Langkah Dinkes Kota Kupang & NLR Berantas Penyakit Kusta di Kota Kupang

Kota Kupang, MedikaStar.com

Kusta atau yang lazim dikenal dengan nama lepra atau penyakit Hansen merupakan penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Kusta merupakan salah satu penyakit yang ditakuti sebab dapat menyebabkan kecacatan, mutilasi, ulserasi, dan masalah sosial ekonomi penderita. Namun, oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kusta digolongkan ke dalam kelompok penyakit tropis terabaikan yang ada di Indonesia.

Di Kota Kupang, penyakit Kusta ditemukan pada usia dewasa maupun anak-anak. Case Detection Rate (CDR) di tahun 2016 ialah sebesar 11,2/100.000 penduduk, kemudian di tahun 2017 meningkat menjadi 12,6/100.000 penduduk, dan pada tahun 2018 menjadi 15,6/100.000 penduduk.  Sementara Indikator CDR Nasional ialah < 5/100.000 penduduk.

Selain itu, data juga menunjukan bahwa Prevalensi Kusta di Kota Kupang pada tahun 2016 ialah sebesar 1,6/10.000 penduduk, dan meningkat di tahun 2017 menjadi 1,7/10.000 penduduk, dan terus naik di tahun 2018 menjadi 1,8/10.000 penduduk. Sementara Indikator Prevalensi Nasional ialah sebesar <1/10.000 penduduk.

Demi mengendalikan dan memberantas penyakit kusta tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kupang bersama Netherlands Leprosy Relief (NLR) Indonesia menggelar advokasi kepada para Kepala Puskesmas se-Kota Kupang dan peningkatan kapasitas bagi pengelola program. Kegiatan ini berlangsung di Hotel On The Rock Kupang, Selasa (06/08/19) hingga Rabu (07/08/19).

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinkes Kota Kupang yang diwakili oleh Kepala Bidang P2P Dinkes Kota Kupang, Sri Wahyuningsih mengutarakan bahwa penyakit Kusta selama ini terbaikan dan seolah-olah telah dilupakan oleh banyak orang, padahal dalam kenyataannya penyakit ini masih ada dan terus berkembang.

“Teman-teman di Puskesmas tentunya banyak yang hampir melupakan penyakit ini. WHO juga mengatakan bahwa kusta merupakan penyakit tropis yang terabaikan yang ada di Indonesia, padahal penyakit ini masih ada,” kata Sri.

Oleh karenanya, Sri berharap agar dengan adanya kegiatan ini, semua pihak dapat kembali menaruh perhatian pada penyakit Kusta dan kemudian bergandengan tangan di bawah tagline “Ayo Berubah” yang digagas oleh Walikota Kupang untuk mengendalikan dan memberantas penyakit tersebut dari wilayah Kota Kupang.

“Mari kita melakukan perubahan-perubahan yang indah di Kota Kupang, khususnya untuk kita di bidang kesehatan, sebab sehatnya satu daerah ini ada di tangan kita semua,” ajaknya.

Sementara itu, Ni Putu Yuni Parwati dalam laporan panitia, menjelaskan bahwa ada banyak faktor yang berperan dalam mendukung program pengendalian penyakit Kusta, salah satunya ialah adanya komitmen dan dukungan dari pengambil keputusan atau kebijakan.

Faktor lain yang juga berpengaruh, yakni kurangnya pengetahuan dan informasi tentang Kusta termasuk oleh para penyedia layanan kesehatan. Hal ini berdampak pada tingginya diskriminasi dan stigma terhadap penderita kusta bahkan keluarga penderita yang selanjutnya menjadi suatu halangan dalam upaya pengendalian penyakit Kusta.

Putu melanjutkan bahwa kegiatan advokasi dan peningkatan kapasitas bagi pengelola program dilaksanakan dengan tujuan untuk tersosialisasinya situasi dan kebijakan program pencegahan dan pengendalian penyakit kusta. Selain itu, diharapkan dengan kegiatan tersebut, ada komitmen dan dukungan dari pengambil keputusan dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit kusta, serta terorientasinya petugas dalam penemuan kasus Kusta.

“Hasil yang kita harapkan ialah meningkatnya komitmen dan dukungan dari pengambil keputusan dan LS/LP dalam ketenagaan dan pembiayaan pengendalian penyakit Kusta. Selain itu, kita juga harapkan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan dan dokter dalam tatalaksana penyakit Kusta,” terangnya.

Lebih jauh, di kesempatan yang sama, perwakilan Netherlands Leprosy Relief (NLR) Indonesia, Widyaningrum mengatakan bahwa memang untuk wilayah NTT, kasus Kusta sudah kurang dari 1/10.000 penduduk. Dengan kata lain NTT telah mengeliminasi Kusta. Akan tetapi ada beberapa kabupaten, termasuk Kota Kupang yang jumlah kasusnya masih banyak.

“Mudah-mudahan dengan kegiatan ini, teman-teman kemudian merencanakan program Kusta di Puskesmas, dan kemudian menyisir secara aktif untuk menemukan penderita kusta. Mudah-mudahan ini menjadi langkah awal untuk progress kita selanjutnya di Kota Kupang,” katanya. (*/red)

Baca Juga: Seminar Sehari Penanganan yang Tepat pada Cedera Tulang Belakang

Video:

Pentingnya Home Care untuk Lansia

Advertisement