Lima Pertimbangan untuk Tidak Menyebarkan Identitas Korban Kekerasan Seksual

MedikaStar.com

Kasus kekerasan terhadap perempuan masih marak terjadi di sekitar kita. Dalam CATAHU 2020 yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan pada bulan Maret lalu, tercatat ada 431.471 kasus kekerasan yang terjadi sepanjang 2019. Di dalam angka yang sangat besar tersebut, tentunya kekerasan seksual juga termasuk. Pemberitaan mengenai kekerasan seksual terhadap perempuan selalu menjadi perbincangan serius di kalangan masyrakat.

Di balik informasi yang beredar, terkadang ditemui pula identitas dari orang yang menjadi korban. Hal ini kemungkinan dilakukan oleh media, orang-orang di sekitar kita, atau mungkin kita sendiri. Lantas, apakah hal tersebut perlu dilakukan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, pertimbangkanlah lima hal berikut.

Tujuan Berbagi Informasi Tersebut

Hal pertama yang harus dipertimbangkan sebelum anda hendak membagikan identitas korban kekerasan seksual adalah tujuan anda melakukannya. Identifikasi terlebih dahulu alasan mendasar mengapa informasi tersebut perlu dikumpulkan, dihimpun, serta dibagikan.

Selanjutnya, sebelum mengungkapkan informasi mengenai identitasnya, pikirkan baik-baik potensi keselamatan dan bahaya yang dapat ditimbulkan bagi korban. Lebih jauh lagi, pikirkanlah cara lain untuk berbagai informasi dengan memikirkan aspek etika, privasi, serta potensi dampak negatif yang dapat ditimbulkan.

Dampak Privasi bagi Korban

Setiap orang tentunya memiliki privasi yang ingin dijaga, tak terkecuali korban kekerasan seksual. Pikirkan terlebih dahulu dampak privasi dan keamanan bagi korban sebelum mempublikasikan hal-hal pribadinya. Alasannya karena privasi selalu memiliki hubugan yang sangat erat dengan keselamatan seseorang. Selain itu, identitas yang tersebar cenderung membuat para korban kekerasan seksual takut ingin mencari layanan atau bantuan.

Persetujuan atau Pemberitahuan

Sudahkah anda memiliki persetujuan dari korban kekerasan seksual yang hendak anda bagikan identitasnya? Bicarakanlah terlebih dahulu tentang informasi yang dikumpulkan dan siapa saja yang berhak memiliki akses terhadapnya. Seperti yang diketahui, kehidupan para penyintas kekerasan seksual mungkin saja berbeda atau bisa lebih rumit.

Banyak sekali risiko gangguan, baik secara fisik, mental, dan sosial yang dapat mereka alami. Karena itu, hargai dan lindungilah mereka dengan cara membicarakan terlebih dahulu mengenai kapan, informasi apa, dan kepada siapa informasi pribadi mereka disampaikan pada orang lain. Hargailah setiap keputusan yang mereka ambil.

Bisa atau Tidak Diidentifikasi

Di era teknologi yang semakin canggih saat ini, menyamarkan identitas merupakan suatu hal yang sulit dilakukan. Selain itu, sering kali terdapat juga terlalu banyak data informasi atau clue yang menarik orang lain untuk dapat mengidentifikasinya. Data tersebut seperti lokasi, nama pelaku, kombinasi usia, hingga ras.

Contohnya, data mengenai korban pemerkosaan wanita berusia 16 tahun, Asia-Eropa, serta berasal dari alamat tertentu. Informasi tersebut bisa dengan mudah diidentifikasi. Lebih lanjut, efek mosaik pun dapat terjadi. Artinya, informasi tersebut tidak bisa diidentifikasi, tetapi digabungkan dengan kumpulan data lain sehingga timbul identifikasi ulang individu. Alhasil, kesimpulan identifikasi yang diambil menjadi keliru.

Prinsip Keadilan bagi Korban

Berikutnya, setelah anda memahami bahwa sebuah informasi mengenai identitas korban kekerasan seksual bisa dikumpukan dan dibagikan, gunakanlah hati nurani anda. Apakah hal tersebut dapat mendatangkan keadilan dan kenyamanan bagi korban?

Prinsip praktik informasi yang adil wajib digunakan sebagai pedoman dalam proses pengumpulan dan penyebaran informasi bagi organisasi yang diperkenankan melakukannya. Apalagi data yang dipergunakan adalah data pribadi atau privasi.

Prinsip tersebut telah mencakup transparansi, keterlibatan korban, tujuan penggunaan informasi, pembatasan pengumpulan dan penggunaan data, kualitas dan integrasi data, keamanan, serta akuntabilitas. Selalu ada cara terbaik untuk berbagi informasi dan menjaga privasi secara bersamaan.

Pertimbangan-pertimbangan di atas perlu dimiliki oleh semua pihak yang terlibat dalam penyebaran informasi. Media dan masyarakat pun termasuk di dalamnya. Jagalah privasi dari dari korban kekerasan seksual. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan terbaik yang dapat diberikan orang lain padanya. (har/techsafety)

Baca juga: Mengapa RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Sangat Penting?

Tetaplah Jaga Iman, Aman, dan Imun Kita!