IBI Kota Kupang

Menjaga Generasi Penerus NTT dari Infeksi Penyakit Menular Seksual

Kota Kupang, Medikastar.com

Pelayanan kesehatan dengan standar pelayanan minimum perlu diberikan oleh tenaga kesehatan terhadap pasien. Terutama dalam upaya pencegahan penularan HIV, sifilis dan hepatitis dari ibu ke anak (PPIA).

Deteksi terhadap infeksi penyakit menular seksual sejak dini perlu dilakukan. Ibu hamil perlu diskrining untuk menghindari adanya risiko menularkan penyakit kepada anak.

Bertepatan dengan momentum hari kesehatan Nasional (HKN), Jumat (12/11/2021), Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi NTT, Unicef dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT memberikan pelatihan PPIA bagi tenaga kesehatan di Kota Kupang.

Kegiatan itu berlangsung 3 hari, dari 11-13 November 2021. Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan dan Pencatatan Sipil Provinsi NTT, dr. Messerasi Ataupah didampingi Kepala Perwakilan Unicef NTT dan NTB, Yudistiri Yewangoe secara virtual. Hadir juga Program Manager IBI NTT-Unicef Perwakilan NTT dan NTT, Tirsa Tabelak, SST., M.Kes.

Ketua IBI NTT, Damita Palalangan, A.Md Keb., SKM., M. Hum menyebut kegiatan itu sebagai bentuk penyegaran bagi para tenaga kesehatan. Diakuinya, tenaga kesehatan termasuk bidan sudah dibekali pengetahuan tentang tatalaksana PPIA, namun penyegaran sangat diperlukan agar tetap mengikuti berbagai perkembangan.

Damita menjelaskan, dalam mencegah penularan, ibu hamil yang datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan akan mendapatkan test HIV, sifilis maupun hepatitis. Hal itu sudah diatur dalam standar pelayanan minimum bagii hamil. Hasil test itu akan menentukan langkah selanjutnya yang akan dilakukan.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) NTT, Damita Palalangan, A.Md Keb., SKM., M.Hum

“Ibu hamil yang datang periksa pertama kali itu sudah langsung ditest. Apabila ditemukan ibu hamil itu positif HIV, sifilis ataupun hepatitis maka akan dilakukan tracing pada keluarganya,” kata Damita di hotel Neo Aston Kupang.

Ibu hamil yang tidak datang ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa, tidak akan mendapatkan layanan deteksi penyakit infeksi menular seksual itu. Kondisi ini, kata Damita turut berpengaruh dalam upaya penecegahan penularan penyakit dari ibu ke anak.

“(Skrining) itu sebagai upaya meningkatkan kesehatan ibu hamil dan bayi yang dikandung,” jelasnya.

Tindak lanjut dari hasil pemeriksaan itu, kata Damita selain melakukan tracing pada keluarga, juga memberikan gambaran penanganan yang akan didapatkan oleh ibu hamil itu. Begitu pula bagi bayi yang lahir dari ibu yang positif HIV, sifilis maupun hepatitis.

Salah satu pelayanan yang penting adalah pencegahan bagi ibu hamil dan bayi yang beresiko tertular. Damita menjelaskan, para suami yang positif mengidap penyakit menular seksual punya risiko besar menularkan pada istri yang hamil.

“Dari pelatihan ini, kita harapkan ke depan ada data yang riil terkait dengan test dan tracing bagi ibu hamil dalam upaya pencegahan penularan HIV, sifilis dan hepatisis B,” jelas Damita.

Damita melanjutkan, pihaknya biasa mendapatkan data terkait dari Dinas Kesehatan Provinsi. Ia menyebutkan, sejak HIV AIDS pertama kali ditemukan di Kota Kupang pada tahun 2000, tercatat ada 1.475 kasus sampai dengan bulan Mei 2019. Dari jumlah tersebut, 33 kasus ditemukan pada anak usia kurang dari 4 tahun.

Pada tahun 2018, sebanyak 3.616 ibu hamil diskrining HIV. Hasilnya, 7 orang ditemukan reaktif. Kemudian pada Januari sampai Mei 2019, sebanyak 5 orang ibu hamil reaktif HIV dari total 2.941 orang yang diskrining.

Sementara itu, 4.041 Ibu hamil melakukan skrining Hepatitis B pada tahun 2018 di 11 puskesmas yang ada di Kota Kupang. Dari pemeriksaan itu, 214 ibu hamil dinyatakan positif mengidap Hepatitis B.

Health Specialist Unicef perwakilan NTT dan NTB, dr. Vama Chrisna Taolin menjelaskan, kehadiran Unicef untuk mendukung Pemerintah setempat dalam pemenuhan hak-hak anak. Menjaga kesehatan anak menjadi salah satu fokus Unicef.

Melalui kolaborasi dengan Pemerintah dan berbagai organisasi, Unicef turut berperan dalam upaya pencegahan penularan penyakit dari ibu ke anak. Pencegahan sejak dini, dinilai sangat penting untuk memberikan jaminan kesehatan yang baik bagi anak.

Layanan kesehatan yang baik akan memberi dampak besar terhadap kesehatan anak dan ibu hamil. Karena itu, Vama menyebut, pengetahuan dan ketrampilan perlu dimiliki tenaga kesehatan, khususnya dalam  pencegahan penularan HIV, sifilis dan hepatisis B dari ibu ke anak.

“Sehingga tenaga kesehatan tau tata laksana apa yang harus diberikan sehingga kesakitan itu tidak menular pada bayi atau janinnya,” kata Vama.

Vama menilai, pemberian layanan kesehatan yang sesuai dengan standar pelayanan maksimum akan turut mencegah anak stunting. “Kita tau stunting itu disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi penyakit yang berulang,” jelasnya.

Upaya pencegahan penularan HIV, sifilis dan hepatisis B perlu dilakukan secara berkelanjutan. Proses penanganan terhadap ibu hamil yang terdeteksi positif HIV, sifilis ataupun hepatisis B harus dilakukan mulai dari masa kehamilan hingga persalinan nanti.

Terkait hal itu, Vama menilai perlu kerja sama baik tenaga kesehatan, organisasi yang peduli terhadap ibu hamil dan juga masyarakat. Kolaborasi ini sangat penting terutama dimasa pandemi saat ini.

“Menjaga ibu hamil dan janinnya menjadi sangat penting di masa pandemi Covid-19 ini yang mana kita dibatasi mobilitas,” katanya.

Tenaga kesehatan, kata Vama harus mampu mengidentifikasi siapa saja yang bisa membantu dalam pencegahan penularan 3 penyakit itu dari ibu ke anak. Jejaring itu perlu dibangun untuk membingkai kesehatan ibu dan anak pada kondisi saat ini.

“Karena itu mereka juga diberikan keterampilan konseling sehingga mampu mengidentifikasi unsur mana dalam masyarakat yang bisa bekerja sama dalam program ini,” jelas Vama.

Kerja sama itu, kata Vama bisa dimulai dari hal sederhana seperti pengontrolan bagi ibu hamil dalam mengkonsumsi obat-obatan yang diterima dari tenaga kesehatan. Edukasi melalui jejaring yang dibangun akan menjadi dukungan positif dalam mencegah penularan dari ibu ke anak apabila seorang ibu ditemukan terinfeksi 3 penyakit itu. (joe/*)

Baca juga: Dukung Pemerintah, Klinik King Care Jamin Kemudahan Akses Layanan Kesehatan bagi Para Pelaku Wisata di Labuan Bajo