Mengenal Covid-19 Varian Delta yang Disebut Lebih Berbahaya

MedikaStar

Virus Covid-19 varian Delta menyebar dengan sangat cepat ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Covid-19 varian Delta pertama kali ditemukan di India pada Desember 2020. Menurut webmd.com, virus Corona varian Delta kini telah menyebar ke 74 negara dalam kurun waktu enam bulan setelah ditemukan di India.

Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan per 13 Juni, sudah ada 107 varian Delta yang tersebar di tanah air.

Berikut ini beberapa fakta tentang Virus Corona Varian Delta

Lebih Menular

Para ahli kesehatan mengatakan Covid-19 varian Delta diperkirakan lebih mudah menular dibandingkan varian sebelumnya, yakni sebesar 43 persen sampai 90 persen. Di Inggris, ada lebih dari 42 ribu kasus varian Delta, naik 70 persen dari minggu sebelumnya atau naik 29 ribu kasus dalam waktu sepekan.

“Juga, Public Health England (PHE) melaporkan bahwa varian Delta ternyata 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alfa. Juga waktu penggandaannya (doubling time) berkisar antara 4,5 sampai 11,5 hari,” jelas Prof Tjandra Yoga Aditama, Mantan Direktur WHO SEARO, dikutip dari Detik.com.

Keparahan penyakit

Meski varian Delta belum terkonfirmasi membuat infeksi lebih berat atau menyebabkan kematian yang lebih tinggi, ada laporan peningkatan kasus rawat inap akibat varian ini.

“Di sisi lain, memang ada beberapa laporan yang membahas tentang kemungkinan lebih beratnya penyakit yang ditimbulkan varian ini,” papar Prof Tjandra.

Reinfeksi

Dalam pemaparannya, Prof Tjandra menyinggung dampak varian Delta terhadap kemungkinan terinfeksi ulang sesudah sembuh. Ia mengatakan ada laporan bahwa pada varian Delta, terjadi penurunan aktifitas netralisasi yang berkaitan dengan risiko reinfeksi.

Diagnosis

Sejauh ini belum ada laporan ilmiah yang sahih tentang dampak varian Delta terhadap hasil pemeriksaan COVID-19 dengan PCR dan atau rapid antigen.

Gejala

Gejala utama dari infeksi varian delta tampak berbeda dibandingkan dengan yang dialami saat terinfeksi varian Covid-19 sebelumnya. Para ahli dari King’s College London menunjukkan bahwa gejala utama tersebut yakni sakit kepala, sakit tenggorokan, dan pilek.

Varian Delta menunjukkan gejala seperti pilek pada umumnya yang menimbulkan kesalahpahaman pada seseorang dan berakibat mengabaikan gejalanya. Salah satu pendiri ZOE, Prof. Tim Spector memperingatkan hal tersebut dan menyarankan untuk tetap melakukan isolasi dan tes usap (swab test).  

“Bertindak secara berbeda saat ini, lebih seperti pilek. Mungkin varian delta ini hanya terasa pilek atau perasaan ‘tidak enak’ tetapi tetaplah untuk berada di dalam rumah dan lakukan tes,” kata prof. Tim Spector.

Kebal vaksin?

Laporan awal dari Inggris menunjukkan ada sedikit penurunan efektifitas vaksin Pfizer BioNTech dan AstraZeneca-Vaxzevria terhadap varian Delta dibandingkan dengan varian Alfa. Penelitian lain yang dipublikasi di jurnal internasional Lancet menemukan adanya penurunan netralisasi pada varian Delta yang diberi vaksin Pfizer, lebih tinggi dari penurunan netralisasi pada varian Alfa dan Beta.

“Dari berbagai data yang ada maka secara umum pemberian vaksin Pfizer dan AstraZeneca dua dosis masih dapat melindungi terhadap varian Delta, tetapi memang harus dua kali dan jangan hanya satu kali,” ujar Prof Tjandra. (detik.com/bisnis.com)

Baca juga: Ini Perbedaan Virus Corona Varian Alpha, Beta dan Delta