Mengenal Listeria, Bakteri yang Cemari Jamur Enoki dari Korea

MedikaStar.com

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah memusnahkan jamur enoki di dalam negeri. Alasannya karena jamur yang berasal dari Korea tersebut telah tercemar bakteri listeria. Konfirmasi atas tercemarnya jamur enoki didapat melalui pengujian dalam negeri dan informasi dari negara Australia, Amerika, serta beberapa negara lainnya.

Lantas, apa itu bakteri listeria? Apa pula dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan dari bakteri ini? Mari mengenal bakteri listeria yang telah mencemari jamur enoki.

Penjelasan Singkat tentang Bakteri Listeria

Bakteri listeria atau Listeria monocytogenes adalah bakteri yang mampu hidup di tempat yang memiliki oksigen atau tanpa oksigen. Bahkan, bakteri yang namanya diambil dari Joseph Lister, seorang ahli dan dokter dari Inggris tersebut dapat hidup dan tumbuh pada suhu serendah 0°C. Di sisi lain, bakteri listeria juga dapat berkembang biak dengan baik pada suhu 30°C hingga 37°C.

Salah satu spesies bakteri patogen ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi listeriosis. Bakteri gram positif dalam divisi Firmicutes ini dapat dikatakan sebagai patogen bawaan makanan yang sangat ganas. Hal ini dikarenakan sekitar 30% dari infeksi listeriosis dapat menyebabkan risiko yang sangat fatal.

Bahan Makanan yang Bisa Terkontaminasi Bakteri Listeria

Sebenarnya, selain jamur enoki, semua jenis makanan dapat terkontaminasi bakteri listeria. Melansir Food Poisoning Buletin, berikut ini merupakan beberapa jenis makanan yang berisiko tinggi terkontaminasi.

Makanan pertama adalah keju lunak. Keju lunak dibuat dari susu mentah yang tidak dipasteurisasi. Pasteurisasi adalah proses pemanasan makanan yang bertujuan untuk membunuh bakteri atau patogen yang dapat merugikan, serta menyebabkan penyakit.

Hal tersebut membuat keju lunak berkali-kali lipat lebih mungkin terkena kontaminasi bakteri listeria dibandingkan dengan susu yang telah dipasteurisasi. Tak hanya dipengaruhi oleh kandungannya, kontaminasi juga dapat terjadi karena kebersihan atau sanitasi tempat pengolahan yang tidak bersih.

Makanan yang berikutnya adalah kecambah atau taoge. Dianggap berisiko tinggi karena kondisi pertumbuhan bahan makanan ini dapat mendukung perkembangbiakan bakteri. Kontaminasi yang terjadi pada kecambah bisa saja telah terjadi sejak kecambah masih berbentuk benih.

Kecambah akan sangat berisiko tinggi menyebabkan penyakit ketika dikonsumsi dalam kondisi mentah atau belum dimasak. Bahkan, setelah dibilas dengan air pun, bakteri yang terdapat pada kecambah tidak bisa hilang.

Selanjutnya, ikan asap yang didingingkan juga termasuk dalam makanan yang berisiko terkontaminasi. Ikan asap dingin yang dimaksudkan seperti salmon, cod, hingga tuna. Selain itu, makanan seperti es krim, buah melon, hingga junk food dengan pengolahan yang tidak bersih dan benar, berisiko tinggi menyebabkan infeksi listeriosis.

Akibat dari Infeksi Bakteri Listeria

Ketika seseorang telah terinfeksi bakteri listeria, akan muncul beberapa tanda. Dilansir dari WebMD, tanda-tanda tersebut antara lain diare, mual, otot yang terasa pegal, serta demam.

Tanda-tanda tersebut dapat muncul beberapa hari atau bulan setelah seseorang mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Jika hal-hal tersebut telah dirasakan, segeralah hubungi dokter untuk mendapatkan pengobatan.

Akibat yang lebih fatal dapat terjadi jika infeksi menyebar sampai ke sistem syaraf penderita. Hal ini dapat terjadi pada orang-orang yang berusia sangat tua atau sangat muda dengan sistem imun yang cukup lemah. Jika infeksi telah menyebar, beberapa tanda seperti sakit kepala, leher kaku, rasa bingung, kehilangan keseimbangan, serta kejang akan muncul.

Pencegahan terhadap Infeksi Bakteri Listeria

Pencegahan terhadap infeksi bakteri listeria meliputi kebersihan dan pengolahan makanan yang baik. Untuk menjaga kebersihan, semua permukaan dapur dan peralatan yang dipakai perlu dibersihkan dengan air panas bersabun setelah kegiatan memasak selesai dilakukan.

Pastikan bahan makanan seperti sayuran dibersihkan dengan teliti sebelum diolah. Selanjutnya, masaklah makanan seperti daging, unggas, hingga telur pada suhu mencapai 160°C. Jauhkan juga daging atau unggas mentah dari bahan makanan yang lain.

Selain itu, ingatlah untuk mencuci tangan sebelum mengolah makanan. Lebih lanjut, sebelum mengolah buah melon, cuci atau sikatlah permukaannya hingga bersih dan segeralah makan setelah buah tersebut dipotong. Jangan lupa juga untuk menjaga suhu kulkas di bawah 4°C dan suhu freezer di bawah -17°C.

Kasus ini dapat menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih memperhatikan bahan makanan yang hendak dikonsumsi. Mari telitilah dahulu dan olahlah makanan secara bersih. Jangan lupa juga untuk menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan. Tujuannya agar bahan makanan yang diolah dan dikonsumsi bisa terbebas dari kuman penyebab penyakit. (har)

Baca juga: Kaum Disabilitas di Tengah Pandemi