Warga Belu Antusias Sambut Program Layanan Kesehatan Gratis Paket SEHATI

Atambua, MedikaStar.com

Kesehatan masih menjadi problem yang dikeluhkan sebagian masyarakat Kabupaten Belu, Provinsi NTT. Biaya pengobatan yang mahal serta tidak terjaminnya mereka dalam Badan Penyelenggara Janiman Sosial (BPJS) Kesehatan membuat mereka kerap menghindari fasilitas layanan kesehatan meskipun sedang sakit atau membutuhkan pertolongan kesehatan.

Oleh karena itu, program kesehatan gratis menggunakan KTP yang ditawarkan bakal calon Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin dan Wakil Bupati Belu Aloisius Haleserens yang dikenal dengan Paket SEHATI, mendapat sambutan hangat di masyarakat.

Beberapa warga Dusun Lamasi, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, yang ditemui mengatakan bahwa banyak dari mereka yang tidak memiliki BPJS Kesehatan maupun Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Kami di sini kesulitan itu BPJS. Banyak yang tidak punya BPJS. Ada yang punya tapi tidak berlaku (aktif) lagi,” kata Florensia Lese, Rabu (21/07/20).

Hal senada disampaikan Okto Bere. Menurutnya, belum semua warga tidak mampu mempunyai BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan KIS. “Masyarakat di sini banyak yang belum punya BPJS,” ujarnya.

Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, ketiadaan BPJS Kesehatan dan KIS membuat mereka tidak berani berobat ke fasilitas kesehatan karena takut dikenai tarif mahal oleh fasilitas layanan kesehatan.

“Ibu-ibu hamil kalau mau berobat takut kalau tidak punya KIS dan BPJS. Mereka memilih bersalin di rumah karea takut ke RS Umum Atambua bayar banyak, biayanya mahal,” sambung Dionesia Bete.

Apa yang disampaikan Dionisia mengkonfirmasi kejadian beberapa bulan lalu. Seperti diberitakan Kompas.com pada 13 Maret 2020 lalu, sebanyak lima warga Kabupaten Belu meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD). Pihak keluarga keluarga takut membawa para korban itu ke rumah sakit  karena tidak mempunyai BPJS.

Karena itu, menurut warga Dusun Lamasi, Program Kesehatan Gratis dengan basis Nomor Induk Kependudukan (NIK) atau KTP yang ditawarkan bakal calon Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin dan bakal calon Wakil Bupati Belu Aloisius Haleserens, akan sangat membantu mereka.

“Kami tertarik dengan Program Kesehatan Gratis ini karena itu akan membantu kami masyarakat kecil yang susah. Kami ini petani sayur sederhana. Harga jual sayur juga tidak menentu. Jadi pengobatan gratis dengan KTP ini sesuai dengan kebutuhan dan keinginan hati kami,” terang Okto.

Dionisia Bete menambahkan, Program Kesehatan Gratis dari Paket Sehati akan meminimalkan risiko-risiko kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat kecil ketika harus bertahan di rumah karena ketiadaan biaya untuk berobat ke rumah sakit.

“Ibu hamil itu risikonya tinggi kalau melahirkan di rumah. Karena itu, kami sangat senang dengan program kesehatan gratis ini,” ujarnya.

“Program ini sangat memperhatikan masyarakat kecil sehingga ke depan fasilitas kesehatan bisa terjamin untuk kami,” sambung Yustina Kehi.

Seperti diberitakan di media massa beberapa waktu lalu, salah satu program unggulan Paket Sehati adalah kesehatan gratis bagi masyarakat tidak mampu.

“Program prioritas atau unggulan kami di bidang Sumber Daya Manusia, salah satunya adalah sehat untuk semua, yaitu pelayanan kesehatan gratis dengan KTP. Pakai KTP berobat gratis untuk rakyat,” tutur dr. Agustinus Taolin.

Menurut dr. Agus, pengobatan gratis dengan KTP adalah bahasa sederhana untuk program pembiayaan layanan kesehatan yang menggunakan APBD. Jadi masyarakat tidak mampu yang belum punya BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) dari pemerintah pusat akan ditanggung oleh pemerintah daerah  melalui skema PBI APBD yang iurannya dijamin oleh pemerintah daerah.

Program ini urgen, karena menurut dr. Agus, masih banyak warga Kabupaten Belu yang termasuk warga tidak mampu yang belum dijamin oleh BPJS Kesehatan kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Program kesehatan gratis dengan skema seperti ini sudah diterapkan di beberapa kabupaten/kota di Indonesia. Di antaranya Pemerintah Kota Bogor dan Bekasi, termasuk Kabupaten Malaka, kabupaten yang berdampingan dengan Belu. Dan masyarakat kecil sangat terbantu dengan program ini. Tidak heran masyarakat sangat antusias dengan program ini. (red)

Baca juga: Achmad Yurianto Tak Lagi Jadi Jubir Covid-19, Beginilah Perjalanan Karirnya