Sindrom-sindrom yang Dapat Dialami Pengguna Ponsel

MedikaStar.com – Penyebaran virus Corona yang kian ganas membuat beberapa negara telah memberlakukan lockdown. Di Indonesia, pemerintah juga telah mengeluarkan kebijakan agar masyarakat melakukan social distancing dan lebih banyak beraktivitas di rumah. Aktivitas seperti bekerja, bersekolah, dan lainnya akan dikerjakan selama belasan hingga puluhan hari ke depan di rumah.

Mengenai beraktivitas di rumah, salah satu kegiatan yang cukup favorit di lakukan oleh masyarakat adalah menggunakan smartphone atau ponsel. Bahkan, mungkin saja pengguna ponsel akan menjadi lupa waktu saat menggunakannya.

Akhirnya, kebijakan untuk mencegah infeksi virus malahan membuat pengguna mendapatkan masalah kesehatan lain. Terdapat beberapa gangguan kesehatan berupa sindrom yang bisa dialami oleh masyarakat oleh karena penggunaan ponsel secara berlebihan.

Sindrom merupakan kumpulan dari beberapa ciri klinis, fenomena, tanda, atau karakter yang muncul secara bersamaan. Ciri-ciri tersebut menjadi sebuah pertimbangan bagi dokter untuk menegakkan diagnosis pada pendertia.

Sebelum membahas sindrom apa saja yang bisa dialami pengguna ponsel. Penyebab penggunaan ponsel secara berlebihan perlu diketahui. Penggunaan ponsel yang tak kenal waktu dapat dikaitkan dengan kecanduan seperti zat adiktif yang berasal dari obat-obatan.

Penyebab dari kecanduan tersebut adalah peningkatan dopamin yang terjadi. Dopamin adalah senyawa kimia tinggi yang dihasilkan oleh neuron. Senyawa ini berfungsi sebagai hormon dan neurotransmiter yang berperan penting pada tubuh dan otak.

Artikel terkait: Hati-Hati, Bisa Jadi Ponselmu adalah Sarang Kuman

Saat seseorang menggunakan ponsel untuk melihat pesan masuk, orang yang menyukai postingan pengguna di media sosial, dan lain sebagainya, tubuh akan menghasilkan dopamin. Efeknya, pengguna akan merasa bahagia dan nyaman.

Hal tersebutlah yang mengakibatkan pengguna sangat senang menggunakan ponsel dalam waktu yang lama. Sebuah study yang dilakukan oleh Leslie Perlow, seorang profesor dari Harvard Bussines School mengungkapkan data penggunaan ponsel yang cukup mencengankan.

Dari study yang melibatkan 1600 orang tersebut diketahui bahwa 70% dari peserta selalu mengecek ponsel mereka dalam waktu satu jam setelah bangun tidur. Selanjutnya, sebanyak 56% selalu bermain ponsel dalam waktu satu jam sebelum tidur.

Terdapat juga 48% orang yang sebagian besar waktunya digunakan untuk ponsel selama akhir pekan. Selain itu, ada 51% pengguna yang hanya menggunakan ponsel selama liburan. Selanjutnya, 41% diantaranya bahkan akan mengalami gangguan kecemasan yang luar biasa saat mereka kehilangan atau lupa membawa ponsel.

Gangguan kecemasan yang diderita tersebut berhubungan erat dengan sindrom yang disebut nomophobia atau “no-mobile-phone-phobia”. Sindrom ini mengakibatkan seseorang merasa sangat ketakutan jika tidak menggunakan ponsel. Mengenai hal tersebut, sebuah study telah dilakukan di Inggris dan melibatkan 1000 responden.

Hasilnya, diketahui bahwa sebanyak 660 orang di antaranya mengalami ketakutan yang sangat besar jika mereka kehilangan atau beraktivitas tanpa ponsel. Akibatnya, terjadi kepanikan dan kecemasan yang mendalam serta munculnya gejala fisik negatif.

Sindrom berikut yang dapat dialami adalah computer vision syndrome. Sindrom ini diakibatkan oleh menatap font kecil pada ponsel untuk mengecek tweet atau status dalam waktu yang lama. Pengguna cenderung terus menggulir layar ponsel mereka sehingga berakibat pada kelelahan mata, pandangan kabur, pusing, dan mata kering. Otot leher juga akhirnya menjadi tegang dan mengakibatkan sakit kepala.

Oleh karena itu, disarankan agar pengguna mengatur ukuran font agar terlihat lebih nyaman dibaca. Seorang ahli bernama Mark Rosenfield mengatakan bahwa pengguna harus menggunakan ponsel mereka dalam jarak 41cm dari wajah. Ia juga menyarankan pada pengguna ponsel untuk beristirahat sejenak setiap beberapa menit dan jangan lupa berkedip.

Ada juga sindrom yang cukup unik. Nama sindrom ini adalah phantom pocket vibration syndrome. Sindrom ini membuat pengguna merasa ponselnya bergetar karena panggilan atau pesan masuk, padahal sebenarnya tidak.

Seorang profesor dari Indiana university menemukan bahwa 89% siswa sekolah yang ia teliti mengalami “getaran hantu” tersebut. Study tersebut juga mengungkapkan bahwa para pelajar yang memiliki ketergantungan pada pesan masuk dan media sosial akan merasa lebih cemas lagi ketika ponsel mereka tidak benar-benar bergetar.

Selain sindrom-sindrom tersebut, masih banyak lagi gangguan kesehatan fisik dan mental yang dapat ditimbulkan dari penggunaan ponsel secara berlebihan. Oleh karena itu, dalam masa aktivitas di rumah, masyarakat perlu mengimbangi penggunaan ponsel dengan kegiatan lain.

Aktivitas lain seperti membaca buku, olahraga, konsumsi makanan bergizi, dan beristirahat perlu untuk dilakukan. Hal yang tak kalah pentingnya adalah mengerjakan tugas-tugas yang ada. Dengan aktivitas yang seimbang dan sehat, aktivitas yang belangsung dalam masa social distancing dapat dijalani dengan menyenangkan dan produktif dan bukan sebaliknya. (har)

Baca juga: Dokter 80 tahun yang Viral Karena Dedikasinya Memerangi Virus Corona