Sang Nahkoda itu Bernama Yakobus Jano

MedikaStar.com

Jika KSP Kopdit Pintu Air adalah kapal, maka Yakobus Jano adalah nahkodanya. Di bawah kendalinya, Pintu Air sudah berlayar jauh selama 25 tahun dan menjaring lebih dari 260 ribu anggota. Tekadnya adalah semua orang menjadi anggota koperasi karena baginya koperasi adalah lembaga keuangan yang sesuai dengan spirit hidup bangsa Indonesia, yakni gotong royong.

Ketika Yakobus Jano bersama 50 orang perintis awal KSP Kopdit Pintu Air bersepakat membentuk kelompok yang kemudian menjadi koperasi, saya kira, tak ada yang menyangka bahwa kelompok tersebut akan menjadi sebuah kapal besar. Bahkan terbesar se-Indonesia dari sisi jumlah anggota. Ide membentuk kelompok itu pada 1 April 1995, berdasarkan tuturan Bapak Jano, sangat sederhana.

Yakobus Jano adalah salah satu sandaran warga kampung Rotat ketika menemui kendala dalam hal uang. Cukup masuk akal karena ia adalah seorang putra Rotat yang bekerja di bank. Asumsi masyarakat awam, kalau dia bekerja di bank maka pasti punya banyak uang. Maka ia menjadi penolong bagi warga kampung yang terdesak berbagai kebutuhan.

Jano menyadari bahwa kebiasaan warga kampungnya itu tak bisa dibiarkan berlarut. Maka gagasan untuk membentuk kelompok pun muncul. Ia ingin membuat masyarakat mengubah mental peminta-minta menjadi mental petarung. Setiap orang punya sumber daya untuk saling memberi. Dan hanya dalam kebersamaan, hal itu bisa terwujud. Maka lahirlah Koperasi Pintu Air.

Dari kelompok kecil beranggotakan 50 orang itulah Yakobus Jano memulai petualangannya sebagai seorang nahkoda tulen. Aura kepemimpinan sebagai seorang nahkoda nampak dari ide, pembawaan, dan prinsipnya mengelola Koperasi Pintu Air. Dari sebuah percakapan dengannya beberapa tahun silam, Jano pernah mengatakan sebuah kalimat yang kira-kira bunyinya seperti ini: “Di Koperasi Pintu Air, yang menjadi panglima adalah sistem. Semua orang harus tunduk pada sistem yang sudah disepakati bersama. Entah manajer, pengurus, maupun anggota.”

Saya kira, prinsip itulah yang membuat Koperasi Pintu Air mampu berlayar jauh dan berhasil meyakinkan orang-orang untuk menjadi bagian dari perjalanan bersama sebuah kapal besar bernama Koperasi Pintu Air. Di bawah kendali sistem yang ditata baik dengan manajemen yang rapi, transparan, dan akuntabel, semua anggota merasakan manfaat dari adanya sebuah lembaga yang bernama koperasi. Kisah-kisah inspiratif dari orang-orang kecil yang merasakan dampak kehadiran Koperasi Pintu Air dapat disimak di berbagai media massa.

Yakobus Jano benar ketika mengatakan bahwa sistem adalah panglima di Koperasi Pintu Air. Namun lebih dari itu, bagi saya, sistem itu juga harus di bawah kendali figur pemimpin yang tepat. Dan jika koperasi Pintu Air adalah sebuah kapal, maka bagi saya, dia adalah nahkodanya. Seorang nahkoda, mengutip Ignas Kleden (Kepemimpinan Politik Maritim, Kompas 18/11/2014), setidaknya memiliki tiga tipe ideal kepemimpinan.

Pertama, seorang nahkoda punya kompetensi yang dibangun dari bawah. Dia harus terlebih dahulu mengumpulkan pengalamannya di atas perahu tentang teknik berlayar, membaca arah angin, dan melakukan navigasi dengan melihat bintang di langit, dan belajar bekerja sama dengan awak perahu dan akhirnya memimpin mereka. Pengalaman Yakobus Jano bertahun-tahun sebagai seorang pegawai bank adalah contoh yang baik untuk elemen kepemimpinan ini. Pengalaman itu membuatnya memahami dengan baik tata kelola sebuah lembaga keuangan.

Kedua, seorang nahkoda harus mengambil keputusan cepat dan membuat keputusan itu terlaksana. Kewibawaannya muncul dari berbagai ketepatan perhitungannya dalam menghadapi bahaya laut pada waktu-waktu sebelumnya, dan keyakinan awak perahu bahwa nahkoda (kapitan) mereka tak akan membiarkan perintah-perintahnya diabaikan.

Dalam hal ini, Yakobus Jano telah menunjukkan kewibawaanya kepada semua anggota Koperasi Pintu Air melalui keputusan-keputusan yang tepat, inovasi yang berani di berbagai sektor riil, juga jaringan kerja sama dengan berbagai stakeholder.

Elemen berikutnya dari seorang nahkoda adalah menyediakan diri menjadi tumbal ketika perahu mengalami bahaya, yang bisa kita sebut sebagai semangat pengorbanan. Jika perahu karam, etos seorang nahkoda adalah bahwa dia harus menjadi orang terakhir di perahu sampai semua penumpang dan awak kapal sudah selamat dan mendapat pertolongan yang dibutuhkan. Etos ini juga dapat dengan mudah ditemukan dalam diri Yakobus Jano.

Dari cerita-cerita yang pernah saya dengar, dia adalah orang terakhir yang pulang dari kantornya di Rotat setelah semua pegawainya pulang. Karena ia harus memastikan bahwa pekerjaan mereka beres dan tertangani kalau ada masalah.

Mungkin tanpa ia sendiri sadari, ia telah menghidupi nilai-nilai kepemimpinan seorang nahkoda kapal. Dan karena nilai-nilai itulah kapal Pintu Air telah berlayar jauh dan menjadi rumah bersama bagi banyak orang.

Satu lagi ucapannya yang masih hangat di ingatan ketika wawancara pada momentum ulang tahun ke-25 Koperasi Pintu Air pada bulan April lalu: “Saya ingin Pintu Air mencapai usia yang panjang. Bahkan sampai 1000 tahun lagi.”

Semoga mimpi sang nahkoda ini, juga etos kepemimpinannya mampu ditularkan juga kepada calon-calon pemimpin kita di berbagi bidang kehidupan sehingga kita bersama-sama dapat berlayar dalam semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan demi kehidupan yang lebih baik. Panjang umur Bapak Yakobus Jano… (ens)

Baca juga: Sudah Lebih dari 100 Tenaga Kesehatan Meninggal Akibat Covid-19