Penanganan Covid-19 Ala Model Keju Swiss

MedikaStar.com

Penanganan Covid-19 membutuhkan beberapa intervensi kesehatan sekaligus demi mencegah penularan virus Covid-19. Model penanganan itu dikenal dengan nama Swiss Cheese Model.

Swiss Cheese Model pertama kali dibuat pada 1990 oleh seorang Profesor di Manchester University, James Reason. Saat ini, pemodelan tersebut telah digunakan secara luas dalam berbagai bidang, mulai dari perawatan kesehatan, manajemen risiko, teknik, hingga penerbangan.

Adapun Swiss Cheese Model untuk pencegahan penyebaran virus corona diadaptasi oleh seorang Virolog Australia, Ian M. Mackay.

Penanganan Covid-19 ala Swiss Cheese Model menggambarkan bagaimana intervensi satu dengan yang lainnya bekerja bersama untuk mencegah penyebaran virus lebih luas, termasuk jarak fisik, penggunaan masker, cuci tangan, dan disinfeksi, dan yang terbaru vaksinasi.

Setiap langkah tersebut digambarkan sebagai penghalang tidak sempurna dari transmisi virus corona dengan lubang yang ada di setiap lapisan keju. Saat intervensi dikombinasikan seperti tumpukan lapisan keju Swiss, beberapa lubang di dalamnya dapat ditutup.

Beberapa virus mungkin dapat lewat melalui lubang keju tersebut, tetapi kemungkinannya lebih rendah jika setiap lapisan tersusun dengan baik.

 “Keindahan dari model ini adalah bahwa ia memperlihatkan kekuatan dan kelemahan dari tiap-tiap intervensi,” kata Epidemiolog Pengendalian Infeksi dan Asisten Profesor di University of Toronto, Colin Furness.

Swiss Cheese Model untuk penanganan Covid-19

Menurut dia, model ini menunjukkan bahwa jika variasi intervensi dilakukan, harus disusun dan dijalankan bersama agar efektif.

Penanganan Covid-19 ala Keju Swiss ini kembali ditegaskan oleh Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (4/2/2021).

“Jika masyarakat hanya mengandalkan satu intervensi tunggal, maka kekurangan yang ada tidak akan tersokong dan malah akan memperburuk keadaan,” kata Wiku.

“Karenanya, upaya vaksinasi yang dilakukan saat ini, tentunya tidak semata-mata menjadi satu-satunya upaya melindungi masyarakat dari penularan Covid-19. Vaksinasi tidak akan berhasil apabila tidak diimbangi dengan protokol kesehatan,” lanjutnya.

Untuk itu selama belum tercapai kekebalan komunitas atau herd immunity, maka pencegahan paling efektif adalah kepatuhan protokol kesehatan oleh seluruh individu. Upaya edukasi dan komunikasi kepada masyarakat harus dilakukan seimbang antara vaksinasi dan protokol kesehatan.

Langkah penanganan pandemi Covid-19 tidak bisa dilakukan secara tunggal, harus komprehensif dengan melibatkan protokol kesehatan yang ketat demi menekan lebih banyak jumlah orang yang terinfeksi.

Dan pada waktu bersamaan, upaya ini harus didukung pelayanan kesehatan yang berkualitas. Sehingga mereka yang sakit semakin sedikit, dan mendongkrak angka kesembuhan. Dan hal ini akan menjadi sempurna jika vaksinasi dilakukan untuk mengurangi kerentanan terinfeksi, pengembangan keparahan gejala penyakit dan peluang penularan kepada orang lain.

“Kedepannya saya berharap setiap elemen masyarakat, baik pemerintah, akademisi, komunitas, penggiat usaha maupun media memiliki pola pikir yang lebih luas dan mendalam. Untuk menjalankan upaya penanganan Covid-19 secara lebih komprehensif demi penanganan kesehatan yang lebih signifikan ke arah yang lebih baik,” pungkas Wiku. (*)

Baca juga: Cara Merawat Pasien Covid-19 yang Harus Isolasi Mandiri di Rumah