Matahari Lockdown, Apa Efeknya bagi Pandemi yang Sedang Berlangsung?

MedikaStar.com

Belakangan ini cukup banyak beredar informasi bahwa matahari sedang lockdown. Banyak pula informasi bahwa hal tersebut dapat mengakibatkan bencana dan kerugian lainnya. Mungkin saja ini akan menambah kekhawatiran bagi masyarakat.

Lantas, apa yang dimaksud dengan matahari lockdown? Apa pula efeknya bagi kesehatan masyarakat di tengah pandemi ini.

Matahari lockdown merupakan masa matahari memasuki kondisi yang disebut solar minimum dan akan memasuki periode terdalam dari resesi sinar matahari. Hal ini dikarenakan bintik matahari hampir tidak terlihat sama sekali.

Bintik matahari atau sun spot adalah bintik berwarna hitam yang terdapat pada permukaan matahari. Bintik hitam tersebut menandakan adanya konsentrasi medan magnet yang kuat. Selain medan magnet yang kuat, suhu juga akan menjadi lebih rendah dibanding daerah lain di sekitarnya. Sebenarnya hal ini dapat dikatakan cukup normal terjadi, karena solar minimum adalah kondisi rutin yang bisa dialami oleh matahari.

“Setiap 11 tahun atau lebih, bintik matahari memudar, membawa periode yang relatif tenang. Ini disebut solar minimum dan hal tersebut adalah bagian rutin dari siklus bintik matahari,” kata Dean Pesnell dari Godard Space Flight Center NASA, dilansir dari timesnownews.com.

Fenomena matahari lockdown bisa menyebabkan terjadinya beberapa hal. Curah hujan tahunan bisa saja meningkat dan lebih tinggi di sejumlah negara. Musim dingin bisa saja menjadi lebih dingin dan mungkin saja akan muncul badai. Kekeringan, kelaparan, gempa bumi, dan bencana lainnya juga dapat terjadi di bumi.

Mengetahui hal-hal tersebut, banyak masyarakat agaknya menjadi khawatir. Terlebih lagi, dunia sedang berada dalam masa pandemi covid-19. Banyak orang pun bertanya-tanya mengenai efek dari kondisi matahari lockdown bagi kesehatan dan pandemi covid-19.

Bagi masyarakat Indonesia, kondisi ini nampaknya tidak perlu dikhawatirkan. Dalam akun instagramnya, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyampaikan bahwa baik solar maksimum maupun solar minimum adalah siklus aktivitas matahari yang sudah terjadi sejak lama. Hal ini tidak akan berdampak signifikan pada cuaca dan tidak terkait bencana.

Cuaca yang tidak kondusif dan bencana yang terjadi tentu dapat memperparah kondisi pandemi yang ada. Akan tetapi, matahari lockdown tidak berpengaruh signifikan terhadap hal tersebut. Jadi, situasi yang ada dalam masa ini dapat dikatakan cukup aman.

Sementara itu, dilansir dari CNN Indonesia, Rukman Nugraha yang adalah peneliti astronomi BMKG mengatakan bahwa saat ini belum banyak kajian risiko dari kondisi matahari lockdown di Indonesia.

“Saat ini belum banyak kajian mengenai hal ini di Indonesia. Bisa jadi karena pencatatan parameter-parameter cuaca di Indonesia tidak sepanjang di Eropa sehingga bisa menyulitkan dalam menarik kesimpulan. Sekarang kondisi matahari memang sedang minimum, namun diperkirakan tidak akan mencapai Dalton minimum apalagi Maunder minimum,” kata Rukman.

Kondisi matahari lockdown tidak terlalu akan mempengaruhi wilayah Indonesia. Akan tetapi, masyarakat tetap perlu waspada, khususnya pada ancaman penularan covid-19. Meski tidak terdapat hubungan yang signifikan, masyarakat perlu tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat.

Arahan untuk tetap menjaga jarak aman, menggunakan masker, rajin cuci tangan, gerakan fisik, hingga konsumsi makanan bergizi perlu terus dijalankan. Lebih jauh lagi, menjelang hari raya Idul Fitri, masyarakat diharapkan tidak mudik.

Seperti yang diketahui, ketika mudik sering kali terjadi kerumunan pada titik-titik seperti bandara, stasiun kereta api dan bus, hingga pelabuhan. Hal ini dapat mempermudah dan mempercepat penyebaran covid-19.

Dalam masa pandemi sekarang ini, terdapat berbagai macam kondisi dan situasi yang mungkin saja dapat memperburuk kesehatan masyarakat. Karena itu, tetaplah jaga kesehatan dan tetap ikuti arahan yang diberikan agar penyebaran covid-19 bisa dicegah dan diatasi dengan baik. (har)

Baca juga: Langkah Maju Perusahaan AS Moderna untuk Menemukan Vaksin Covid-19