Jumlah Kasus Covid-19 Indonesia Capai 200 Ribu, Waspadai Klaster Penyebarannya

MedikaStar.com

Hingga Selasa (8/9/2020), jumlah kasus Covid-19 di Indonesia sudah menyentuh angka 200.000. Hal ini menjadi bukti bahwa penyebaran virus Corona terjadi secara cepat. Penyebaran yang terjadi di berbagai tempat atau area tertentu biasanya disebut sebagai klaster.

Klaster atau cluster adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi kesehatan yang sama pada sebuah kelompok. Terdapat beberapa klaster penyebaran Covid-19 yang perlu diwaspadai.

Pertama, klaster perkantoran. Memasuki masa tatanan normal baru, aktivitas perkantoran mulai berjalan sebagai mana biasanya. Penerapan protokol kesehatan pun tetap menjadi prioritas utama.

Akan tetapi, diketahui bahwa jumlah pekerja yang masuk kantor cukup sulit dikendalikan. Hal ini berpengaruh pada penerapan protokol kesehatan. Penyebabnya karena jumlah pekerja yang masuk kantor melebihi batas kapasitas. Lebih lanjut, aktivitas seperti makan siang atau pun ibadah berkontribusi terhadap penyebaran Covid-19 di area kantor.

Guna mengatasi permasalahan tersebut, Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara mengeluarkan surat edaran pada tanggal 4 September 2020 lalu. Surat edaran bernomor 67 Tahun 2020 tersebut mengatur presentase kehadiran ASN di kantor.

“Maksimal kehadiran untuk zona hijau, maksimal 100%. Daerah dengan zona kuning maksimal 75%, zona oranye adalah 50%, dan zona merah adalah 25%,” kata Jubir Satgas Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito dalam jumpa pers di Kantor Kepresidenan, Selasa (8/9/2020).

Kedua, klaster sekolah.  Persiapan untuk membuka kembali kegiatan belajar mengajar secara langsung di sekolah harus dipersiapkan dengan baik. Caranya adalah dengan memperhatikan zona bahaya, melakukan simulasi, serta persetujuan dari orang tua murid.

Jika proses persiapan tersebut tidak dilakukan secara baik, maka sekolah berisiko besar menjadi klaster penyebaran Covid-19. Lebih lanjut, perjalanan pergi dan pulang sekolah juga harus dipastikan aman.

“Jadi, tidak ada penyakit atau Covid-19 yang dibawa menuju sekolah. Begitu juga tidak ada penyakit yang tersebar di fasilitas sekolah. Kalau itu semua dilakukan dengan baik, seharusnya tidak terjadi klaster-klaster di sekolah atau di mana pun tempat yang ada,” jelas Wiku pada bulan Agustus lalu.

Ketiga, klaster keluarga. Covid-19 dapat menyebar dengan cepat dalam lingkungan keluarga. Bahkan, mengutip kompas.com (9/9/2020), seorang Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, mengungkapkan bahwa rata-rata kontribusi klaster keluarga di berbagai negara mencapai lebih dari 50%.

Terdapat tiga aktivitas utama yang dinilai memicu adanya klaster Covid-19 di lingkungan keluarga. Aktivitas tersebut seperti membiarkan anak-anak berada di luar rumah tanpa memperhatikan protokol kesehatan.

Selain itu, ada pula acara kumpul-kumpul bersama tetangga, arisan, pesta, dan perayaan lainnya. Berikutnya, liburan atau piknik juga sangat berisiko, terlebih jika dilakukan di daerah zona merah. Oleh karena itu, meski telah berada di rumah, tetaplah waspada dan terapkanlah protokol kesehatan yang ada dengan baik.

“Klaster keluarga, karena kita sampai di rumah merasa aman, justru di situlah kita harus hati-hati,” ungkap Presiden Jokowi dalam Sidang Kabinet Paripurna untuk Penanganan Kesehatan dan Pemulihan Ekonomi Tahun 2021 (7/9/2020)

Keempat, klaster pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020.  Beberapa waktu ini, persiapan penyelenggaraan pilkada disoroti karena dikhawatirkan dapat menjadi klaster baru penularan Covid-19. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa pasangan calon kepala daerah yang membuat acara deklarasi dengan mengundang kerumunan banyak orang.

Untuk mengatasi hal tersebut, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah membuat aturan mengenai pelaksanaan kampanye di tengah pandemi. Dalam aturan tersebut, jumlah massa yang hadir saat kampanye akan dibatasi. Pembatasan juga berlaku pada durasi rapat umum.

“Sekali lagi, kedisiplinan penerapan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan pilkada harus dilakukan, ditegakkan, tidak ada tawar menawar,” tegas Presiden Jokowi dalam Rapat Terbatas yang disiarkan melalui akun Youtube Sekretariat Persiden (8/8/2020).

Pandemi Covid-19 masih terjadi. Karena itu, semua pihak harus untuk terus waspada. Penerapan protokol kesehatan wajib untuk terus dilakukan dimana saja, agar aktivitas dapat berjalan dengan aman. (har)

Baca juga: Ini Daftar Daerah yang Sudah Jalankan Program Berobat Gratis Pakai KTP