Posko Nasi Gratis Pemuda GMIT Kupang: Saluran Berkat bagi Sesama

Kota Kupang, MedikaStar.com

Sudah memasuki minggu keempat Posko Nasi Gratis yang dijalankan para Pemuda GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) beroperasi. Setiap hari, sejak jam 12 sampai jam 3 sore, posko yang terletak di depan Gereja Anugerah El Tari Kupang tersebut melayani siapa saja yang kesulitan mendapatkan makanan.

Siang itu, Rabu (20/5), para pemuda GMIT yang dikoordinasi oleh David Natun, nampak bersemangat mengarahkan orang-orang yang hendak mengambil nasi bungkus untuk menjaga jarak aman. Ada tukang ojek online, juru parkir, dan supir dan kondektur angkutan kota, dan beberapa anak yang antre.

Sebelum mengambil nasi tersebut, semua mereka diwajibkan mencuci tangan di tempat yang disediakan. Dua pemuda bertugas di tempat cuci tangan; membuka kran dan menuangkan sabun cair. “Ini untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Kalau semua orang pegang kan bisa bahaya,” ujar David. Jika orang yang datang tidak mengenakan masker, mereka terlebih dahulu diberi masker.

David Natun, Koordinator Posko Nasi Gratis Pemuda GMIT Kupang

Setelah mencuci tangan, mereka diarahkan menuju kereta yang diparkir di trotoar depan gereja. Dua orang wanita muda yang dilengkapi masker, face shileld mask (pelindung wajah), dan handscoon (sarung tangan), bertugas membagi nasi bungkus.

David bercerita, ide membantuk posko tersebut muncul ketika panitia Paskah Pemuda GMIT Kupang tidak dapat menjalankan aktivitas Paskah seperti tahun-tahun sebelumnya. “Biasanya setiap tahun kan ada kegiatan, baik perayaan Paskah di geraja, pawai Paskah, maupun kegiatan sosial lain. Tapi tahun ini, karena pandemi covid-19, banyak rencana yang tidak berjalan. Lalu kami berdiskusi, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu di masa seperti ini? Maka muncullah ide Posko Nasi Gratis ini,” kenang David.

Setelah pembagian nasi bungkus yang merupakan hasil patungan para pemuda tersebut berjalan, dukungan mulai berdatangan. Kata David, setelah hari pertama, ada seseorang dari Kalimantan yang langsung mengirimkan uang untuk membantu mereka menjalankan kegiatan amal tersebut.

Karena bantuan yang kemudian datang dalam berbagai macam bentuk, baik uang, beras, telur, dan sebagainya, ada orang yang harus memasak makanan agar menjadi nasi yang dilengkapi lauk pauk seperti sayur, ikan, telur, daging ayam, tahu, dan tempe.

Sejak itu, Mama Yuni Alunat Saduk mengambil peran sebagai juru masak. Setiap pagi, Mama Yuni bangun pukul 3.30 untuk memasak nasi dan segala jenis lauk pauk tersebut. Di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga, ia selalu setia menjalankan tugas barunya tersebut.

Mama Yuni Saduk, wanita yang memasak nasi yang dibagikan di Posko Nasi Gratis

Menurutnya, setiap hari ia selalu menyiapkan paling kurang 200 bungkus nasi. “Saya mulai aktivitas jam 3.30. Jam 7.45 semua makanan sudah selesai dimasak. Setelah itu dibiarkan dingin. Jam 8 tepat saya bungkus, kadang dibantu oleh teman-teman (para pemuda GMIT, red). Lauknya bervariasi, kadang telur, tahu-tempe, kadang daging ayam,” kata Mama Yuni.

Aktivitas tambahan itu Mama Yuni jalankan dengan gembira. Menurutnya, apa yang dilakukannya merupakan bentuk pelayanannya membagi kasih kepada sesama. “Kita sama-sama terluka oleh pandemi ini tapi kita masih bisa mengobati luka saudara-saudara kita yang mengalami dampak yang lebih besar,” ujar Mama Yuni.

