Pergizi Pangan NTT Adakan Pengabdian Masyarakat di TTU

Kefamenanu, MedikaStar.com

Organisasi profesi Pergizi Pangan NTT dan Word Food Program (WFP) Indonesia melaksanakan Pengabdian Masyarakat di Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Sabtu (9/2/2019). Kegiatan itu berupa penyuluhan di 11 Sekolah Dasar yang ada di Kota Kefamenanu, dalam rangka memperingati hari Gizi Nasional ke-59.

Ketua Pergizi Pangan NTT, Dr. Intje Picauly, M.Si mengatakan fokus yang dilaksanakan, yaitu tentang sarapan gizi seimbang dan hygiene perorangan pada anak sekolah se-kota Kefamenanu.

Dosen FKM Undana Kupang ini menjelaskan bahwa prevalensi gizi kurang dan gizi lebih menjadi sorotan yang penting.

Data riskesdas 2018 prevalensi stunting di NTT mengalami penurunan sebesar 9,1 persen jika dibandingkan dengan angka hasil Riskesdas 2013 lalu. Namun, NTT tetap masih berada di urutan atas prevalensi stunting di Indonesia. Sedangkan gizi lebih (obesitas) mengalami peningkatan dan itupun lebih banyak di kalangan umur produktif.

Menurutnya, hal ini berarti ada yang salah dalam hal life style termasuk pola konsumsi pangan. Di kalangan anak usia pertumbuhan, jika aspek pola konsumsi tidak diperhatikan degan baik, maka masalah gizi kurang akan sangat mengancam masa depan mereka sendiri.

“Dan hal ini akan lebih buruk jika tidak didukung oleh aspek hygiene perorangan. Sebab, jika malas sikat gizi atau sering makan dengan tangan kotor, atau malas mandi maka akan lebih memperburuk permasalahan gizi dan kesehatan anak. Sudah tentu permasalahan ini dapat berujung pada derajat kesehatan dan prestasi anak bangsa,” ungkap Intje.

Ia mengatakan tujuan kegiatan adalah menanamkan dan menumbuhkan kebiasaan sarapan atau makan pagi yang sehat dan bergizi bagi anak dan keluarganya. Sehingga, kesehatan dan prestasi mereka dapat ditingkatkan.

Baca Juga: Jelang HUT ke-10, RSIA Dedari Gelar Ragam Kegiatan

Ia lanjut menjelaskan bahwa target atau yang menjadi sasaran kegiatan kemarin adalah siswa SD kelas 4-5. pertimbangannya, pertama, pola konsumsi anak masih sangat tergantung dengan lingkungan keluarga. Artinya, jika keluarga menyiapkan baik atau tidak anak akan mengikuti.

“Termasuk jika keluarga tidak terbiasa sarapan maka anakpun tidak mempunyai kebiasaan sarapan pagi. Hal ini akan sangat mempengaruhi kesehatan dan prestasi belajar anak,” katanya.

Kedua, lanjut Intje, anak SD masih berada dalam interval umur pertumbuhan. Jika konsumsi pangan tidak baik, maka akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Termasuk prestasi belajar anak.

Ketiga, kelompok anak SD merupakan kelompok yang masuk dalam fase suka meniru. Sehingga harus ada yang bisa mengajarkan mereka untuk meniru hal yang positif, termasuk meniru dan memilih jenis sarapan pagi yang sehat sebelum ke sekolah.

Baca Juga: Tetap Waspada, DBD Masih Terus Mengancam

“Bukan meniru makan yamg salah seperti minum air putih saja, minum teh manis saja, makan Indomie saja, atau bahkan tidak sarapan sama sekali,” paparnya.

Ia mengatakan hal ini butuh dukungan semua pihak, baik keluarga dan juga pihak sekolah.

“Di akhir acara, kami ada penandatangan Nota Dukungan bersama Program pemberian sarapan sehat di antaranya, pihak Sekolah, Dinas PKO dan Kesehatan, Pergizi Pangan NTT dan Word Food Program (WFP) Indonesia,” ujarnya. (*)

Baca Juga: 102 Ners Stikes Maranatha Angkat Sumpah Profesi