Terkait Virus Korona, Hasil Simulasi Menunjukkan 65 Juta Orang Akan Meninggal dalam Waktu 18 Bulan

Kota Kupang, MedikaStar.com

Virus korona jenis Novel Korona Virus (2019-nCoV) yang muncul di Wuhan, Cina, menimbulkan kekhawatiran global. Bagaimana tidak, jumlah kasus dan kematian akibat virus ini terus meningkat secara eksponensial.

Fenomena ini nyaris serupa dengan simulasi yang dilakukan tiga bulan sebelumnya oleh Eric Toner, ilmuwan di Johns Hopkins University. Berdasarkan hasil simulasi Toner, wabah mirip virus korona dapat menginfeksi orang di setiap negara hanya dalam waktu enam bulan. Yang lebih mengejutkan, Toner menemukan bahwa penyakit ini dapat membunuh 65 juta orang hanya dalam waktu 18 bulan.

“Saya sudah lama berpikir bahwa virus yang paling mungkin menyebabkan epidemi baru adalah virus korona,” kata Toner, sebagaimana dilansir Business Insider.

“Kita belum tahu seberapa menularnya. Kita tahu ia sedang menyebar dari orang ke orang, tetapi kita tidak tahu sampai sejauh mana. Kesan awal adalah bahwa ia lebih ringan daripada SARS. Di sisi lain, ia mungkin lebih mudah ditransmisikan dibanding SARS, setidaknya dalam komunitas,” jelas dia.

Artikel terkait: Apa itu Virus Korona yang Sedang Menyerang Cina?

Simulasi Toner tidak secara khusus menggunakan virus korona, tetapi virus fiksi yang disebut CAPS yang resisten terhadap vaksin yang mematikan dan mudah menyebar seperti flu. Dan sialnya, virus corona memenuhi semua kriteria tersebut.

Virus fiksi ini dimulai dari peternakan babi Brasil. Wabah ini awalnya menyerang petani yang menunjukkan gejala seperti flu dan gangguan pernapasan.

Dari sana, virus menyebar ke lingkungan perkotaan yang padat dan miskin di Amerika Selatan. Penerbangan dibatalkan, dan pemesanan perjalanan turun 45 persen. Orang-orang mulai menyebarkan informasi palsu (hoaks) di media sosial.

Setelah enam bulan, virus telah menyebar ke seluruh dunia. Dalam waktu 18 bulan, 65 juta orang dalam simulasi tewas. Simulasi itu mengandaikan vaksin belum ditemukan. Hal ini cukup reaistis mengingat penyakit SARS dan MERS yang juga disebabkan oleh virus korona saja belum memiliki vaksin.

Namun, jika vaksin bisa ditemukan, kata Toner, itu akan menjadi game changer untuk kasus ini. “Tapi itu bukan hanya soal identifikasi vaksin. Kita perlu lebih memikirkan bagaimana vaksin diproduksi dalam skala global dan didistribusikan kepada orang-orang,” ujar dia.

Jika para ilmuwan tidak menemukan cara untuk mengembangkan vaksin lebih cepat, lanjutnya, wabah berbahaya akan terus menyebar. Itu karena kota menjadi lebih ramai dan manusia melanggar batas ruang yang sebenarnya disediakan untuk satwa liar, yang akhirnya menciptakan tempat berkembang biak bagi penyakit menular.

“Itu bagian dari dunia yang kita tinggali sekarang,” kata Toner. “Kita berada di zaman epidemi.”

Sejauh ini, proyeksi yang dilakukan Johns Hopkins University hampir sama dengan apa yang sedang terjadi. Misalnya, simulasi itu memprediksikan per 27 Januari 2020, akan ada 71 kematian dan 3.460 kasus. Sedangkan berdasarkan data real-time yang diakses melalui gisanddata.maps.arcgis.com, yang juga dikembangkan oleh John Hopkis University, per 27 Januari (pukul 18.30) sudah ada 80 kematian dan 2.794 kasus. Jumlah kasus memang masih lebih rendah, tapi jumlah kematian berada di atas hasil proyeksi.

Jumlah kematian terbanyak masih berasal dari lokasi di mana virus itu berasal, yakni di Provinsi Hubei, dengan 76 kematian. Kematian lainnya terjadi di Provinsi Henan, Sanghai, Heilongjiang, dan Hebei.

Negara-negara lain yang sudah terjangkit virus ini antara lain Hongkong (8 kasus), Thailand (8 kasus), Macau (6 kasus), Amerika Serikat (5 kasus), Australia (4 kasus), Jepang (4 kasus), Malaysia (4 kasus), Singapura (4 kasus), Taiwan (4 kasus), Korea Selatan (3 kasus), Prancis (3 kasus), Vietnam (2 kasus), Kanada (1 kasus), dan Nepal (1 kasus). (ens)

Baca juga: 1.975 Kasus Akibat Virus Corona di China, Korban Terus Berjatuhan!