Kisah Para Lulusan Terbaik Poltekkes Kupang (Bagian 1)

Kota Kupang, MedikaStar.com

Sebanyak 902 lulusan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang diwisuda dan diangkat sumpah pada hari pertama gelaran wisuda yang dilangsungkan di aula Politeknik Negeri Kupang, Rabu (11/9). Medika Star sempat merekam kisah dan isi hati beberapa lulusan terbaik dari Jurusan Kebidanan, Gizi, Kesehatan Gigi, dan Kesehatan Lingkungan. Berikut kisah mereka.

Katarina Cening Kote, lulusan terbaik Jurusan Kebidanan

Katarina Cening Kote

Memperoleh IPK 3,72 menjadikan Katarina Cening Kote menjadi salah satu yang terbaik dari lulusan Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang. Ia mengaku haru dan bangga bisa meraih prestasi tersebut. Namun, di balik rasa haru dan bangga itu, ia merasa ada tanggung jawab besar yang dipikulnya. “Pencapaian ini juga menyiratkan tanggung jawab. Saya harus bisa membuktikan prestasi ini melalui pelayanan ketika kerja nanti,” ujar gadis yang biasa disapa Cening ini.

Menjadi seorang bidan adalah impian Cening sejak kecil. Di Mangili, sebuah kampung kecil di Sumba Timur, impian itu tumbuh ketika ia melihat bidan-bidan yang melayani masyarakat di kampungnya. Pembawaan dan penampilan para bidan dalam balutan seragam putih mencuri hati Cening. Sejak itu, ia bercita-cita menjadi seorang bidan.

Cita-cita Cening menjadi bidan sempat terhalang karena awalnya ia tak sempat lulus tes masuk di Jurusan Kebidaan. Dalam kondisi ‘galau’ ia lalu memutuskan mengambil jurusan Bahasa Inggris di salah satu kampus di Kupang. Namun, impian masa kecilnya tak bisa ia hilangkan begitu saja. Ketika ada tes masuk di melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan, ia kembali mengadu peruntungannya. Dan kali ini ia berhasil.

Ketika sudah berada dalam jalur menuju cita-cita masa kecil, Cening tak ingin gagal lagi. Karena itu, ia selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dari dirinya. Ia selalu belajar dan terus belajar. Kini, ia menikmati kerja kerasnya itu dengan menyandang predikat ‘cum laude’. Ia juga menyadari bahwa semua pencapaian itu atas berkat dari Tuhan. “Ini semua bisa tercapai hanya karena kuasa Tuhan,” katanya lirih.

Cening telah berada di ujung masa studinya. Namun, puncak itu juga menjadi garis start baru untuk kehidupan selanjutnya. Ia mengatakan akan terus rendah hati dan belajar sehingga bisa membawa kebaikan bagi masyarakat di mana dia berkarya nanti.

Hafsah Kayumu, lulusan terbaik Jurusan Gizi

Hafsah Kayumu

Lulus dengan predikat cum laude tak pernah terbersit dalam benak Hafsah A. H. Kayumu. Ia membiarkan hidupnya mengalir apa adanya. Namun, bukan berarti ia bermalas-malasan. Tentunya ia juga belajar dan selalu berusaha memperkaya diri dengan pengetahuan dan pengalaman.

“Tidak ada teknik belajar khusus. Saya belajar seperti teman-teman lain. Karena itu saya anggap ini (lulus dengan predikat cum laude) adalah bonus,” kata gadis yang biasa disapa Acha ini. Yang jauh lebih penting bagi Acha adalah ia bisa memperoleh ilmu tentang gizi dan berharap bisa mengaplikasikan ilmu itu untuk membantu sesama.

Tugas akhir Acha mengambil judul “Ketepatan Standar Porsi Nasi pada Penderita Diabetes Mellitus di RSUD Prof. Dr. Yohanes Kupang”. Dari tugas akhir ini dan masa praktik di tengah masyarakat Lifuleo Kabupaten Kupang, Acha sadar tidak mudah mengubah perilaku seseorang, termasuk pola dan menu makan. Karena itu, bagi Acha kesabaran adalah kunci dalam pelayanan kesehatan.

