Pentingnya Pendekatan Budaya dalam Pencegahan Penyebaran Covid-19

MedikaStar.com

Pandemi Covid-19 membuat semua orang di berbagai belahan dunia berisiko terinfeksi virus Corona. Setiap harinya, jumlah pasien positif Covid-19 juga terus mengalami penambahan. Karena itu, dibutuhkan tindakan pencegahan terhadap penyebaran Covid-19 secara lebih baik. Terdapat berbagai protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah untuk dijalankan oleh masyarakat.

Akan tetapi, terkadang cukup sulit untuk membuat masyarakat menjadi patuh. Karena itu, dibutuhkan pendekatan yang tepat guna meyakinkan masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam karakteristik. Salah satu cara terbaik untuk mengedukasi dan mempersuasi masyarakat adalah menggunakan pendekatan budaya.

Setiap daerah di Indonesia memiliki budaya yang cukup beragam. Hal ini membuat metode penyampaian atau edukasi mengenai Covid-19 perlu disesuaikan dengan masing-masing karakteristik masyarakat.

“Subjek itu tidak mungkin bisa meratakan. Jadi, harus dipahami. Subjek itu partikularistik. Jadi, dia punya masing-masing komunitas itu punya subkultur yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, idiom-idiom percakapan yang berbeda, ya,” kata Prof. Dr. Bagong Suyanto, Sosiolog Universitas Airlangga, seperti dilansir dari covid19.go.id (24/7).

Penerapan pendekatan kebudayaan merupakan cara yang sangat baik dalam mempersuasi masyarakat, sehingga dapat menerapkan anjuran dari pemerintah. Jika persuasi berhasil dilakukan, masyarakat akan memiliki tingkat kesadaran yang tinggi untuk lebih taat.

Hal ini lebih baik dibandingkan sekedar ancaman rasa takut semata akan sanksi akibat melanggar aturan. Dengan kata lain, masyarakat dapat diajak untuk menciptakan budaya baru berkaitan dengan penerapan pola hidup yang sehat. Pendekatan itu perlu dikolaborasikan dengan aturan-aturan yang telah dibuat oleh pemerintah. Hingga saat ini, pendekatan ini mulai terlihat sedikit demi sedikit.

“Pemerintah mengharapkan kebiasaan baru itu bukan dilakukan karena terpaksa. Tapi, dilakukan karena kesadaran, rasa tanggung jawab masyarakat sendiri,” ujar Prof Bagong.

Untuk menciptakan suatu kebiasaan atau budaya yang baru, diperlukan kerja sama antar semua pihak. Dimulai dari pemerintah pusat dan daerah, tokoh-tokoh agama dan adat, seniman, influencer, dan lain sebagainya mesti menjadi penyampai pesan bagi masyarakat.

Dalam buku berjudul Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, Prof. Dr. Alo Liliweri memberikan kategori kebiasaan komunikasi yang efektif. Penerapan kebiasaan ini dapat membantu upaya persuasif masyarakat secara baik.

Kebiasaan yang pertama adalah peka terhadap budaya komunikasi dan berbahasa. Setiap daerah memiliki pola berbeda dalam berkomunikasi.

Contohnya adalah perbedaan bahasa, tanda, serta simbol secara verbal maupun nonverbal. Agar komunikasi dalam kebudayaan yang berbeda dapat berjalan efektif, maka penyampai pesan perlu memahami karakteristik bahasa di daearah masing-masing dan maknanya. Dengan begitu, penyampaian pesan dapat mudah diingat dan melekat di benak masyarakat sekitar.

Kebiasaan yang berikutnya adalah peka terhadap nilai dan norma di masing-masing daerah. Agar pesan yang disampaikan bisa tepat sasaran dan lebih mudah diterima, terdapat beberapa nilai dan norma yang perlu dipelajari.

Hal-hal tersebut seperti kebiasaan, tata kelakuan, adat istiadat, hingga cara pandang masyarakat. Semakin nilai dan norma dari suatu daerah dipahami oleh pemberi pesan, maka anjuran yang diberikan lebih mudah diterima oleh masyarakatnya.

Selain itu, kebiasaan seperti peka terhadap kepercayaan, kebiasaan bekerja, serta sistem-sistem yang terdapat di masyarakat pun perlu dipahami. Semua hal tersebut dapat mendukung upaya pencegahan penyebaran Covid-19 berbasis kearifan lokal.

Untuk menjalankan pendekatan budaya, beberapa waktu lalu pemerintah mengundang beberapa pihak seperti selebriti, budayawan, hingga influencer ke istana. Mereka diminta untuk membantu proses edukasi kepada masyarakat tentang adaptasi kebiasaan baru.

Hal positif tersebut dapat membantu proses penciptaan budaya baru, yakni penerapan pola hidup sehat, serta menjadikannya sebagasi suatu tren atau gaya hidup. Karena itu, setiap pihak yang memiliki pengaruh di masyarakat diharapkan untuk menjalankan upaya persuasif sesuai dengan budaya yang ada.

Untuk membuat masyarakat menjadi patuh terhadap setiap protokol kesehatan yang diterapkan, pendekatan budaya dapat diterapkan. Dengan pendekatan budaya, masyarakat dapat lebih memahami dan menerapkan setiap anjuran yang diberikan secara taat.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental dalam Masa Quarter Life Crisis