Tak Bawa Massa ke KPU, PAS-GUD: Kami Tak Ingin Pilkada Jadi Cluster Baru Covid-19

Bajawa, medikastar.com

Momentum Pilkada 2020 tentunya berlangsung dalam suasana yang sedikit berbeda mengingat dunia saat ini termasuk Indonesia tengah diserang oleh pandemi covid-19. Akan tetapi, sejumlah kepala daerah di Indonesia yang kembali maju dalam Pilkada kali ini terlihat mengabaikan pandemi covid-19 dengan menggerakan ribuan massa saat pendaftaran calon peserta Pilkada 2020. Hal tersebut dikhawatirkan justru berpotensi menjadi kluster baru Covid-19.

Terhadap para kepala daerah yang tidak mematuhi protokoler covid-19, Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Otda) Kemendagri, Akmal Malik, dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Senin (07/09/20) menyatakan bahwa teguran telah diberikan kepada 51 kepala daerah karena “tidak mematuhi protokol kesehatan”. Teguran kepada 51 kepala daerah dan wakilnya tersebut terkait adanya kerumunan massa saat pendaftaran calon peserta Pilkada 2020 yang berpotensi menjadi kluster baru Covid-19.

Di kabupaten Ngada, bupati Ngada, Drs. Paulus Soliwoa yang kembali maju dalam Pilkada 2020 berpasangan dengan Gregorius Upi Dheo (PAS-GUD) terpantau taat pada protokoler covid-19 saat mendaftarkan diri ke KPU Ngada, Jumat (4/9/2020) lalu.

Pasangan calon bupati dan wakil bupati yang didukung oleh partai NasDem dan Demokrat ini tidak membawa massa pendukung saat pendaftaran tersebut. Tercatat hanya sekitar 20 orang yang turut hadir dalam proses pendaftaran paket PAS-GUD tersebut.

 “Kita sama-sama ketahui bahwa pandemi covid-19 sampai saat ini belum selesai. Oleh karena itu, berdasarkan ketentuan Pilkada yang ada saat ini juga tetap memperhatikan protokoler covid-19,” tutur Paulus Soliwoa ketika ditanya oleh wartawan saat itu.

“Kita juga mempertimbangkan bahwa Ngada ini hijau, oleh karena itu kami bersepakat, pasangan calon, partai politik dan pendukung untuk menjaga supaya momentum pilkada ini tidak menjadi cluster baru. Maka kami sungguh-sungguh mengikuti protokoler covid-19 sehingga kami batasi jumlah orang,” lanjutnya.

Terkait hal tersebut, koordinator tim kerja PAS-GUD, Ambrosius Edmundus Awa Nai ketika ditemui oleh media ini, Selasa (08/09/20) menjelaskan bahwa tidak adanya massa pendukung saat pendaftaran di KPU sebenarnya bukan karena pihaknya tidak bisa menggerakan massa.

“Akan tetapi hari ini bumi sedang sakit. Oleh karena itu, sebagai koordinator tim atas dasar saran dari pak Paulus dan pak Gregorius bahwa kita jangan mengerahkan banyak orang yang pada akhirnya terjadi kerumunan massa, sehingga pada hari itu kami hanya sekitar 20 orang saja yang ke KPU. Yang masuk ke dalam gedung KPU hanya sekitar 15 orang,” tuturnya.

Jadi, lanjut Ambrosius, yang dilakukan oleh pihaknya tersebut yakni menaati aturan KPU dan juga mencegah terjadinya kerumunan massa yang berpotensi menjadi cluster penyebaran covid-19.

Lebih jauh, ia juga menghimbau seluruh tim kerja paket PAS-GUD yang ada di 12 kecamatan dan 207 desa di Ngada untuk tetap menjaga dan menaati protokoler covid-19.

“Mari tetap kita jaga kesehatan kita dengan menaati protokoler covid-19 sebab kesehatan kita yang terutama,” ajaknya.

Sementara itu, terkait beredarnya berita bahwa salah satu calon bupati Ngada terkena covid-19, Ambrosius menyampaikan bahwa pihaknya sangat prihatin dengan kondisi tersebut dan berharap agar yang bersangkutan segera pulih kembali.

“Kami dari PAS-GUD sangat prihatin. Semoga saudara kami ini cepat sembuh, cepat sehat dan bisa kembali berkumpul bersama dengan keluarga,” tutupnya. (*/Red)