Vaksinasi Rendah, Proteksi Siswa di Kota Kupang Melalui Prokes Saat PTM Jadi Kunci

Kota Kupang, Medikastar.com

Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di Kota Kupang sudah mulai dilakukan sejak minggu terkahir bulan September. PTM terbatas mulai dilakukan setelah PPKM di Kota Kupang turun ke level 3 pada pertengahan September dan kini turun lagi ke level 2.

Penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Kupang menjadi angin segar yang diikuti dengan penurunan jumlah pasien aktif. Angka vaksinasi pun terus mengalami peningkatan. Bahkan tingkat vaksinasi di Kota Kupang jauh melampaui daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur.

Setelah beberapa kali mengalami penundaan pelaksanaan PTM, mulai dari bulan Juli 2021, kini para siswa sudah bisa diperbolehkan untuk belajar di Sekolah. Kesempatan itu tentunya diberikan dengan syarat penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore saat meninjau pelaksanaan PTM pada 20 September lalu mengaskan pentingnya penerapan protokol kesehatan. Wali Kota yang akrab disapa Jeriko itu memantau kesiapan Sekolah berupa ketersediaan fasilitas cuci tangan, ketersedian hand sanitizer, alat pengukur suhu dan yang tak kalah penting adalah kesiapan satgas Covid-19 tingkat sekolah.

Pemerintah Kota Kupang tampak sangat berhati-hati dalam pelaksanaan PTM. Keselamatan siswa dan guru menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan PTM ditengah situasi pandemi Covid-19. Karena itu, Pemerintah Kota Kupang pun melakukan pengawasan yang sangat ketat bagi Sekolah yang diizinkan melaksanakan PTM.

Setalah kunjungan Wali Kota, Wakil Wali Kota Kupang, dr. Hermanus Man pun menyempatkan diri memantau kesiapan dan pelaksanaan PTM di Sekolah. Saat mendatangi beberapa SD dan SMP pada 21 September, Hermanus secara tegas meminta proteksi bagi siswa dan guru melalui penerapan protokol kesehatan.

Siswa diminta untuk tetap menjaga jarak. Pengawasan oleh guru tentu sangat penting, sehingga siswa tidak berkerumun saat berada di Sekolah. Untuk mengantisipasi adanya kerumunan, kantin sekolah tidak diizinkan untuk dibuka dan siswa pun diminta untuk membawa bekal dari rumah.

Hermanus mengingatkan, apabila dalam pembelajaran tatap terdapat pelanggaran prokes, maka kegiatan belajar mengajar tatap muka akan dihentikan dan pembelajaran akan kembali dilakukan dari rumah.

Harus diakui, penerapan protokol kesehatan yang ketat menjadi langkah melindungi siswa dan guru selama kegiatan belajar. Apalagi saat ini, vaksinasi untuk anak dan remaja di Kota Kupang masih sangat rendah.

Hermanus kepada medikastar.com pada minggu terkahir bulan September mengakui hal tersebut. Meski Kota Kupang sudah mendekati 80 persen untuk dosis pertama, vaksinasi untuk anak dan remaja sampai akhir September masih berada pada angka 14,59 persen. Artinya baru 5.852 siswa menerima vaksin dosis pertama hingga akhir September dari total 40.118 anak dan remaja yang harus menerima vaksin.

Hermanus pun menargetkan, pada bulan Oktober ini vaksinasi bagi anak dan remaja bisa diselesaikan. Hal itu mengingat kerja sama yang baik antara Sekolah dan orang tua siswa yang dinilai akan sangat membantu dalam percepatan vaksinasi.

“Yang penting suplay vaksin (tersedia). Kenapa? Karena sekolah itu organisasi yang well organized, manajemennya bagus, tinggal kita omong dengan Kepala Sekolah dan orang tua. Terbukti ada satu sekolah yang dalam satu hari bisa memvaksin 1.000 lebih siswa,”kata Hermanus.

