Menjaga Kesehatan Mental dalam Masa Quarter Life Crisis

MedikaStar.com

Apakah anda berusia antara 20an dan 30an tahun? Apakah anda sering merasa takut, ragu, atau khawatir terhadap hidup dan masa depan anda? Bisa jadi anda sedang berada dalam masa quarter life crisis. Quarter life crisis merupakan sebuah fase peralihan dari usia muda kepada usia yang lebih dewasa. Dalam fase peralihan ini, sering kali anak muda akan mengalami berbagai macam kecemasan.

Efek dari hal tersebut dapat mengganggu kehidupan, jika tidak dikelola secara baik. Salah satu efek yang cukup besar dari quarter life crisis adalah terganggunya kesehatan mental. Karena itu, masa ini perlu dikelola secara baik agar tidak mendatangkan kerugian.

Hubungan quarter life crisis dan kesehatan mental terdapat pada tanda-tanda yang dialami. Tanda-tanda tersebut seperti anxiety atau gangguan kecemasan dan depresi.

Seperti yang diketahui, anxiety dan depresi yang parah dan berlarut memiliki kaitan erat dengan berbagai macam penyakit. Selain itu, jika tidak dikelola secara baik, kedua hal itu bisa membuat tingkat produktivitas, motivasi, serta komitmen seorang anak muda menjadi tidak maksimal.

Terdapat dua faktor yang bisa mengakibatkan terjadinya quarter life crisis, yakni faktor dari dalam dan dari luar diri. Faktor dari dalam diri yang biasanya dialami adalah merasa rendah diri atau tidak lebih baik dari orang lain.

Selain itu, aspek keimanan atau kepercayaan kepada Tuhan juga memegang peranan penting dalam mempengaruhi baik atau tidaknya quarter life crisis dilalui. Ada pula aspek prinsip hidup dan pendirian.

Hal-hal tersebut saling terkait dengan faktor luar yang mempengaruhi quarter life crisis. Faktor dari luar terdiri dari jumlah akses, pilihan, dan dukungan yang dimiliki.

Lebih lanjut, sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 2000 anak muda di Inggris menunjukkan bahwa aspek faktor luar terbesar adalah ketidaktentuan finansial. Hal ini diikuti oleh aspek lain seperti pekerjaan yang tepat, keinginan terhadap properti seperti rumah dan fasilitasnya, serta pasangan hidup yang tepat.

Untuk mengelola kesehatan mental selama melalui masa quarter life crisis, terdapat beberapa prinsip yang perlu dipegang dan diterapkan.

Prinsip yang pertama adalah menjaga keimanan atau aspek religiusitas. Sebuah penelitian psikologi yang dipublikasikan oleh Universitas Gadjah Mada terhadap 219 mahasiswa menunjukkan bahwa aspek agama memiliki hubungan dengan quarter life crisis.

Seseorang yang memiliki kehidupan religius yang baik dapat bertahan ketika dihadapkan pada kejadian yang penuh dengan kebimbangan. Dengan kata lain, semakin tinggi religiusitas seseorang, semakin rendah juga quarter life crisis yang dialami.

Prinsip yang kedua adalah memiliki visi hidup dan pegangan yang jelas. Saat memiliki visi hidup yang kuat, seseorang tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh gaya hidup dan tren. Alasannya tentu saja karena ia telah mengetahui apa yang ia mau.

Visi hidup yang jelas pun akan membuat seseorang akan berfokus pada apa yang ia tekuni. Hal ini dapat menjadi penggerak diri atau motivasi yang membuatnya tetap bersemangat meski terkadang menghadapi tantangan.

Prinsip yang ketiga adalah peningkatan kapasitas diri. Kapasitas diri yang dibutuhkan seperti skill dan pengetahuan, manajemen waktu, skala prioritas, hingga pola hidup yang sehat. Dengan memiliki kapasitas diri yang baik, seseorang akan lebih merasa aman dan percaya diri dalam menjalani kehidupannya. Alhasil, quarter life crisis tidak akan terlalu dirasakan, apalagi mempengaruhi hidupnya.

Kesehatan mental adalah hal yang sangat penting untuk dijaga oleh semua orang, terkhususnya anak muda. Jadi, jangan biarkan quarter life crisis menjadi perusak psikis anda. Banyak cara yang dilakukan untuk menjalani masa muda dengan tetap sehat dan bahagia. Mari kelola hidup secara bijak dan jalanilah dalam keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial.

Baca juga: Lindungi Anak-anak dari Pandemi Covid-19, Satgas: Terapkan 3×3