Sudah Lebih dari 100 Tenaga Kesehatan Meninggal Akibat Covid-19

MedikaStar.com

Masa-masa pandemi Covid-19 masih terus berlanjut. Sejak masuk ke Indonesia pada bulan Maret lalu, ratusan ribu jiwa telah menjadi korban. Tak hanya masyarakat biasa, banyak juga tenaga kesehatan yang telah meninggal dunia dalam penanganan Covid-19.

Berdasarkan update data dari beberapa lembaga, jumlah tenaga kesehatan yang menjadi korban telah melebihi angka 100 orang. Kabar ini tentunya sangat mengkhawatirkan.

Amnesty International Indonesia mencatat, sampai pada 8 September 2020, jumlah tenaga kesehatan yang meninggal akibat Covid-19 adalah 188 orang. Sementara itu, data yang dihimpun oleh Badan PPSDMK mengabarkan, hingga 11 September 2020, sudah 105 tenaga kesehatan yang menjadi korban.

Sedangkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menginformasikan bahwa Covid-19 telah merenggut nyawa 115 dokter hingga 12 September 2020. Data-data ini menjadikan Indonesia berada di peringkat teratas dalam angka kematian tenaga kesehatan akibat Covid-19 di Asia saat ini.

Seperti yang diketahui, pasien Covid-19 yang membludak membuat para tenaga kesehatan harus bekerja sangat keras untuk menanganinya. Selain itu, ketersediaan alat pelindung diri dan faktor paparan virus dapat menjadi penyebab gugurnya para pahlawan di bidang kesehatan tersebut.

“Banyak tenaga kesehatan gugur dalam menjalankan tugasnya. Faktor paparan virus, tekanan kerja yang terlalu berat, tidak adekuatnya penggunaan APD, hingga kelelahan menjadi pemicu utama krisis kesehatan di lingkungan tenaga kesehatan,” kata Abdul Kadir, Plt Direktur Jenderal Pelayanan kesehatan dalam sebuah temu media bertajuk “Keselamatan Tenaga Kesehatan Keselamatan Kita Semua” yang digelar pada Jumat (11/9) lalu.

Kadir menambahkan bahwa semua tenaga kesehatan yang gugur diberikan santunan dan penghargaan dari Pemerintah atas jasa mereka kepada bangsa dan negara. Hal itu dijalankan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 447 Tahun 2020.

Jumlah korban jiwa tenaga kesehatan yang terus bertambah tentunya bukanlah suatu hal yang bisa dianggap sepele oleh semua pihak. Dalam sebuah artikelnya, Amnesty Interntional menuliskan bahwa kematian para tenaga kesehatan akan mengurangi kemampuan dan kapasitas negara dalam penanganan Covid-19.

Dalam artikel tersebut pun, disebutkan juga tentang study yang dilakukan oleh Nanyang Technological University (NTU) dan komunitas LaporCovid19. Hasil study itu menunjukkan bahwa pada akhir tahun ini sistem perawatan kesehatan Indonesia akan runtuh, jika Pemerintah gagal menerapkan tindakan pencegahan yang ketat.

Sejalan dengan hal yang disampaikan oleh Amnesty International, dr. Adib Khumadi, SpOT, Ketua Tim Mitigasi PB IDI, mengatakan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua terendah dalam hal jumlah dokter. Jumlah dokter di Indonesia hanyalah sebesar 0,4 persen dari 1000 penduduk.

Dengan kata lain, 10.000 penduduk Indonesia hanya bisa ditangani oleh empat orang dokter atau seorang dokter harus melayani 2.500 masyarakat. Melihat jumlah dokter yang gugur dalam masa Pandemi, maka total jumlah dokter per masyarakat yang harus dilayani pun dapat digambarkan.

“Dengan asumsi 1 dokter melayani 2.500 pasien, maka menggambarkan hampir 300.000 rakyat Indonesia akan kehilangan pelayanan dari dokter,” ungkap Adib, seperti dilansir kompas.com (13/9).

Bayangkan saja jika jumlah korban tenaga kesehatan terus meningkat, bencana yang terjadi saat ini akan menjadi lebih parah. Karena itu, semua pihak perlu terus bahu membahu dalam pencegahan dan penanganan Pandemi Covid-19. Penegakkan protokol kesehatan harus dilakukan secara ketat dan diterapkan secara disiplin oleh seluruh pihak.

Dalam temu media beberapa waktu yang lalu, Kadir juga menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan telah menyusun kebijakan sebagai upaya perlindungan terhadap kesehatan dan keselamatan para tenaga kesehatan.

Kebijakan tersebut meliputi pembatasan jam kerja, memastikan kebutuhan APD cukup, peningkatan mutu pencegahan dan pengendalian infeksi, peningkatan screening, penguatan protokol kesehatan di segala lini, dukungan piskologis, peningkatan daya tahan tubuh, serta pemberian kompensasi/santunan bagi tenaga kesehatan. (har)

Baca juga: Berbagai Kalangan Ramaikan Gerakan Pakai Masker Nasional