Belum Semua Sekolah Laksanakan PTM

Meski sudah dilaksanakan sejak 20 September, belum semua sekolah, khusus SD dan SMP di Kota Kupang melaksanakan kegiatan PTM. Sekolah yang melaksanakan PTM adalah sekolah yang dinilai telah siap berdasarkan penilaian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Dumuliahi Djami menjelaskan, dari 154 SD/MI di Kota Kupang, 109 satuan pendidikan diizinkan melaksanakan PTM. Untuk jenjang SMP, 30 dari 56 SMP di Kota Kupang dinilai layak melaksanakan PTM tahap pertama.

Salah satu SMP yang belum melaksanakan PTM adalah SMPN 8 Kota Kupang. Blasius Juni selaku Kepala Sekolah saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (6/10/2021) menjelaskan, pihaknya dalam tahapan persiapan untuk pelaksanaan PTM.

“Kita dalam tahapan persiapan peralatan Covid-19, Satuan tugas (Covid-19 tingkat Sekolah), jadwal pelajaran, dan kesiapan guru,” jelas Blasius.

Persiapan yang matang, menurut Blasius, akan sangat membantu kelancaran PTM. Tingkat vaksinasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan menjadi salah satu faktor penentu belum dilaksanakannya PTM di SMPN 8 Kota Kupang.

Beberapa pendidik dan tenaga kependidikan, kata Blasius, belum menerima vaksinasi. Hal itu disebabkan karena mereka memiliki penyakit bawaan yang membuat mereka tidak bisa divaksin.

“Vaksinasi untuk siswa itu pilihan. Mereka bisa vaksin bisa juga tidak. Tapi bagi guru kita minimal 90 persen sudah harus divaksin,” jelas Blasius.

Dengan jumlah siswa sebanyak 1.027 orang, Blasius memastikan PTM akan dilaksanakan dengan sistem shift. Dan sesuai edaran Wali Kota Kupang Nomor :068/HK. 443.1/IX/2021, pelaksanaan PTM tahap pertama jenjang SMP khusus siswa kelas VII dan SD untuk kelas I.

Pengawasan Ketat

Pengawasan yang ketat selama pelaksanaan PTM perlu ditingkatkan. Pengawasan itu untuk menghindari adanya kerumunan siswa saat berada di Sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Dumuliahi Djami menegaskan hal itu berulang kali. Pengawasan akan dilakukan oleh tim dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang. Guru pun diminta meningkatkan pengawasan.

Selain SD dan SMP, SMA di Kota Kupang pun sudah mulai melaksanakan PTM. SMAN 2 Kupang yang bersebelahan dengan SMPN 8 Kota Kupang menjadi salah satu SMA yang menggelar PTM terbatas.

Disamping penerapan protokol kesehatan yang ketat, pengawasan di SMAN 2 Kupang pun ditingkatkan. Kepala SMAN 2 Kupang, Maximilian R.N. Nggeolima mengatakan, selama sepekan melaksanakan PTM, dalam sehari dirinya bisa memantau siswa di ruangan sampai 6 kali. Hal itu semata untuk memastikan siswa tidak berkerumun.

Max sapaan akrabnya sepakat dengan Blasius terkait tingkat disiplin siswa yang mengalami penurunan. Apalagi siswa sudah lama tidak saling bertemu, mereka akan berusaha untuk bisa bercengkrama dengan sejawat mereka.

“Kelalaian (tidak menerapkan protokol kesehatan) itu pasti ada. Tapi sebagai guru kita harus mampu mengarahkan, menjaga agar mereka tidak berkerumun,” kata Max.

Max menambahkan, fasilitas kesehatan sudah lama dipersiapkan. Termasuk vaksinasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan pun sudah memadai. begitu pula vaksinasi bagi siswa SMAN 2 Kupang.

“Tentunya kita tidak ingin ada kluster baru di sekolah. Karena itu penerapan protokol kesehatan saat berada di Sekolah adalah hal wajib,” kata Max.