Valentine Day: Kisah Tragis yang Dirayakan secara Romantis

Di seluruh dunia, Hari Valentine atau Valentine Day, yang diperingati setiap tanggal 14 Februari, dirayakan dengan ungkapan kasih sayang dalam aneka bentuk. Bunga, kartu, cokelat, dan bahkan puisi menjadi semacam simbol cinta dari seorang kepada orang yang dikasihinya.

Tradisi mengirimkan pesan cinta seperti itu muncul sekitar 1500-an, dan pada akhir 1700-an mulai dicetak dalam bentuk kartu. Kartu Valentine komersial pertama di Amerika Serikat dicetak pada pertengahan 1800-an. Kartu-kartu tersebut biasanya menggambarkan Cupid, dewa cinta Romawi, yang digambarkan sebagai malaikat kecil bertubuh tambun dengan busur dan anak panah yang membidik hati.

“Bagaimana bisa seorang martir yang dipenggal kepalanya dirayakan dengan simbolisasi yang yang romantis seperti itu?” JD Flynn, kepala editor CAN, Kantor Berita Katolik, menulis dalam salah satu artikelnya.

Menurut Flynn, romantisme yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari sangat jauh dari kisah hidup St. Valentine, seorang martir Kristen pada awal-awal abad yang dipukul dan dipancung karena imannya.

Romantisme semacam itu juga, kata dia, sangat jauh dari ritual kesuburan bangsa Romawi (Lupercalia) yang juga dirayakan pada 14 Februari. Di dalam ritual itu, para pria berlari melewati jalan-jalan dan menampar wanita dengan daging hewan yang baru saja dikorbankan.

Kalau begitu, apa yang membuat orang suci dengan kematian mengerikan seperti itu dikaitkan dengan liburan yang dipenuhi cinta, coklat, bunga dan Cupid?

Menurut Catholic Encyclopedia, setidaknya ada tiga St. Valentine yang berbeda yang tercatat dalam sejarah awal para martir pada tanggal 14 Februari.

Pertama, kisah seorang St. Valentine dari Afrika, seorang Kristen awal yang dianiaya bersama dengan teman-temannya. Namun, tak banyak yang diketahui tentang orang suci ini.

St. Valentine, salah satu martir Katolik yang pestanya dirayakan setia tanggal 14 Februari (Foto/Istimewa)

Kedua, St. Valentine, seorang imam di Roma. Dan yang ketiga adalah St. Valentine yang adalah seorang uskup Ineramna (kini Terni). Kedua orang ini dianiaya dan dibunuh karena iman mereka, dan dimakamkan  di suatu tempat di Via Flaminian. Ada yang menganggap kedua orang ini merupakan orang yang sama.

“Dia adalah seorang imam dan tabib Romawi yang menjadi martir atau dia adalah Uskup Terni, Italia, yang juga menjadi martir di Roma, sekitar 270 Masehi pada masa Claudius the Goth (kaisar Romawi pada saat itu),” kata Pater Brendan Lupton, profesor Sejarah Gereja di Seminari Mundelein di Illinois, AS.

Kematian St. Valentine – entah imam atau uskup –  yang dibunuh pada 14 Februari, sekarang dirayakan sebagai Hari Valentine. Menurut sebagian besar kisah, ia dipukuli dan kemudian dipenggal, setelah beberapa waktu dipenjara.

Dari kisah itu, pengabdian kepadanya menyebar luas. Paus Julius I mendirikan basilika yang didedikasikan untuk St. Valentine yang dibangun sekitar dua mil dari Roma, di tempat di mana dia dimakamkan. Tengkoraknya sekarang disimpan di Basilika Santa Maria di Roma, dan dihiasi dengan mahkota bunga pada hari peringatannya.

Pater Lupton mengatakan bahwa St. Valentine adalah salah satu martir Kristen pertama ketika dimulainya penganiayaan terhadap orang Kristen pada zaman kekaisaran Romawi.

