Ingin Dapatkan Tubuh Atletis, Testis Seorang Pemuda Malah Mengecil

MedikaStar.com

Tubuh atletis merupakan dambaan banyak lelaki. Namun tidak semua lelaki mampu meraihnya karena proses untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal tersebut memerlukan ‘pengorbanan’ yang tidak sedikit. Selain latihan rutin, asupan gizi juga harus dikontrol secara ketat.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk dalam bidang kedokteran, kadang menawarkan cara untuk memotong jalan panjang demi mendapatkan bentuk tubuh atletis. Namun tentu harus melalui serangkaian proses pemeriksaan dan oleh mereka yang benar-benar profesional dan ahli di bidangnya. Ada harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih jalan pintas melalui mereka yang tidak profesional dan ahli di bidangnya.

Berikut catatan ringan terkait penyuntikan hormon untuk mendapatkan bentuk tubuh atletis dari Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS,
pakar Andrologi dan Anti-Aging Medicine Universitas Udayana Denpasar, Bali. Catatan ini diambil dari dinding Facebooknya (usai dikonfirmasi oleh tim media ini).

Ingin Belajar Langsung di Rumah? Klik untuk Terhubung dengan Branded Home Private

***

Laki-laki Amerika 30 tahun itu sudah lama tinggal di Beijing. Begitu masuk kamar kerjaku di lantai tiga, dia menyapa dengan hangat ala Amerika. Sebelumnya dia memang telah membuat janji untuk datang malam itu. Dia semakin hangat ketika aku ceriterakan dulu aku pernah melanjutkan studi di Amerika. Tubuhnya berotot meyakinkan, dibalut kaos putih dengan celana jin. Setelah bertanya tentang pekerjaan dan kaitan lainnya, aku masuk ke masalah apa yang dia alami sehingga khusus datang menemuiku.

“Saya minta suntik hormon testosteron dan Growth Hormone,” katanya. Sesaat aku tersentak, langsung mataku tertuju ke otot lengan dan dadanya yang menggunung.

“Maksud kamu untuk menambah besar lagi otot-otot itu?”

Dia tersenyum mengangguk, berharap aku menyiapkan suntikan yang diminta.

Dalam percakapan kemudian, dia ceriterakan telah 3 tahun mendapat suntikan setiap 1 atau 2 bulan di samping yang setiap hari. Dia senang karena otot-ototnya bermunculan yang dia anggap sebagai daya tarik bagi para perempuan.

Tetapi dia tampak tersentak ketika aku bertanya, “Apakah sebelum pertama kali menerima suntikan, kamu diperiksa untuk mengetahui seberapa tinggi kadar hormonmu”.

Ternyata dia tidak pernah mendapat pemeriksaan apapun sama sekali.

Maka aku pun segera khawatir telah terjadi malapetaka pada pemuda ini. Dugaanku benar. Pada pemeriksaan, aku dapatkan kedua buah pelir alias testisnya telah mengecil. Jelas ini akibat suntikan yang diberikan tanpa indikasi yang jelas. Ketika aku sampaikan temuan ini, dia langsung lunglai dengan wajah muram dan kegantengannya langsung pudar. Ternyata dokternya itu harus belajar lebih baik lagi karena tidak profesional.

Tindakan dokter seperti itu juga terjadi di negara kita. Beberapa dokter yang hanya bermodalkan kursus, walaupun di luar negeri, telah membuat kesalahan seperti yang dilakukan oleh dokter yang menyuntik pemuda itu. Tanpa indikasi yang jelas dan tanpa pemeriksaan, dokter memberikan pengobatan hormon. Bahkan ada dokter yang menawarkan suntikan hormon kepada para perempuan agar kulitnya mulus. Memberikan hormon agar perempuan jadi langsing. Semua itu dilakukan tanpa pemeriksaan sebelumnya.

Di mana profesionalisme dan tanggungjawab dokter?

Pada akhir pertemuan malam itu, dia masih bertanya, ”Jadi kamu tidak bisa bantu menyuntik saya? Soalnya badanku mulai terasa lelah lagi”.

Aku jawab, “Maaf, saya tidak bersedia karena sebenarnya kamu tidak memerlukan suntikan itu. Yang kamu perlukan sekarang hentikan suntikan itu dan perlu pemeriksaan lebih lanjut”.

Anehnya, dia tidak bertanya pemeriksaan apa yang dia perlukan. Mungkin dia akan bertanya atau mengadu ke dokternya di sana.

Pesan moral dari kisah ini, “Jadilah dokter yang profesional, karena masa depan yang menyangkut kualitas hidup manusia sangat ditentukan oleh kualitas kesehatan”.

Di Angkasa raya, Jakarta-Medan 10 Juli 2019

Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS saat mengunjungi kantor redaksi medika star 2018 lalu

Baca Juga: Desa Perlu Turun Tangan Lindungi Anak dari Pornografi

Video:

Pentingnya Home Care untuk Lansia

Advertisement