Ini Jumlah Penduduk Miskin di NTT per Maret 2020

MedikaStar.com

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk miskin di NTT pada Maret 2020 sebanyak 1,15 juta jiwa, bertambah 24,3 ribu orang dari September 2019.

Pengukuran kemiskinan oleh BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan.

Untuk NTT, garis kemiskinan pada Maret 2020 sebesar Rp 403.005 per kapita per bulan. Garis kemiskinan ini naik sebesar 5,01persen dari September 2019 yang sebesar Rp383.762, per kapita per bulan.

Seseorang dikatakan miskin jika pengeluaran per bulan untuk memenuhi kebutuhan makan makanan dan kebutuhan perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok bukan makanan lainnya di bawah Rp 403 ribu.

Dari data BPS, per Maret 2020 terdapat sebanyak 1,15 juta atau 20,90 persen penduduk NTT yang termasuk kategori penduduk miskin. Dengan kata lain, terdapat setidaknya 2 orang miskin dari setiap 10 penduduk NTT.

Dari sisi sebaran, penduduk miskin di NTT lebih banyak terdapat di perdesaan dibanding perkotaan. Menurut data BPS, 24,73 persen dari penduduk desa termasuk kategori orang miskin. Sedangkan di perkotaan, persentase penduduk miskinnya sebesar 8,64 persen.

BPS mencatat, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Pada Maret 2020, komoditi makanan menyumbang sebesar 78,44 persen pada garis kemiskinan. Sisanya, 21,56 persen, disumbang oleh komoditi bukan makanan.

Beras menjadi komoditi makanan yang paling besar kontribusinya terhadap angka kemiskinan di NTT. Di perkotaan, beras menyumbang 28,06 persen sedangkan di perdesaan beras menyumbang 37,96 persen.

Di samping beras, komoditi makanan lain yang juga memberi sumbangan terhadap peningkatan kemiskinan antara lain rokok kretek filter, ikan tongkol/tuna/cakalang, telur ayam ras, daging babi, gula pasir, roti, kopi bubuk dan kopi instan, daun ketela pohon, dan beras jagung.

Sedangkan untuk komoditi bukan makanan, perumahan menyumbang kontribusi terbesar, yakni sebesar 9,60 persen di perkotaan, dan 7,26 persen di perdesaan. Kemudian diikuti oleh pendidikan, listrik, bensin, dan angkutan. (red)

Baca juga: Tips dari dr. Reisa untuk Cegah Penyebaran Covid-19 di Ruang Ber-AC