Ulat Pemakan Plastik, Harapan Bagi Masa Depan Bumi

Kota Kupang, MedikaStar.com

Para peneliti di Eropa telah menemukan bahwa ulat lilin memiliki kemampuan mencerna plastik. Penemuan itu memberikan harapan pada kemajuan bioteknologi yang bisa membantu mengatasi penumpukan terus menerus sampah plastik, salah satu polutan paling keras kepala di dunia.

Sampah plastik tidak saja menjadi isu lingkungan karena sifatnya yang sulit terurai. Ia juga berpotensi menjadi masalah kesehatan karena mikroplastik dengan ukuran sebesar 0,3 hingga 5 milimeter bisa masuk ke dalam tubuh manusia dan menimbulkan penyakit seperti kanker, stroke, serta penyakit pernapasan.

Selain itu, sampah plastik juga telah mengancam kelangsungan hidup biota laut. Sebab, selain bisa melukai, sampah plastik juga rentan termakan oleh hewan, seperti ikan, paus, dan penyu. Studi yang dilakukan oleh US National of Medicine National Institutes of Health mengungkapkan, setidaknya ada 693 spesies di lautan yang terdampak sampah plastik, dengan saat ini diperkirakan lebih dari 51 triliun partikel mikroplastik telah mencemari lautan.

Dilansir dari Zamaneid, penemuan ulat pemakan plastik oleh pakar biologi evolusi di Institute of Biomedicine and Biotechnology di Cantabria, Spanyol, Federica Bertocchini, terjadi secara tidak sengaja.  Bertocchini yang hobi beternak lebah menemukan masalah hama kupu-kupu lilin (Galeria mellonella) yang bertelur di dalam sarang lebah. Larvanya hidup 6 minggu di dalam sarang lebah sebagai hama, sebelum menetas jadi kupu-kupu.

Karena geram dengan hama ulat lilin (dinamai demikian karena kebiasaanya memakan lilin lebah) tersebut, Bertocchini membersihkan sarang lebah, dan memasukkan ulatnya ke dalam kantong plastik polyethilene. Tapi hanya dalam waktu singkat, ratusan ulat memakan kantong plastik dan membuat banyak lubang.

Ia kemudian melakukan uji coba untuk mengetahui seberapa cepat ulat-ulat tersebut memakan plastik. Ia menaruh 100 ekor ulat dalam sebuah kantong plastik berbobot 300 gram. Dalam pengamatan selama 12 jam, 100 ekor ulat itu memakan sekitar 92 gram plastik polyethilene. Ini merupakan rekor mengagumkan, karena bakteri pemakan plastik menguraikan plastik jauh lebih lambat.

Grafik kecepatan memakan plastik dari ulat lilin yang diuji coba oleh Frederica Bertocchini (Foto/Zamaneid)

Menyadari potensi ulat tersebut, Bertocchini kemudian menghubungi Paolo Bombelli dan Christopher J. Howe, rekan-rekannya di Universitas Cambridge. Setelah melakukan penelitian, mereka kemudian menerbitkan sebuah makalah di Current Biology.

Dalam penelitian itu, mereka melumat beberapa ekor ulat dan membubuhkannya pada plastik polyethilene. Hasilnya, plastik mulai berlubang dimakan bubur ulat. Hal itu menunjukkan bahwa ada beberapa bahan kimia atau kombinasi bahan kimia di dalam ulat yang menyebabkan plastik terdegradasi.

“Kami pikir ada beberapa enzim yang terlibat. Kami belum tahu apakah itu diproduksi oleh cacing atau diproduksi oleh bakteri di usus cacing,” kata Howe sebagaimana dilansir The New York Times. Menurutnya, enzim misterius itu memecah rantai panjang atom karbon di pusat plastik menjadi molekul yang lebih kecil.

Para ilmuwan sedang berupaya mengisolasi masing-masing unsur-unsur dalam ekstrak ulat untuk mempersempit penemuan bahan kimia yang merusak ikatan plastik. Jika mereka mampu mengisolasi enzim itu, maka tersedia peluang untuk mendapatkan gen yang mengaturnya dan memasukkan gen itu ke dalam bakteri. Karena itu akan lebih mudah daripada membudidayakan ulat.

“Akhirnya, bakteri itu dapat digunakan sebagai dasar dari proses bioteknologi,” kata Howe.

Penemuan para ahli tersebut membawa angin segar bagi lingkungan. Karena bagaimanapun juga, produksi sampah plastik kian meresahkan karena semakin meningkat setiap tahun. Namun, bukan berarti kita boleh bebas buang sampah plastik sembarangan. (ens)

Baca juga: Gubernur NTT: Bupati yang Tidak Peduli Pariwisata akan Merana Seumur Hidup