Memahami Penyebaran Covid-19 secara Asimtomatik dan Presimtomatik

MedikaStar.com

Penyebaran Covid-19 dapat terjadi secara mudah dan cepat. Terlebih lagi, jika orang-orang yang telah terinfeksi tidak mengetahui bahwa telah terdapat virus Corona di dalam tubuh mereka. Karena itu, upaya pencegahan perlu dijalankan secara taat. Salah satu cara terbaik untuk menerapkannya adalah memahami tentang cara penyebaran Covid-19.

Terdapat dua cara penyebaran Covid-19 yang perlu dipahami, yakni secara Asimtomatik dan Presimtomatik. Apa yang dimasud dengan kedua hal tersebut?

Kasus Asimtomatik

Penyebaran secara asimtomatik terjadi ketika orang yang telah terinfeksi sama sekali tidak menunjukkan gejala. Hal ini membuat kasus asimtomatik biasanya disebut sebagai kasus tanpa gejala.

Kasus tanpa gejala sangat sulit dideteksi dan diketahui jumlahnya. Hal ini bahkan diakui oleh World Health Organization (WHO). Diperlukan pengujian secara luas dan pemenuhan data-data yang banyak agar pemahaman mengenai kasus asimptomatik dapat dimiliki.

“Asimtomatik adalah ketika seseorang tidak memiliki gejala tetapi terinfeksi virus,” kata Dr. Jeninifer Lighter, MD, seorang Epidemiolog di NYU Langone Health, seperti dilansir dari health.com.

Kasus Presimtomatik

Di fase presimtomatik, seseorang telah terinfeksi virus Corona dan telah menyebarkannya. Lebih lanjut, gejala dari Covid-19 dapat muncul sewaktu-waktu. Gejalanya dapat muncul selama masa inkubasi virus Corona, yakni dalam waktu 2 sampai 14 hari.

Hal inilah yang membuat pemerintah menganjurkan isolasi mandiri pada beberapa orang yang terindikasi telah ternfeksi, meski orang itu tidak memiliki penyakit atau gejala. Dalam temuan kasus presimtomatik, bahkan beberapa orang telah dites positif Covid-19 dalam waktu 1 sampai 3 hari sebelum mereka menunjukkan gejala.

“Presimtomatik adalah fase ketika seseorang terinfeksi, tetapi belum mengembangkan gejala,” kata Dr. Lighter.

Perlunya Kewaspadaan

Kasus asimtomatik dan presimtomatik perlu diwaspadai oleh semua masyarakat. Alasannya karena keduanya merupakan bentuk “silent spreader” atau penyebaran senyap. Dibandingkan dengan kasus positif yang menunjukkan gejala, kedua bentuk penyebaran ini dapat menyebarkan virus Corona pada orang lain tanpa mereka ketahui.

Satu-satunya cara untuk mengetahui seseorang telah terinfeksi Covid-19, sebelum ia menunjukkan gejala adalah melakukan tes PCR. Tes PCR dapat mendeteksi informasi geneti virus atau RNA secara sensitif dan memiliki tingkat keakuratan yang tinggi.

Baru-baru ini seorang ahli virologi dari Jepang mengatakan bahwa penyebaran senyap menjadi penyebab dari virus Corona yang meluas secara cepat. Penyebabnya karena kluster dari orang-orang yang tidak menunjukkan gejala tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi dan menyebarkan Covid-19 pada orang lain.

“Banyak data menunjukkan bahwa penularan presimtomatik cukup umum, ini yang menyulitkan pengendalian virus,” kata Prof. Hitoshi Oshitani, seorang Ahli Virologi di Fakultas Kedokteran Universitas Tohoku, dilansir dari dw.com.

Selain penyebaran senyap, orang-orang yang positif tetapi tidak terdokumentasi juga dapat menjadi penyebar virus yang berbahaya. Hal ini juga cukup sulit ditangani. Penyebabnya adalah orang-orang yang memiliki gejala tidak dites karena satu dan lain alasan.

Menilik hal-hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa semua orang memiliki risiko yang sama untuk terinfeksi. Oleh karena itu, penerapan protokol kesehatan yang telah dianjurkan wajib diterapkan secara taat.

Penerapan jaga jarak, menggunakan masker, serta mencuci tangan menjadi hal yang wajib dilakukan oleh semua orang. Selain itu, ketika memiliki gejala Covid-19, segeralah datangi fasilitas kesehatan penanganan Covid-19 untuk dites dan mendapatkan arahan yang tepat.

Pemahaman mengenai asimtomatik dan presimtomasik sangat diperlukan oleh masyarakat. Dengan mengetahuinya, masyarakat dapat menjadi lebih taat dan disiplin dalam menjalankan setiap protokol kesehatan yang dianjurkan.

Baca juga: Pentingnya Pendekatan Budaya dalam Pencegahan Penyebaran Covid-19