merasa sederajat,” ujar Pram.

Rasa minder itu membuat Pram tidak berani menyatakan pendapat di luar lingkungan pergaulannya. Ia lalu mencurahkan pikiran dan perasaannya melalui tulisan. Bibit-bibit itulah yang kelak mengantarnya ke panggung sastra dunia.

Pramoedya Ananta Toer bersama seorang Indonesianis asal Australia Max Lane (Foto: istimewa)

Setelah lulus Sekolah Dasar, sang ayah menolak mendaftarkannya ke MULO (setingkat SLTP). Ia pun melanjutkan pendidikan di sekolah telegraf (Radio Vakschool) Surabaya dengan biaya dari ibunya.

Biaya pas-pasan selama bersekolah di Surabaya juga hampir membuat Pram gagal di ujian praktik. Ketika itu, tanpa mempunyai peralatan, ia tetap mengikuti ujian tersebut namun dengan cara hanya berpura-pura sibuk di samping murid yang terpandai.

Walau begitu, secara umum nilai-nilai Pram cukup baik dan ia pun lulus dari sekolah meski karena meletusnya perang dunia II di Asia, ijazahnya yang dikirim dari Bandung tak pernah ia terima.

Pada masa awal penjajahan Jepang, Pram yang saat itu berusia 17 tahun mengalami kenyataan pahit. “Pada 2 Maret 1942 ibu sakit keras. Tidak ada obat, tidak ada yang memberi makan satu keluarga. Maka saya sendiri yang berusaha untuk memberi makan, untuk mengurus ibu yang sakit keras,” kenang Pram.

“Tidak ada seorang pun yang membantu saya. Semua harus saya kerjakan sendiri sampai penguburan. Adik saya yang bungsu meninggal pada jam yang sama dengan ibu saya,” lanjutnya. Ibunya meninggal dunia pada 3 Juni 1942.

Oemi Saidah adalah perempuan yang memberi pengaruh besar terhadap watak Pram. Salah satu pesan bundanya yang selalu ia ingat adalah “Jadilah majikan untuk dirimu sendiri, tapi jangan melanggar hak orang lain”.

Salah satu adegan dalam Film Bumi Manusia yang diadaptasi dari salah satu novel Pramedya yang berjudul sama (Foto:detikcom)

“Ibu saya memang meninggal di usia muda, 34 tahun, tapi apa yang diberikan pada saya tetap hidup bahkan memancar di dalam tulisan-tulisan saya. Saya berterima kasih pada ibu saya,” ucap Pram.

Setelah ibunya meninggal, neneknya, Mbah Sabariyah didatangkan dari Ngadiluwih untuk mengurus keluarga, namun tidak lama tinggal di Blora. Akibatnya Pram hidup dalam ketidakpastian. Kepergian sang ibu sangat mengguncang hati Pram muda.

Ia kemudian merantau ke Jakarta, dan sempat mendaftarkan diri di sebuah sekolah Taman Siswa (Taman Dewasa-setingkat SLTP). Di Jakarta, Pramoedya mulai merintis jejaknya sebagai seorang penulis. Ia mengawalinya dengan menerjemahkan karya pengarang dunia.

Beberapa rangkaian karya terjemahan Pram yang lain adalah Tikus dan Manusia (diterjemahkan dari Of Mice and Men karya John Steinbeck), Kembali kepada Tjinta Kasihmu (diterjemahkan dari edisi Belanda karya Leo Tolstoy berjudul Huwelijksgeluk), dan Ibunda (karya Maxim Gorki, diterjemahkan dari bahasa Belanda dan bahasa Inggris dengan judul asli Mati).

Namun, kehidupan sebagai penulis tak memberikan jaminan kehidupan yang layak. Faktor itulah perkawinan pertamanya berakhir dengan perceraian. Ia diusir dari rumah mertuanya karena dianggap gagal menafkahi keluarga.

Pram kemudian kawin lagi dengan seorang gadis bernama Maemunah Thamrin. Gadis yang memberi Pram 8 orang anak ini adalah salah satu oase di tengah kegetiran hidup Pram di sebagian besar usianya. Ia selalu setia menemani Pram dalam suka dan duka, setia berkirim surat ketika Pram di penjara, dan setia membesarkan anak-anak mereka.

Pramoedya bersama istrinya Maemunah Thamrin

Pertemuan Pram dengan Maemunah termasuk lakon hidup yang unik. Alkisah, pada suatu hari tanpa sepeser uang pun Pram mengunjungi sebuah pameran buku pertama di Indonesia. Di pameran itu ia melihat seorang wanita penjaga stan yang menarik perhatiannya. Ia dengan kepercayaan diri menghampiri wanita yang ternyata bernama Maemunah itu.

