Mengenal Klorokuin dan Avigan, Obat yang Dipesan Untuk Menangani Covid-19

MedikaStar.com – Pemerintah sedang mengadakan obat yang digadang-gadang bisa mengatasi Corona (Covid-19). Obat tersebut adalah klorokuin dan avigan. Kedua obat ini telah digunakan di beberapa negara dan terbilang cukup efektif dalam menangani pasien Corona.

Obat klorokuin dan avigan telah dipesan dalam jumlah yang banyak oleh pemerintah. Akan tetapi, apakah kedua obat tersebut benar-benar bisa mengobati Covid-19?

Hingga kini belum ditemukan obat yang secara pasti dapat menyembuhkan atau mencegah infeksi virus Corona. Para pasien yang sembuh ditangani dengan cara diberi penanganan khusus dari tenaga medis yang merawatnya. Penanganan terbaik saat ini adalah mengobati gejala-gejala yang muncul dari infeksi tersebut. Gejala seperti batuk, demam, sesak napas, dan gejala-gejala lain dari infeksi Coronalah yang mendapatkan pengobatan.

Selain itu, para pasien juga diberikan pemahaman agar tidak stres. Mereka juga diberikan makanan yang bergizi, serta dibimbing untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat lainnya. Dengan begitu, sistem imun mereka akan menjadi kuat dan dapat mengalahkan virus Corona di dalam tubuh.

Obat klorokuin dan avigan yang diadakan pemerintah bukanlah obat first line, melainkan obat second line dalam pengobatan Corona. Obat first line merupakan obat yang pertama kali digunakan atau diprioritaskan. Obat ini dipilih berdasarkan bukti uji klinis dalam hal kemanjuran dan keamanan yang telah dirasakan.

Obat second line adalah jenis obat yang kurang efektif dan bersifat lebih toksik dibandingkan obat first line. Penggunaannya perlu diperhatikan dengan baik agar tidak mendatangkan dampak negatif bagi tubuh. Oleh karena itu, obat klorokuin dan avigan perlu dikenal dengan baik agar masyarakat tidak mengalami salah konsumsi dan akhirnya dapat merugikan diri sendiri.

Klorokuin adalah obat yang biasa digunakan untuk mengobati malaria. Klorokuin menjadi salah satu obat potensial dalam penanganan Corona. Sebuah study dari Cina melaporkan bahwa obat ini dapat meningkatkan keberhasilan proses pengobatan dan mempersingkat waktu pasien di rumah sakit.

Klorokuin berguna dalam mencegah virus untuk mengikat sel manusia atau masuk ke dalam sel untuk bereplikasi. Cara kerjanya adalah zat obat akan memasuki endosom di dalam membran sel. Banyak virus termasuk virus Corona (Sars-CoV-2) perlu mengasamkan endosom guna melewatinya dan masuk ke dalam sel. Setelahnya, virus akan bereplikasi di dalamnya. Obat klorokuin akan memblokir langkah tersebut.

Sebuah laporan pada tahun 2005 juga menunjukkan bahwa klorokuin dapat mencegah virus corona untuk memasukan reseptornya yang disebut angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) pada sel. Ketika virus memasukan proteinnya ke dalam reseptor ACE2, akan terjadi pemicuhan proses kimia yang mengubah struktur reseptor dan memungkinkan virus untuk menginfeksi sel. Dosis yang cukup dari klorokuin dapat merusak proses tersebut.

Penggunaan klorokuin perlu mengikuti anjuran serta resep dokter. Jika tidak, obat ini dapat mengakibatkan efek samping seperti mual, muntah, diplopia, dan vertigo. Overdosis obat ini bahkan dapat mengakibatkan keracunan hingga kematian.

Obat yang berikut adalah avigan atau biasa juga disebut favipiravir. Obat yang dikembangkan oleh anak perusahaan Fujifilm, Toyota Chemical ini berfungsi untuk melawan virus RNA. Virus Corona termasuk dalam kelompok virus RNA. Obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi influenza hingga demam kuning.

Cara kerja dari avigan adalah menghambat selektif polimerase RNA yang berhubungan dengan RNA dari virus. Polimerase adalah enzim yang mensintesis rantai panjang polimer atau asam nukleat dan berguna dalam proses replikasi RNA. Avigan juga dapat merangsang mutasi transversi RNA yang mematikan bagi virus.

Dilansir dari The Guardian, otoritas Cina menyampaikan bahwa avigan efektif dalam menangani pasien Corona. Pasien yang diberi obat akan mengalami perubahan menjadi negatif dari virus, setelah empat hari positif terinfeksi virus. Cara ini lebih efektif dibandingkan 11 hari rata-rata pengobatan yang sama sekali tidak menggunakan obat.

Meski begitu, pihak kementerian kesehatan Jepang mengatakan bahwa avigan tidak efektif digunakan pada orang dengan gejala yang lebih parah. Hal ini terbukti dengan pemberian avigan pada 70 hingga 80 orang. Obat tersebut tidak berfungsi dengan baik ketika virus telah berlipat ganda di dalam tubuh.

Pemberiannya juga harus sesuai resep dokter. Selain itu, wanita hamil disarankan untuk tidak menggunakan obat ini karena dapat mengganggu janin.

Klorokuin dan avigan merupakan pilihan yang ada sekarang untuk membantu proses pengobatan Corona. Akan tetapi, pemberian obat tersebut hanya boleh diberikan oleh dokter setelah pasien mendapatkan pemeriksaan khusus.

Obat-obatan tersebut termasuk dalam jenis obat yang keras. Untuk menggunakannya, terlebih dahulu harus didiagnosis dan mendapatkan resep dari dokter. Obat tersebut juga sebenarnya tidak boleh dibeli dan dijual sembarangan. Jika ada, hal tersebut sudah menyalahi aturan.” Kata Prof. Keri Lestari, guru besar Farmakologi, Universitas Padjajaran saat diwawancarai oleh Tv One.

Upaya terbaik dalam menangai wabah Corona adalah dengan menerapkan proses pencegahan. Pencegahan dapat dilakukan dengan mematuhi kebijakan pemerintah yakni social distancing, mengonsumsi makanan yang bergizi, rajin cuci tangan dengan benar, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat lainnya.

Utamakanlah pencegahan dengan mengonsumsi vitamin dan herbal, serta menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat.” Jelas Prof. Keri Lestari.

Obat yang diadakan oleh pemerintah bukanlah obat yang secara langsung dapat mengalahkan virus tersebut. Penggunaan obat ini juga perlu memperhatikan pemeriksaan dan resep khusus dari dokter. Upaya terbaik dalam melawan infeksi Corona adalah dengan melakukan tindakan pencegahan. Selanjutnya, jika dirasa adanya gejala sakit, segeralah hubungi petugas medis agar dapat ditangani dengan baik dan benar. (har)

Baca juga: 8 Ton Lebih Alkes dari Cina Tiba di Indonesia