Satu hal lagi yang ia yakin membuat karyanya menjadi lebih sempurna adalah doa. Karena itu ia selalu membawa seluruh karya perjuangannya dalam doa. “Kerja tanpa doa tak akan menghasilkan apa-apa,” ujar putri dari (Alm) H. Azis Kayumu dan Hj. Saldi Saide ini.

Susana Jimun, lulusan terbaik Jurusan Kesehatan Gigi

Di tengah kesibukan kerja sebagai tenaga kesehatan di RS Bhayangkara Kupang, Susana Jimun masih sempat membagi waktu untuk kuliah dan belajar. Belum lagi sebagai ibu rumah tangga ia harus mengurus keluarga. Di tengah padatnya kesibukan itu, ia bisa meraih predikat cum laude dengan IPK 3,63. “Saya sangat bersyukur dan bahagia bisa lulus dengan predikat cum laude. Tidak menyangka juga,” ungkap Susana.

Menurut Susana, memang agak berat membagi waktu antara kuliah, kerja, dan mengurus rumah tangga. Pagi sampai siang ia harus bekerja. Sorenya ia harus mengikuti perkuliahaan. Kembali dari kuliah, pekerjaan rumah tangga sudah menunggu. Namun, ia bersyukur karena semua pihak mendukung dia, baik rumah sakit tempat ia bekerja, pihak kampus, maupun keluarganya.

Susana mengaku, dengan melanjutkan kuliah ia memperoleh banyak sekali keuntungan. Yang terutama adalah ilmunya semakin berkembang. Dengan itu, ia bisa menjalankan tugas pelayanannya dengan lebih maksimal. “Ilmu kan selalu berkembang setiap waktu sehingga kesempatan kuliah ini sangat membantu saya dalam kerja saya,” ujarnya.

Dengan pengalamannya sebagai tenaga kesehatan yang sudah bekerja, Susana berharap pihak kampus memberi perhatian yang lebih kepada perilaku (soft skill) mahasiswa. Karena seturut pengalamannya, sikap dan tingkah laku seorang tenaga kesehatan sangat penting dalam karya pelayanannya kepada pasien. “Yang kita layani kan manusia, sehingga attitude kita harus baik. Ini yang harus diperhatikan lagi oleh pihak kampus sehingga lulusan Poltekkes benar-benar memberi kontribusi positif bagi derajat kesehatan masyarakat NTT,” tutur Susana.

Monika Mina Ina, lulusan terbaik Jurusan Kesehatan Lingkungan

Monika Mina Ina

Monika Mina Ina mengaku tak punya strategi belajar khusus yang membuatnya bisa meraih predikat cum laude dengan IPK 3,83 dalam gelaran wisuda Poltekkes Kemenkes Kupang periode September 2019. Namun, ada satu kebiasaan yang terbawa sejak kecil, yakni membuat catatan kecil untuk setiap materi kuliah. Ia menyebutnya ‘Buku Saku’.

“Ketika belajar saya selalu membuat catatan kecil. Istilahnya buku saku. Ambil yang penting-penting, buat alurnya agar mudah dimengerti. Ketika lupa hanya membuka sebentar langsung diingat. Itu kebiasaan sejak dulu dan terbawa sampai sekarang,” tutur Monika.

Ternyata strategi itu berhasil mengantar ibu satu orang anak ini menjadi lulusan terbaik. Ada rasa haru dan bangga yang dirasakan oleh Apolonia. Itu semua, menurutnya, karena berkat Tuhan dan dukungan banyak pihak, terutama sang suami.

“Kebetulan saya PNS yang karena aturan harus menjalani tugas belajar ini. Suami yang selalu memotivasi saya. Dan Puji Tuhan perjuangan saya tidak sia-sia. Saya bisa selesai tepat waktu dan mencapai hasil yang baik ini,” kata wanita kelahiran Witihama yang bertugas di Puskesmas Lewolaga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur ini. (*/ENS)

(bersambung)

Baca Juga: Poltekkes Kemenkes Kupang Kembali Hasilkan 1.794 Lulusan

Video:

Advertisement