“Kurang lebih pada waktu itu, terutama sekitar pertengahan abad ketiga, ada semacam krisis di dunia Romawi yang dikenal sebagai Krisis Abad Ketiga, di mana dunia Romawi benar-benar dalam bahaya besar,” kata Lupton kepada CNA.

“Ada sejumlah besar krisis. Ada serangan biadab pada saat itu. Ada banyak ketidakstabilan politik. Jadi hal semacam itu memicu penganiayaan umum pertama terhadap orang-orang Kristen. Sebelumnya, ada penganiayaan, tetapi sifatnya lokal dan sporadis,” lanjutnya.

Lalu, bagaimana hubungan kehidupan St. Valentine, dengan kebiasaan seperti pertukaran kartu, atau perayaan cinta romantis yang bertahan hingga kini?

Menurut Pater Lupton, ada catatan yang mengatakan bahwa St. Valentine ini berteman dengan putri sipir penjara, tempat dia dipenjara, dan ketika dia meninggal, dia meninggalkan sebuah catatan bertuliskan ‘From Your Valentine’. Ada yang menyebut, putrid sipir tersebut disembuhkan oleh St. Valentine dari kebutaan.

Catatan lain menyebutkan bahwa kebiasaan bertukar kartu pada Hari Valentine merupakan bentuk peringatan bagaimana St. Valentine mengirim catatan kepada sesama orang Kristen dari dalam penjara.

“Cerita lain adalah bahwa Claudius the Goth sebenarnya telah melarang pernikahan di antara para prajurit. Dia merasa bahwa jika tentara menikah, mereka tidak akan terlalu berbakti kepada kerajaan, terutama pada waktu itu mereka membutuhkan pasukan sebanyak mungkin. Jadi ada legenda bahwa Valentine sebenarnya menikahkan para tentara secara sembunyi-sembunyi,” kata Pater Lupton.

Korelasi lain yang bisa dipakai terkait kebiasaan romantis tersebut, lanjutnya, adalah karena musim kawin burung yang diperkirakan dimulai sekitar pertengahan Februari.

Masih menurut Pater Lupton, Hari St. Valentine yang dirayakan hingga hari ini juga dilembagakan sebagai pengganti liburan Romawi pada waktu itu, yang disebut Lupercalia

Lupercalia adalah pesta populer yang dirayakan di Roma, di mana sekelompok pemimpin pagan mengorbankan berbagai jenis hewan dan kemudian berlari melalui jalan-jalan Roma, menampar wanita muda dengan kulit binatang. Ritual itu dianggap menjamin kesehatan dan kesuburan mereka sepanjang tahun itu.

“Hingga kemudian, Paus Gelasius, sekitar abad kelima … menggantikan Lupercalia dengan Hari Santo Valentine,” kata Lupton.

Bagian dari Hari Valentine, lanjutnya, sama sekali tidak terkait dengan St. Valentine yang sebenarnya. Dia tidak, misalnya, berkeliling menembak orang (atau bahkan dalam hal ini hati) dengan busur dan anak panah, seperti gambaran Dewa Cinta Cupid.

Dia juga tidak membagikan cokelat kepada orang yang dicintainya; St. Valentine hidup sebelum coklat ditemukan.

Tetapi, orang-orang Kristen masih dapat belajar dari contoh St. Valentine, kata Lupton, bahkan jika mereka tidak berisiko menjadi martir.

“Anda bisa mengatakan bahwa dalam beberapa hal, meskipun hanya sedikit yang dipanggil untuk mati sebagai martir, dalam hampir setiap tindakan cinta, ada unsur pengorbanan diri, penyerahan diri,” katanya.

Jadi, sudahkah Anda mengirim pesan cinta kepada orang yang Anda kasihi hari ini?

Selamat merayakan Hari Valentine…

Baca juga: Lepas 116 Dokter Internsip, NTT Kembali Terima 101 Dokter Internsip Baru