Mengenal Sindrom Putri Tidur yang Dialami oleh Bocah Shaka

MedikaStar.com

Banyak orang tentu mengetahui tentang kisah putri tidur. Dongeng yang sudah dimuat di komik, buku cerita, bahkan televisi tersebut telah menemani masa kecil dari banyak anak-anak. Tetapi siapa sangka, putri tidur tidak hanya ada dalam dunia dongeng.

Di dunia nyata, terdapat suatu kelainan yang dinamakan sindrom putri tidur. Hal ini dialami oleh seorang anak berusia 18 bulan bernama Shaka, yang sudah tidur sejak usianya masih delapan bulan. Meski begitu, penderita kelainan ini tidak memakan apel beracun sehingga tertidur. Lantas, seperti apakah sindrom ini?

Kisah sang balita Shaka yang menjadi viral bermula ketika ibunya menceritakan hal tersebut melalui unggahan di platform TikTok. Kelainan yang dialami Shaka membuatnya tidak bisa beraktivitas selayaknya anak normal, namun terus tertidur pulas. Meski begitu, ia tetap bisa mengonsumsi makanan dan minuman yang diberikan oleh ibunya.

Pengertian

Dalam dunia medis, sindrom putri tidur atau sleeping beauty syndrome dikenal sebagai Kleine-Levin Syndrome (KLS). KLS adalah sebuah kelainan neurologis yang kompleks dan langka. Hal tersebut membuat pengidapnya memiliki jumlah tidur yang berlebihan, berkurangnya pemahaman tentang dunia sekitar, serta perubahan perilaku. Kelainan ini terjadi dalam periode yang berulang-ulang.

Orang yang mengalami sindrom ini tentu sangat dirugikan. Ia tidak bisa merawat dirinya sendiri dan beraktivitas seperti biasa. Pada awal terjadinya, penderita akan merasakan kantuk dalam waktu yang lebih dari biasanya di saat pagi dan malam. Terkadang, ia hanya akan bangun untuk makan dan mandi. Selanjutnya, jika sudah lebih parah, kelainan tidur dapat terjadi selama 10 tahun atau lebih.

Orang yang Berisiko

Gangguan ini dapat menyerang anak-anak hingga remaja dan pemuda. Hingga sekarang, penyebab KLS belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, beberapa ahli mempercayai bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kelainan ini.

Contohnya seperti cidera yang terjadi di hipotlamus. Hipotalamus adalah bagian otak yang bertugas untuk mengontrol suhu tubuh, nafsu makan, serta tidur. Walaupun begitu, untuk membuktikan hal ini, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan.

Tanda dan Gejala

Terdapat beberapa tanda dan gejala dari seseorang yang mengalami KLS. Gejala utama yang sangat terlihat adalah kantuk yang ekstrim. Bahkan, penderita bisa merasakan kelelahan yang tinggi dan tidur selama 20 jam setiap hari.

Selain kantuk yang berat, terdapat gejala lain yang dapat dipicu. Gejala tersebut seperti halusinasi, disorientasi, mudah marah, perilaku yang kekanak-kanakan, nafsu makan yang berlebihan, hingga dorongan seks yang besar bagi orang dewasa. Gejala-gejala ini bisa terjadi sebagai akibat dari berkurangnya aliran darah yang mengalir ke otak.

Gejala-gejala itu berlangsung secara episodik. Episode dari KLS bersifat siklus. Ketika episodenya dimulai, gejala kelainan tidur dapat bertahan selama berhari-hari, minggu, bahkan bulan. Hal tersebut membuat penderita tidak bisa melaksanakan aktivitas normalnya dan terus tertidur. Bahkan, ketika bangun pun ia akan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi.

Pengobatan dan Penanganan

Belum terdapat pengobatan khusus untuk menyembuhkan penderita KLS. Penyakit ini baru dapat dikelola oleh beberapa obat-obatan pendukung dari para dokter. Obat-obat yang diberikan hanya berguna untuk menekan efek dari tidur berlebihan yang dialami. Cara terbaik untuk menangani penderita KLS adalah mengenali episodenya, serta memberi dukungan dan perawatan diri yang baik padanya.

Selain Shaka, masih ada juga orang lain di berbagai belahan dunia yang mengalami sindrom putri tidur. Meski belum terdapat cara penyembuhan yang khusus, mereka harus tetap didukung oleh keluarga dan orang-orang terdekat. Perawatan yang baik akan membuat mereka dapat bertahan. Mari sama-sama berharap agar para penderita bisa mendapatkan kesembuhan melalui penanganan yang baik.

Baca juga: Jumlah Kasus Covid-19 Tak Lagi Diumumkan, Masyarakat Perlu Memahami Laju Insidensi