Lawan Stunting, Wagub NTT: NTT Punya Pohon Ajaib

Kota Kupang, medikastar.com

Wakil Gubernur NTT, Yosef Nae Soi mengutarakan bahwa permasalahan stunting tidak hanya berkaitan dengan permasalahan yang ada di bidang kesehatan. Permasalahan stunting, menurutnya juga berkaitan dengan kemiskinan.

“Kalau orang miskin, gizinya pasti kurang, pasti mengalami problem neurologis, pasti kemampuan intelektualnya rendah,” kata Yosef saat membuka Simposium Penelitian, “Sumplentasi dan Edukasi Nutrisi pada Kesehatan Ibu Hamil dan Tumbuh Kembang Janin, Bayi, dan Anak Pra Sekolah di Kota Kupang.” Simposium yang digelar di Aula Fernandez lantai 4 kantor Gubernur NTT ini diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang provinsi NTT yang bekerja sama dengan IDAI Jawa Timur.

Yosef di kesempatan itu mengatakan bahwa pada umumnya mereka yang pendek biasanya dikategorikan sebagai stunting. Hal ini perlu diperhatikan, mengingat tidak selamanya orang yang pendek adalah orang yang terkena stunting. Justru yang jauh lebih penting dari itu ialah bahwa anak-anak yang stunting mengalami kekurangan gizi kronis.

“Dokter tadi menjelaskan bahwa kalau orang mengalami stunting, aspek kognitifnya pasti rendah. Bayangkan kognitifnya rendah. Ini baru kognitif, belum afektif, belum psikomotoriknya, pasti lebih rendah,” kata Yosef.

Dalam kaitannya dengan upaya pencegahan dan penaggulangan stunting, dirinya menegaskan bahwa NTT sebenarnya memiliki sebuah miracle tree (pohon ajaib) yang memiliki kandungan nutrisi yang luar biasa.

“NTT memiliki marungga yang menurut penelitian WHO mengandung 46 jenis antioksidan, kemudian memiliki mineral, memiliki asam amino esensial, dan beberapa kandungan lainnya. Ini merupakan kekayaan alam NTT yang luar biasa untuk melawan stunting,” kata Yosef.

Oleh karena itu, selain berbagai hasil penelitian ilmiah yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan rekomendasi para ahli, untuk bisa lebih efisien dan efektif, Yosef mengajak masyarakat NTT untuk memanfaatkan kelor demi mencegah dan menanggulangi stunting.

Yosef juga mengajak para peneliti untuk berkolaborasi bersama dalam melakukan penelitian yang lebih mendalam terkait pemanfaatan marungga untuk mencegah dan menanggulangi stunting.

Selain itu, di kesempatan tersebut dirinya juga mengatakan bahwa kegiatan yang digelar oleh IDAI tersebut merupakan kegiatan yang sangat penting mengingat manfaatnya yang begitu besar bagi masyarakat NTT.

“Hasil dari penelitian yang akan dipaparkan hari ini sangat penting, khususnya bagi NTT. Kami atas nama pemerintah dan masyarakat NTT memberikan apresiasi yang tinggi atas hasil penelitian ini,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua IDAI NTT, dr. Frans Taolin, S.PA dalam laporannya menjelaskan bahwa hingga saat ini NTT masih menghadapi berbagai tantangan terkait permasalahan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak. Hal ini terbukti dari beberapa data yang ada di dalam Riskesdas 2018. Bahkan dalam Riskesdas 2018 tersebut, prevalensi stunting di NTT menempati urutan pertama di Indonesia dengan persentasi sebesar 42.6 persen sementara nasional 30.8 persen.

“Sejak 2018 Gubernur dan Wakil Gubernur NTT mencanangkan 3 program prioritas pemerintah NTT yang salah satu di antaranya ialah percepatan pencegahan dan penanganan stunting. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1000 hari pertama kehidupan,” jelas Frans.

Dikatakan olehnya bahwa merujuk pada program pemerintah NTT tersebut dan pengembangannya, IDAI cabang NTT bekerja sama dengan IDAI cabang Jawa Timur telah melakukan penelitian mengenai suplementasi dan edukasi nutrisi pada kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang janin, bayi, dan anak usia Pra sekolah di Kota Kupang yang dilaksanakan sejak bulan Agustus hingga Desember 2017.

“Sebagai bentuk pertanggung jawaban keilmuan, maka hasil penelitian ini akan dipresentasikan kepada para pihak yang terlibat dan lintas sektor yang selama ini berkolaborasi dalam pencegahan dan penanganan stunting di NTT,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Ketua IDAI Jawa Timur, dr. Sjamsul Arief, S.PA (K) berharap agar hasil penelitian yang akan dipaparkan oleh pihaknya tersebut dapat membantu program pemerintah NTT dalam rangka menurunkan prevalensi stunting di NTT.

“Yang lebih penting bukan angkanya tetapi hasil dari pada anak-anak kita nanti, yakni anak-anak kita bisa mencapai tinggi yang sesuai dengan umur, juga yang penting ialah aspek kognitifnya. Jadi tidak hanya tinggi tetapi tinggi dan pandai,” tutupnya.

Usai pembukaan, hasil penelitian yang berjudul, “Sumplentasi dan Edukasi Nutrisi pada Kesehatan Ibu Hamil dan Tumbuh Kembang Janin, Bayi, dan Anak Pra Sekolah di Kota Kupang” tersebut dipaparkan oleh Dr. Simplicia Maria Anggrahini, dr., SpA, IBCLC yang adalah koordinator para peneliti. (*/red)

Baca Juga: Awasi Anak Berinternet, Menteri PPPA: Orangtua & Guru Jangan Gaptek