Hubungan Teori Konspirasi dan Kesehatan Mental

MedikaStar.com

Sejak covid-19 merebak, banyak teori konspirasi ikut muncul. Hal tersebut membuat kepercayaan dari sebagian orang pun terbagi. Ada yang mempercayai para ahli, hasil penelitian dan ilmu pengetahuan yang ada. Namun, tak sedikit pula mempercayai konspirasi yang diciptakan.

Sebenarnya, apa yang dimaksudkan dengan teori konspirasi? Apakah teori konspirasi memiliki hubungan dengan kesehatan mental?

Teori konspirasi merupakan teori-teori yang berupaya untuk memberi penjelasan mengenai penyebab utama dari satu atau serangkaian peristiwa yang terjadi. Peristiwa tersebut umumnya menyangkut politik, sosial, atau sejarah. Biasanya, teori konspirasi berisi rahasia, bersifat memperdaya, dan diciptakan oleh orang-orang atau organisasi yang cukup berpengaruh di kalangan publik.

Terdapat jenis teori konspirasi yang didukung oleh argumentasi kuat, data yang akurat dan ilmiah, pendapat yang bisa terverifikasi, sejarah, hingga tokoh-tokoh yang nyata. Ada pula teori konspirasi yang hanya dihubung-hubungkan dengan mitos, legenda, hingga kekuatan supranatural dan lain sebagainya.

Belakangan, selama masa pandemi covid-19, terdapat beberapa teori konspirasi yang muncul. Dikutip dari Detik Health, ada yang berteori bahwa covid-19 berasal dari laboratorium di Cina. Ada juga yang mengatakan bahwa virus yang telah menjangkiti jutaan orang ini berasal dari luar angkasa.

Yang juga tak kalah viralnya, ada pihak yang menyebutkan bahwa virus corona merupakan senjata buatan. Lebih jauh lagi, virus corona juga disebutkan dapat menyebar lewat jaringan 5G, hingga dibuat oleh pendiri Microsoft, Bill Gates. Selain itu, masih banyak lagi bertebaran teori konspirasi di internet dan media lainnya.

Semua teori tersebut tentunya telah dibantah oleh hasil penelitian dan fakta yang ada. Dalam meresponi hal tersebut, ada golongan masyarakat yang tidak mempercayai teori konspirasi. Namun, tak sedikit juga orang yang menaruh kepercayaan pada hal tersebut.

Lantas, mengapa orang-orang yang mempercayai teori konspirasi? Dilansir dari PsychCentral, para peneliti mengungkapkan bahwa ketakutan dan kecemasan dilaporkan sebagai prediktor positif keyakinan terhadap konspirasi.

Dengan kata lain, rasa cemas dan takut terhadap situasi yang mengancam atau perasaan kontrol yang lemah terhadap kondisi dapat membuat seseorang cenderung berkonspirasi. Hal ini banyak ditemukan pada orang yang memiliki kebutuhan kontrol atas lingkungan mereka atau menyukai perasaan memegang kendali setiap saat.

Teori konspirasi juga merupakan suatu langkah untuk memahami peristiwa yang tidak masuk akal. Hal ini membuat kebanyakan orang yang cenderung mempercayainya adalah tipe orang yang selalu merasa penasaran.

Kepercayaan terhadap konspirasi juga dipengaruhi oleh bias internal seseorang. Yang termasuk dalam bias internal adalah korelasi ilusi, bias konfirmasi, dan bias pandangan. Hal-hal tersebut berhubungan dengan bias kognitif yang dialami. Bias kognitif cenderung menawarkan jalan yang lebih mudah bagi seseorang untuk menghubung-hubungkan suatu peristiwa meski mereka tidak terlibat secara langsung.

Orang yang memiliki sifat narsisme juga akan lebih mudah percaya terhadap konspirasi. Hal ini dikarenakan narsisme memiliki hubungan dengan pemikiran yang paranoid, kurang percaya diri, hingga masalah harga diri. Selain itu, kondisi sosial dan politik yang terjadi juga sedikit banyak mempengaruhi kepercayaan orang-orang terhadap konspirasi.

Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa teori konsipirasi memiliki hubungan yang cukup erat dengan kesehatan mental atau psikologi. Dilansir dari Psy Post, menurut penelitian yang pernah diterbitkan dalam Journal Psychiatry Research, kepercayaan pada teori konspirasi dapat dikaitkan dengan Schizotypy.

Schizotypy merupakan konsep teoritis yang mengutamakan pengalaman kepribadian yang beragam atau karakteristik seseorang. Keadaan ini dimulai dari disosiatif normal, daya imajinatif, hingga pemikiran ekstrem yang terkait dengan skizofrenia. Jika dilihat, Schizotypy dan skizofrenia memiliki pola yang mirip. Keduanya dapat menyebabkan terjadinya defisit dalam kognisi, fungsi sosial dan emosional, serta perilaku.

Dalam sebuah penelitian pada beberapa tahun yang lalu, dilakukan survey terhadap 252 wanita dan 159 pria dari seluruh dunia. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara Schizotypy dan keperayaan terhadap teori konspirasi.

Para peserta yang mendapatkan skor tinggi pada ukuran “Odd Beliefs and Magical Thinking” dan “Ideas of Reference” lebih memungkinkan untuk percaya pada konspirasi. Contohnya adalah pada teori yang mengatakan bahwa epidemi AIDS sengaja diciptakan oleh agen Amerika Serikat.

Meski begitu, penelitian ini diakui masih memiliki beberapa keterbatasan. Karena itu, para penelitinya menyatakan bahwa dalam penelitian di masa yang akan datang, mereka akan lebih mempertimbangkan beberapa hal lain agar hasil penelitian bisa lebih maksimal.

“Kami menggunakan strategi perekrutan online untuk sampel kami. Karena itu, peserta tidak mungkin mewakili negara atau komunitas manapun. Lebih lanjut lagi, penting untuk menyoroti bahwa data dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Sementara itu, hasil penelitian ditafsirkan sejalan dengan ide kontemporer tentang ide konspirasi. Beberapa kehati-hatian harus dilakukan untuk menafsirkan efek kausal,” kata David Barron dari Perdana University yang adalah penulis penelitian tersebut.

Selain memiliki hubungan dengan mental atau psikologi, teori konspirasi pada masa pandemi sekarang ini juga bisa memicu terjadinya “Medical mistrust” atau ketidakpercayaan medis. Hal tersebut bisa berdampak pada penggunaan sumber daya atau fasilitas kesehatan yang rendah, sampai manajemen kesehatan diri pada orang-orang yang buruk.

Salah satu contoh dari extremnya ketidakpercayaan medis adalah bisa saja orang-orang tidak akan mempercayai vaksin atau menjadi anti-vaksinasi. Stigma dan diskriminasi juga akan meningkat dan menghasilkan kepatuhan yang lebih rendah terhadap rekomendasi kesehatan yang diberikan.

Karena itu, pikirkan dahulu apakah teori konspirasi yang dilihat berefek positif atau mungkin dapat merugikan orang lain. Jika dapat merugikan dan meresahkan, alangkah baiknya tidak perlu disebar.

Para penerima atau orang yang membaca atau melihat pun perlu memiliki pemikiran yang kritis. Tujuannya agar pembaca atau penonton tidak mudah terkecoh, serta terhindari dari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. (har)

Baca juga: Membedakan Surat Keterangan Sehat yang Asli dan Palsu