Mengenal dr. Terawan, Sosok ‘Cuci Otak’ yang Jadi Menteri Kesehatan RI

Jakarta, MedikaStar.com

Kepala Rumah Sakit Pusat TNI Angkatan Darat Gatot Soebroto, dr. Terawan Agus Putranto secara resmi diumumkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Kesehatan RI, Rabu (23/10/19) pagi. Selain dr. Terawan, dalam kesempatan tersebut, 37 pembantu Presiden lainnya juga secara resmi diperkenalkan kepada publik.

Lantas siapakah sosok dr. Terawan Agus Putranto yang menjadi Menteri Kesehatan RI ini?

dr. Terawan Agus Putranto merupakan sosok dokter lulusan dari Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta. Sejak kecil, pria kelahiran Yogyakarta, 5 Agustus 1964  telah bercita-cita untuk menjadi seorang dokter, sehingga setelah lulus SMA, dirinya langsung menempuh pendidikan kedokteran. Usai menamatkan pendidikan di Fakultas Kedokteran UGM, Ia kemudian mengabdi sebagai seorang dokter TNI Angkatan Darat.

Sebagai dokter TNI AD, Ia kemudian ditugaskan ke beberapa daerah, di antaranya Bali, Lombok, dan Jakarta. Dalam perjalanan waktu, dr. Terawan kemudian menempuh pendidikan Spesialis Radiologi Intervensi di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Di tahun 2013 Ia melanjutkan pendidikan Doktoral di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar dan lulus pada tahun 2016 usai berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul, ”Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis.”

Di beberapa tahun belakangan, dr. Terawan muncul dan kemudian viral sebagai ‘dokter penyembuh stroke’ lewat metode baru yang Ia gunakan, yang Ia sebut sebagai metode ‘brainwash’ alias ‘cuci otak’ dengan Digital Subtraction Angiography (DSA). Dengan metode ini, dalam pengalamannya, pasien stroke dapat sembuh dari stroke usai 4-5 jam pasca operasi. Metode pengobatannya bahkan telah diterapkan di Jerman dengan nama paten ‘Terawan Theory.’

Metode ‘cuci otak’ ala dr. Terawan ini menimbulkan pro kontra dalam dunia kedokteran. Metode ini dipertanyakan karena dinilai tak ilmiah. Dalam dunia kedokteran, DSA memang sudah lazim digunakan. Khusus di bidang neurologi, DSA disebut cerebral angiography, digunakan untuk memeriksa gejala gangguan pembuluh darah otak (stroke iskemik).

Atas hal ini, dr. Terawan dianggap melanggar kode etik keprofesian oleh Majelis Kehormatan Etika Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI). Karena pelanggaran itu, dirinya direkomendasikan untuk dipecat. Saran pemecatan sementara sebagai anggota IDI selama 12 bulan, terhitung sejak 26 Februari 2018 sampai 25 Februari 2019.

Akan tetapi, belakangan, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) memutuskan untuk menunda pemecatan atau pencabutan keanggotaan dr. Terawan Agus Putranto di organisasi profesi tersebut. Penundaan ini diharapkan dapat meredam kegaduhan yang timbul di seluruh Indonesia terkait pro dan kontra metode ‘cuci otak’ tersebut. Selama penundaan sementara itu, dokter Terawan masih berstatus anggota IDI, memiliki izin praktik dan bisa menjabat Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto.

Meski metode terus dipertanyakan dan diperdebatkan, faktanya metode ‘cuci otak’ ala dr. Terawan telah sukses menyembuhkan banyak penderita stroke ringan ataupun berat.

Dalam kiprahnya, dr. Terawan telah mendapatkan sejumlah penghargaan, seperti penghargaan Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) dan sejumlah penghargaan lainnya.

Kini, sosok ‘penyembuh stroke’ dengan metode ‘cuci otak’ ini telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Kesehatan. Olehnya, Ia mengutarakan bahwa dengan menerima tawaran Jokowi untuk menjadi Menkes maka Ia harus melepaskan semua jabatannya saat ini sebagai Kepala RSPAD Gatot Soebroto. Selain itu Ia juga harus mundur sebagai anggota TNI.

“Begitu dilantik, saya pensiun, tapi saya tetap dokter,” kata dr. Terawan.

Lebih jauh, Ia mengatakan bahwa ada beberapa hal yang telah didiskusikan olehnya bersama Jokowi, mulai dari persoalan defisit Badan Penyelenggara Jaminan (BPJS) Kesehatan hingga persoalan stunting.

“Harapan bisa terselesaikan dengan baik dan bisa membahagiakan semua,” tutup dr. Terawan. (*/dari berbagai sumber)

Baca Juga:

Pelatihan BCLS & ACLS, Tenaga Kesehatan Diminta untuk Miliki Komitmen Melayani