Jangan Gadaikan Kesehatanmu dengan Gorengan

Kota Kupang, MedikaStar.com

Gorengan sudah menjadi salah satu kuliner yang diburu ketika hari beranjak sore. Di Kota Kupang misalnya, para penjaja gorengan mulai terlihat sibuk ketika matahari mulai bergeser ke barat. Bagi mereka, itulah jam-jam potensial mengais rezeki.

Hampir di setiap pinggir ruas jalan utama terlihat gerobak gorengan lengkap dengan peralatan goreng. Sebuah tungku besi lengkap dengan tabung gas, sebuah kuali berukuran besar, pisang yang sudah dikupas, dan tentunya tepung untuk membungkus pisang tersebut. Ada juga tahu yang telah divariasi sedemikian rupa, tempe, ubi, dan ragam jenis gorengan lainnya.

Ketika para pembeli mulai mengerubuti gerobak gorengan, sang penjual mulai terlihat kewalahan. Udara panas dari tungku dan minyak dalam kuali membuat keringat menetes di wajah, leher dan membasahi baju. Kedua tangan dengan gesit memindahkan pisang atau tahu, dan sebagainya dari kuali dalam etalase gerobak dan dari tempat penyimpanan ke dalam kuali. Kelincahan tangan adalah kunci rezeki.

Para pembeli biasanya adalah para pekerja kantoran yang baru saja pulang. Masih dalam setelan baju khaki atau kemeja rapi mereka terlihat rela mengantre. Apalagi bila gorengan tersebut sudah ‘pas’ di lidah. Permintaan yang tinggi jelas meningkatkan harga. Hukum ekonomi berlaku di sini.

Namun, apakah Anda tahu risiko bila mengkonsumsi gorengan dalam jumlah berlebihan?

Risiko itu umumnya ditimbulkan oleh lemak. Minyak yang digunakan untuk menggoreng termasuk dalam sumber lemak. Satu sendok teh minyak yang biasa Anda gunakan untuk menggoreng mengandung kurang lebih 50 kalori.

Meskipun terlihat sedikit, hanya 50 kalori, tetapi nyaris tidak mungkin Anda hanya mengonsumsi satu sendok teh minyak per harinya. Dan tidak hanya dari minyak goreng saja, sumber lemak lain seperti margarin, mentega, dan krim bisa jadi termasuk dalam jenis makanan yang Anda makan sehari-hari.

Selain itu, minyak yang dipakai untuk menggoreng gorengan ini bisa digunakan berulang-ulang kali sehingga mengalami peningkatan kadar lemak trans, yaitu lemak yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia karena kemampuannya dalam meningkatkan kolesterol jahat sekaligus menurunkan kolesterol baik pada tubuh.

Dilansir dari alodokter.com, mengonsumsi makanan gorengan dalam porsi besar kerap dihubungkan dengan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan obesitas.

Sebuah penelitan menyebutkan, semakin banyak Anda mengonsumsi makanan gorengan maka risiko terserang penyakit diabetes 2 dan penyakit jantung cenderung lebih meningkat.

Pada pria, sebuah penelitian menyebutkan bahwa konsumsi gorengan dalam jangka waktu yang lama yaitu lebih dari sekali dalam waktu seminggu, dapat meningkatkan risiko terkena kanker prostat bagi pria.

Terlalu banyak mengonsumsi makanan gorengan juga sering kali dihubungkan dengan kolesterol tinggi. Makin tinggi tingkat kolesterol, makin meningkatkan risiko penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah.

Baca Juga: Ngkeros Maksimus: Anggaran yang Disediakan Dinsos Matim Masih Kurang

Ketika Anda mengonsumsi lebih dari yang dibutuhkan tubuh, maka kolesterol dapat menyebabkan terbentuknya plak yang dapat menghambat aliran pembuluh darah, sebagaimana pipa yang tersumbat. Komplikasi dari terganggu aliran darah adalah stroke, aterosklerosis dan serangan jantung.

Khusus bagi wanita hamil, mengonsumsi gorengan secara berlebihan meningkatkan risiko diabetes selama kehamilan. Diabetes yang terjadi selama masa kehamilan disebut dengan diabetes gestasional.

Dibandingkan dengan wanita yang mengonsumsi gorengan kurang dari satu kali per minggu sebelum masa kehamilan, risiko untuk mengalami diabetes gestasional lebih tinggi 13 persen khusus bagi yang mengonsumsi gorengan sebanyak tiga kali per minggu. Risiko tersebut meningkat seiring dengan jumlah gorengan yang dikonsumsi per minggu.

Karena itu, membatasi konsumsi gorengan adalah langkah terbaik agar terhindar dari berbagai gangguan kesehatan. Selain itu, para pakar kesehatan juga memberikan beberapa panduan dalam kaitan dengan penyediaan dan konsumsi gorengan.

Pertama; mengganti minyak trans atau minyak yang telah mengalami hidrogenasi dengan jenis minyak yang lebih sehat seperti minyak zaitun, kanola, jagung, biji bunga matahari dan minyak wijen.

Kedua; agar minyak tidak menyerap ke dalam makanan yang digoreng, disarankan untuk menggoreng makanan pada suhu 176-1900C. Jika suhu menggoreng berada di bawah suhu tersebut, minyak dapat meresap ke dalam makanan. Sebaliknya, jika suhu terlalu tinggi, makanan akan menjadi terlalu kering dan minyak juga dapat teroksidasi.

Ketiga; menghindari penggunaan minyak secara berulang. Lebih disarankan, minyak hanya digunakan sekali pakai dalam menggoreng.

Keempat; agar makanan yang telah digoreng tidak terlalu berminyak, disarankan pula untuk menggunakan tisu kertas agar minyak yang berlebih dapat diserap.

Kelima; jika Anda ingin mengonsumsi gorengan, sebaiknya membuat sendiri di rumah, dibandingkan membelinya. Gorengan yang dibuat di rumah cenderung lebih sehat karena Anda dapat dengan bijak memilih minyak serta cara menggorengnya.

Tips terkahir ini terkesan membatasi rezeki para penjual gorengan. Tapi yakinlah, Yang Maha Kuasa telah menyediakan rezeki tiap orang secara proporsional. Ambil rezekimu sendiri. Jangan mengambil rezeki yang bukan punyamu, apalagi sampai membahayakan kesehatan orang lain.

Pesan moral bagi penjual gorengan: Kami untung (senang), Anda sehat. Pesan moral bagi konsumen gorengan: Kesehatan adalah harta yang tak ternilai harganya, jangan gadaikan kesehatanmu dengan gorengan. (ens)

Baca Juga: Rumah Sakit yang Belum Terakreditasi Tetap Bisa Melayani Pasien JKN-KIS

Advertisement