Nasi bungkus yang dibagikan setiap hari oleh para pemuda GMIT, kata David, tidak saja berasal dari masakan Mama Yuni. Karena mereka juga menerima tambahan nasi bungkus dari berbagai pihak, baik pribadi maupun kelompok atau organisasi. Dengan tambahan nasi bungkus tersebut, dalam sehari mereka biasa membagi sampai 300 bungkus nasi.

“Sistemnya kalau bisa dibilang seperti ATM. Siapa saja bisa taruh, siapa saja bisa ambil. Jadi siapa saja yang lewat dan memang betul-betul butuh makan hari ini silakan ambil. Dan karena itu, semua nasi yang kami siapkan halal agar bisa dikonsumsi oleh siapa saja ” ujarnya.

Kereta yang diparkir di depan Gereja Anugerah El Tari untuk pembagian nasi gratis oleh para pemuda GMIT Kupang

Dengan menerapkan sistem seperti itu, menurutnya, apa yang mereka lakukan hanyalah menjadi saluran berkat. “Kita semua susah. Siapapun terdampak Covid-19, tidak ada yang tidak terdampak. Tapi dalam situasi seperti ini kita masih bisa berbagi. Kekuatan ini bukan di kami, tapi di masyarakat. Kami hanya membuka pintu berkat bagi orang lain,” lanjut David.

Selain dibagi kepada siapa saja yang membutuhkan, Posko Nasi Gratis juga selalu menyisihkan beberapa bungkus nasi untuk para loper koran dan juru parkir yang menurut mereka layak dibantu.

David menjelaskan, orang-orang yang memberikan bantuan baik dalam bentuk uang maupun barang tidak saja dari kelompok orang yang tergolong mapan. “Ada mama-mama janda yang datang sumbang nasi bungkus juga. Dan mereka ini berpesan: Ingat jangan sampai ada orang tau o. Semua penyumbang tidak ingin mempublikasikan identitas mereka,” terang David. Meski demikian, panitia selalu mencatat identitas penyumbang sebagai data posko.

Dukungan yang selalu berdatangan, lanjutnya, membuktikan bahwa rasa kekeluargaan masih melekat kuat di diri dalam masyarakat NTT. “Orang kita kan biasa terkenal dengan kehidupan pesta. Ada orang nikah kita ‘kumpul tangan’. Ternyata semangat kebersamaan dan kekeluargaan itu tidak luntur dalam kondisi seperti ini,” katanya.

Gerakan amal tersebut kemudian sampai ke telinga Gubernur NTT Viktor Laiskodat dan Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore sehingga beberapa waktu lalu, pemimpin NTT dan Kota Kupang tersebut juga ikut memberikan sumbangan.

Selain membuka Posko Nasi Gratis, para pemuda GMIT itu juga sudah membagikan sumbangan dalam bentuk masker, sabun cair, dan sejenisnya ke beberapa wilayah lain, terutama di Kabupaten Kupang. Aksi mereka kemudian mengisnpirasi para relawan di beberapa titik yang melakukan hal serupa.

Dua pemuda GMIT Kupang memakaikan masker kepada anak-anak yang datang mengambil nasi gratis

Mereka juga dengan setia membimbing anak-anak yang biasa datang mengambil nasi bungkus untuk mencuci tangan secara baik dan benar. “Edukasi-edukasi seperti cuci tangan, pakai masker, dan jaga jarak ini selalu kami sampaikan supaya kita sama-sama mencegah penyebaran penyakit ini. Selain itu, ini juga sebagai bentuk adaptasi kita untuk kehidupan normal yang baru,” terang David.

Ketika ditanya sampai kapan Posko ini akan beroperasi, David menjawab. “Kayaknya sonde bisa berhenti ni ma, ko ini sumbangan datang terus ni. Bisa saja betong berhenti, tapi selalu ada orang yang datang kasih. Kalau dia kasih berarti dia mau betong jalan terus karena dia pikir pasti ada orang yang butuh. Jadi Tuhan tolong katong sampai hari ini,” katanya dengan bahasa melayu Kupang. (ens)

Baca juga: Hubungan Teori Konspirasi dan Kesehatan Mental