Menjaga Kewaspadaan dengan Mengetahui Perbedaan TB dan Covid-19

MedikaStar.com

Di Indonesia, penyebaran kasus Tuberkulosis (TBC) atau yang sering disebut dengan TB terbilang sangat tinggi. Indonesia berada pada peringkat ketiga penderita TB terbanyak di dunia, setelah India dan Cina. Karena sudah cukup umum, terkadang TB dianggap sepele oleh sebagian masyarakat. Namun, penyakit yang masuk dalam 10 penyakit dengan penderita terbanyak di Indonesia ini mesti diwaspadai.

Jika tidak, masa pandemi yang berlangsung dapat mengakibatkan kenaikan jumlah penderita, hingga kematian akibat TB. Salah satu caranya adalah dengan mengetahui perbedaan TB dan Covid-19, serta pengobatannya.

TB merupakan salah satu penyakit infeksius pembunuh terbesar di dunia. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa terdapat 10 juta orang yang mengidap penyakit ini setiap tahun. Lebih lanjut, terdapat 1,5 juta orang yang meninggal di tiap tahunnya. Sedangkan, setiap tahunnya terdapat 850 ribu orang penderita dan setiap jamnya, terhitung 13 orang meninggal akibat TB di Indonesia.

Dilansir dari covid19.go.id, dalam dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, dr. Wiera Waworuntu, M.Kes mengatakan bahwa TB dan Covid-19 sama-sama berbahaya.

Perbedaan Diagnosis

Meski begitu, terdapat beberapa perbedaan antara kedua penyakit tersebut. Perbedaan yang pertama terdapat pada diagnosisnya. TB merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis, sedangkan Covid-19 disebabkan oleh virus Sars-CoV-2.

“Penularannya (TBC dan Covid-19) sama-sama droplet. Namun perbedaannya pada diagnosisnya. Kalau Covid-19 dari virus, sedangkan TBC dari kuman atau bakteri,” ujar Wiendra.

Perbedaan Gejala

Perbedaan kedua terdapat pada gejalanya. Gejala dari TB antara lain onset atau serangan kronik lebih dari 14 hari dengan gejala demam kurang dari 38 derajat Celsius. Gejala penyerta lainnya adalah batuk berdahak, bercak darah, sesak napas memberat yang bertahap, turunnya berat badan, hingga berkeringat di malam hari.

Sedangkan, gejala dari Covid-19 adalah onset akut yang kurang dari 14 hari disertai demam lebih dari 38 derajat Celsius. Gejala lainnya adalah batuk kering, sesak napas yang muncul segera setelah serangan kronik, nyeri sendi, pilek, nyeri kepala, serta gangguan penciuman atau pengecapan.

Perbedaan Cara Pengambilan Sampel Tes

Perbedaan ketiga adalah pada cara pengambilan sampel dalam proses diagnosis. TB dan Covid-19 sama-sama didiagnosis menggunakan metode Tes Cepat Molekuler (TCM) atau Polymerase Chain Reaction (PCR). Akan tetapi, pengambilan sampel pada TB cukup dengan menggunakan dahak. Sedangkan, pada Covid-19, pengambilan sampel harus melalui swab.

Perbedaan Ketersediaan Obat

Perbedaan keempat adalah ketersediaan obat. Seperti yang diketahui, hingga sekarang belum ada obat yang dapat digunakan untuk menyembuhkan pasien Covid-19. Di sisi lain, obat untuk pasien TB telah ditemukan dan dapat diakses secara gratis.

Karena itu, pasien TB wajib untuk mengonsumsi obat yang ada secara taat dan disiplin guna memperoleh kesembuhan secara total. Jika tidak, pasien tidak akan benar-benar mendapatkan kesembuhan.

“Ketika sudah mengonsumsi, lalu stop, lalu nanti minum lagi. Jadi sembuhnya tidak betul-betul sembuh sempurna. Padahal obat TB harus dikonsumsi dalam waktu yang panjang yaitu enam bulan. Namun, pada bulan pertama dan kedua merasa sudah sembuh, padahal belum sembuh. Hal ini menjadi resisten dan menjadi masalah yang masih menjadi tantangan kita,” jelas Wiendra.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini TB bukan merupakan penyakit bawaan yang mudah terjangkit Covid-19. Data yang ada menunjukkan bahwa justru penderita penyakit tidak menular lebih mudah terjangkit virus Corona. Bisa jadi, penyebabnya karena adanya kekhawatiran pasien dan pihak fasilitas kesehatan dalam melakukan pemeriksaan.

“Pasiennya (pasien TBC) tidak bisa ke layanan kesehatan karena takut, kemudian fasilitas kesehatan juga sekarang takut memeriksa pasien TBC, terlebih pada Covid-19. Namun dengan sebagian besar rumah sakit rujukan Covid-19 yang memiliki pemeriksaan laboratorium dengan TCM, cukup membantu terhadap pelayanan pasien TBC,” tambahnya.

Karena itu, diharapkan bahwa pengobatan pasien TB harus terus berjalan dan tidak boleh terhenti di tengah pandemi saat ini. Selain itu, protokol kesehatan yang diterapkan untuk mencegah Covid-19 dinilai sebagai langkah yang sangat baik. Kebiasaan-kebiasaan seperti mencuci tangan, pakai masker, dan jaga jarak juga dinilai berguna untuk mencegah terjadinya penyebaran TB.

Kewaspadaan terhadap TB harus terus dijaga. Dengan begitu, pandemi Covid-19 yang masih berlangsung tidak menambah jumlah penderita atau kematian akibat penyakit ini. (har)

Baca juga: Pentingnya Asi Eksklusif