Selama pameran buku itu Pram selalu duduk di stan menemani Maemunah. Hingga suatu hari Presiden Soekarno juga mengunjungi dan melihat gadisnya tersebut. Adegan itu digambarkan Soekarno dalam nada canda dengan istilah “buaya kedahuluan buaya.”

Dipenjara

Penjara adalah tempat yang cukup akrab dengan kehidupan Pram. Penerima gelar kehormatan Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan tahun 1999 itu dipenjara dalam tiga periode zaman (zaman Belanda, Orde Lama dan Orde Baru). Ia dipenjara Belanda di Penjara Bukit Duri (1947-1949) karena dituduh terlibat dalam pasukan pejuang kemerdekaan.  

Bukunya “Hoa Kiau di Indonesia” yang merupakan pembelaan terhadap nasib kaum Tionghoa di Indonesia namun tidak disukai pemerintah Orde Lama membuat dia juga harus mendekam di penjara (1960).

Di zaman Orba, Pram dipenjara tanpa proses pengadilan. Ia dituduh sebagai komunis dan terlibat dalam Gerakan 30 September 1965 tanpa diberi kesempatan membela diri. Ia dipenjara, berturut-turut pada 13 Oktober 1965-Juli 1969, Juli 1969-16 Agustus 1969 di Pulau Nusa Kambangan, Agustus 1969-12 November 1979 di Pulau Buru, dan November-Desember 1979 di Magelang dan Banyuwangi.

“Begitu keluar, di situ sudah ada mobil patroli. Belum sempat naik, tangan saya diikat, itu ikatan bagi orang yang akan dibunuh. Saya pikir, oh, saya juga mau dibunuh militer. Lantas dinaikan di atas Toyota Landsrover. Di situ saya dihantami dengan tommygun yang gagangnya besi. Sampai lima tahun sakit. Mungkin retak,” kata Pram dalam sebuah wawancara dengan wartawan asing sambil menunjuk pelipis kirinya.

Pramoedya ketika bertemu dengan anak-anaknya setelah keluar dari pulau Buru (Foto: istimewa)

Ketika berada dalam penjara yang dipenuhi kekerasan dan kerja paksa, Pramoedya kerap melakukan perlawanan. Ia tak segan melawan sipir yang memperlakukan mereka secara tak adil dan manusiawi. Sialnya, perlawanan Pram selalu berakhir dengan siksa kejam.

Kertas-kertas kerjanya di perpustakaan pribadinya juga diambil dan dihilangkan. Ia bahkan tak diberi kebebasan menikmati kerja kepengarangannya. “Waktu keluar dari Buru penghidupan saya dirampas, saya tidak boleh menikmati satu sen pun dari kerja saya. Itu sudah kejahatan. Mereka (Orba) menuduh saya alasannya ini, ini, ini sementara tidak pernah diberi kesempatan membela diri,” kata Pram geram.

Berbeda dengan pemerintah Orde Baru yang menudingnya sebagai komunis, Pram sendiri mengaku bahwa ia tak pernah memihak ideologi apapun. Ia selalu mengatakan bahwa ia hanya berpihak pada keadilan, kebenaran dan kemanusiaan. Pramisme, demikian katanya jika ditanya tentang ideologi yang dianutnya. Semua itu dapat ditelusuri dalam setiap karyanya.

Meski dipenjara, Pram tetap menulis. Di penjara di Pulau Buru, lahir beberapa karyanya, termasuk novel legendaris “Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca” serta roman “Arus Balik”.

Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer

Perjuangan untuk mengirimkan Tetralogi Buru ke luar penjara bukan tanpa hambatan. Karya-karya Pram banyak yang diberangus oleh pemerintah Orba karena dianggap ‘berbahaya’. Karena tahu itu, secara diam-diam atas bantuan seorang kenalan pastor Jerman, Tetralogi Buru menembus tembok penjara dan tersiar hingga ke berbagai penjuru dunia.

“Karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi saya tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia,” kata Pram pada sebuah kesempatan mengenang kesewenang-wenangan penguasa terhadap diri dan karya-karyanya.

Kepahitan hidup Pram tak hanya berhenti di penjara. Setelah dibebaskan pada 1979, ia masih dikenakan tahanan rumah hingga 1992. Penulis besar itu selanjutnya masih harus menjalani tahanan kota dan tahanan negara sampai 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu, kurang lebih selama 2 tahun.

Kisah hidup Sastrawan besar Indonesia yang getir itu ternyata sudah diramal jauh sebelum ia mendapat tempat di panggung sastra dunia. Saat masih kanak-kanak di Blora, seorang penjual kain yang diminta ibunya untuk membaca garis tangan Pram berkata: “Anak ini kelak akan jadi bunga. Sebagian orang akan mencintainya, tetapi sebagian lagi akan membencinya”.

Selamat Ulang Tahun, Bung Pram…

(ENS/dari berbagai sumber)

Baca juga: Pengendalian Demam Berdarah, Kita Perlu Belajar dari Singapura